
Yara segera meraih tangan Yila tanpa mengganti baju yang dicobanya di fitting room. Yara langsung membawa Yila ke meja Kasir dan membayar baju yang kini sedang dipakai Yila. Hanya mencabut labelnya dan baju itu sudah menjadi milik Yila.
"Mbak, minta plastik satu, ya. Buat baju istri saya yang masih ditinggal di fitting room," ujar Yara seraya berlalu ke fitting dan mengambil baju Yila yang masih di tinggal di dalam fitting room.
Yila segera memasukkan bajunya ke dalam kantong plastik yang diberikan pelayan toko, lalu segera keluar. Saat keluar dari fitting room, Yila berpapasan dengan perempuan yang menabrak Yara tadi di muka pintu mall, sekaligus yang ditolongnya tadi. Sejenak Yila menatap sembari menyunggingkan senyum ramah.
"Mbak, yang tadi menabrak suami saya, ya? Dan yang saya bantu berdiri itu? Mbak mau ke ruang ganti juga? Silahkan, ruangan ini sudah kosong. Kalau begitu sya pamit, ya." Yila segera berjalan menuju Yara yang sudah menunggunya di depan mall.
"Tunggu!" cegah perempuan itu menahan langkah Yila. Yila menoleh dan menatap Yara.
"Bisa kita bicara sebentar?" tanyanya sembari memberi kode kepada Yila supaya ikut melipir di balik gaun-gaun panjang. Sejenak Yila bingung, tapi lengan Yila sudah ditarik perempuan itu.
"Jangan takut, aku mohon. Aku hanya ingin bicara sebentar denganmu." Perempuan itu diam sejenak mempersiapkan kata-kata yang tepat untuk melanjutkan pembicaraannya tadi.
"Mohon maaf, Mbak. Mbak mau bicara apa? Saya sedang ditunggu suami saya, jadi saya mohon Mbak segera bicara," pinta Yila memohon.
"Kamu istrinya Mas Yara?" tanyanya langsung. Dengan spontan Yila mengangguk seraya menoleh ke arah depan mall di mana Yara sedang menunggunya.
"Kenalkan nama aku Nita, aku adalah mantan istri Mas Yara sepuluh tahun yang lalu. Kami masih saling mencintai, oleh karena itu kami saat ini dipertemukan." Yila bengong sesaat setelah perempuan yang mengaku bernama Nita itu menuturkan siapa sebenarnya dirinya.
"Lalu apa tujutan Mbak berbicara terhadap saya?" tanya Yila tidak paham dengan yang disampaikan Nita.
__ADS_1
"Maaf kalau di sini aku berbicara terus terang sama kamu. Sebetulnya aku dan Mas Yara masih saling mencintai. Dan sampai saat ini aku masih mencintainya. Mas Yara juga sama masih mencintai aku, itu sebabnya dia menduda sepuluh tahun hanya karena belum bisa melupakan aku wanita yang dicintainya," bebernya membuat jantung Yila mendadak berdetak kencang. Kemudian aliran darahnya seakan ingin berhenti, Yila mendadak lemas seakan tidak berdaya. Berdiri mematung setelah mendengar pengakuan Nita barusan.
Nita nampak menyunggingkan senyum, dia bahagia Yila mulai terpancing emosinya. "Untuk itu kamu berhati-hati saja, suamimu bisa saja di belakangmu bermain api lagi, dan itu bersamaku. Buktinya saat di mall Cianjur kami bertemu, lalu di mall ini kami bertemu juga. Itu apa artinya coba? Artinya Mas Yara memang sengaja ingin bertemu denganku di sela bulan madu kalian," ungkapnya tanpa rasa bersalah.
Yila menatap Nita sejenak lalu mengalihkan pandangannya ke depan, di sana Yara sudah gelisah menunggunya. "Jika memang Mas Yara janjian dengan Mbak, kenapa sejak tadi saya tidak pernah merasa kehilangan Mas Yara? Mas Yara justru mepet-mepet ke saya saat tadi bertemu Mbak. Ya, sudah Mbak Nita, kalau begitu saya pamit dulu. Terimakasih atas infonya." Yila membalikkan tubuhnya dengan pelan melangkahkan kaki menuju Yara. Namun setelah beberapa langkah, Yila menghentikan kakinya dan kembali menoleh pada Nita yang masih berada di situ dengan wajah memendam kecewa.
"Perlu Mbak ingat, jangan pernah berusaha masuk dan mengganggu rumah tangga orang lain, kalau Mbak tidak ingin mendapatkan karmanya," peringat Yila, meskipun lemah, tapi bisa didengar Nita. Dengan langkah yang cepat, Yila segera menuju Yara. Nita menggeram kesal, hatinya kini seakan dilelucon perkataan Yila.
"Ya ampun, Yila ... kamu kemana saja, lama banget," omel Yara sedikit kesal, wajahnya kini berubah memerah. Yila tidak membalas, dia diam. Namun hatinya sejak tadi sedang memikirkan perkataan Nita tadi.
"Ayo, kita ke toko emas dulu. Aku mau ambil sesuatu di sana." Yara segera meraih tangan Yila dan menariknya membawa ke sebuah toko emas.
Setelah di sana, Yara menerima sebuah tote bag dari si pemilik toko. "Ok, makasih Bang," ujarnya seraya menjinjing tote bag pemberian pemilik toko emas itu. Yara dan Yila segera keluar dari toko emas itu diawasi sepasang mata yang cemburu melihat perhatian Yara pada Yila di sampingnya.
Yara menarik lengan Yila seakan tidak ingin lepas. Tiba di sebuah toko es krim, Yara menghentikan langkahnya dan membeli es krim kesukaannya, untuknya juga untuk Yila.
"Sekarang kita menuju villa," ucapnya seraya melangkahkan kakinya ke parkiran mobil. Di dalam mobil, Yara tidak segera menyalakan mesin mobil. Dia meletakkan tote bag di sampingnya lalu perhatiannya beralih pada kresek es krim yang dibelinya tadi.
"Sekarang kita makan es krim dulu, kalau menunggu di villa aku takut keburu mencair. Tolong kamu bukakan satu untuk aku dan satu untuk kamu," titahnya seraya menyodorkan sebatang es krim favorit.
Yila memberikan sebatang es krim yang sudah dibuka Yila, coklat kriuknya seakan meleleh saat Yara mulai menggigit digigitan pertama.
__ADS_1
"Krauk." Seperti itu bunyinya.
"Sayang, bukalah. Nanti mencair tidak enak lhoo." Yara mengingatkan Yila yang masih berusaha membuka kemasan es krim. Yila mulai dengan gigitan pertama dan bunyi krauk yang ditimbulkan dari lapisan coklat es krim yang tebal itu bikin happy dan meleleh.
Tidak sadar saat gigitan kedua lapisan coklat yang tebal itu patah dan jatuh ke pangkuan Yila. Yara segera memungutnya dan menyingkirkan dari pangkuan Yila.
"Potongan coklatnya jatuh, kamu terlalu bersemangat mengigitnya. Oh, ya ampun. Kenapa sampai belepotan begitu di bibir kamu, apakah kamu tidak sadar lapisan dalam es krimnya meleleh di bibir kamu?" tukasnya seraya berusaha mencari tisu. Mendadak tisu yang ingin dicarinya menghilang.
"Duh, di mana lagi tisunya?" gerutunya kesal. "Sudahlah tidak perlu pakai tisu, pakai cara ini saja supaya gampang," ujarnya seraya mengelap bibir Yila dengan tangannya.
"Makanya hati-hati makan es krimnya, jangan seperti anak kecil," peringatnya seraya memasukkan es krim rasa vanila itu pada mulutnya. Dan tidak berapa lama es krim punya Yara telah habis.
Yara mengawasi Yila yang sedang makan es krim dengan pelan-pelan. Sebetulnya di dalam kresek itu masih ada es krim, tapi Yara malas untuk membukanya.
"Coba es krim coklatnya aku mencicipi, sepertinya punyamu masih banyak, apakah kamu tidak pandai makan es krim? Harusnya tadi makan es krimnya satu berdua satu berdua biar sama-sama habisnya," ungkap Yara membuat Yila menoleh dan menghentikan jilatan dan gigitannya pada stik es krimnya.
"Mas Yara," ujarnya seraya menyodorkan es krim yang masih dipegangnya ke mulut Yara. "Tapi ini sisa saya, apakah Mas Yara tidak jijik?" Yila bertanya sungkan. Yara menatap Yila dalam lalu tersenyum.
"Jangankan bertukar es krim, bertukar saliva denganmu saja aku tidak merasa jijik, kamu istri aku dan pakaian aku," tegasnya seraya meraih es krim yang disodorkan Yila oleh mulutnya. Mendengar itu, Yila sejenak tersipu malu. Pada akhirnya Yila dan Yara saling suap-suapan es krim. Pada suapan terakhir adalah bagian Yila, tanpa sadar saat Yila menggigit, bersamaan dengan itu Yara bibir Yara juga menghampiri dan nyosor menggigit sisa es krim yang digigit Yila, sehingga bibir Yara berhasil menggigit bibir Yila.
Yila tersentak. Namun dia tidak bisa mencegah saat Yara menikmati lelehan es krim terakhir di bibir Yila. Lama kelamaan Yara tersadar, dia malah sengaja meraih tengkuk Yila dan mencium lebih dalam bibir Yila serta dinikmatinya. Bersamaan dengan itu sebuah mobil melaju pelan di samping mobil Yara seraya melihat jelas dari jendela kegiatan Yila dan Yara di dalam mobil.
__ADS_1
Yara benar-benar menikmati ciuman itu, sampai tidak mau melepaskan tengkuk Yila. Nita pergi bersama mobilnya dengan perasaan kesal.