
Esok tiba, perlakuan manis Yara membuahkan hasil. Yila mulai memperlihatkan sikap yang sedikit ceria dan ngobrol sedikit-sedikit bersama mertuanya. Kalau seperti ini alangkah lebih baiknya Yara menahan kepulangan mereka ke rumah sampai besok.
"Ra, istrimu Yila sudah lumayan ceria lagi, dia mulai tersenyum. Jadi kalau menurut Papa, tinggallah untuk beberapa hari lagi di sini, Papa ingin Neng Yila benar-benar sembuh dari rasa shocknya," ujar pak Riza memberi usulan yang bagi Yara baik juga setelah melihat menantunya memperlihatkan gelagat yang lebih baik.
"Iya, Pa, nanti Yara bilang dulu ke Yila, apakah dia mau atau tidak," sahut Yara.
Setelah ngopi pagi bersama Papanya, Yara bergegas menuju ruang tengah, di sana Mamanya dan Yila tengah asik ngobrol, entah apa yang mereka obrolkan yang jelas Yara melihat Yila tersenyum kembali.
"Yila mulai tersenyum, aku rasa perubahannya semakin baik dengan tinggal di sini," pikir Yara diiringi senyum bahagia.
Sore harinya, Yara mengajak Yila ke Bidan untuk diperiksa kehamilannya. Yila awalnya diam, tapi lama-kelamaan setuju.
"Tapi Mas, pulangnya kita ke rumah saja, ya?" Permintaan Yila sontak membuat Yara diam terpaku, dia tadinya masih mau mengajak Yila nginap di rumah Papa dan Mamaya. Namun, kini Yila memintanya untuk pulang, terpaksa Yara harus mengikuti kemauan Yila sebab Yara tidak mau mood Yila buruk lagi. Yara sebisa mungkin harus mengikuti kemauan Yila supaya kondisi kejiwaan Yila akibat shocknya tidak kembali terguncang.
__ADS_1
"Ok, nanti kita pulang ke rumah, ya. Sekalian saja sekarang pamit sama Papa dan Mama." Yila mengangguk tanda setuju.
Saat berpamitan, Bu Rosi nampak sedikit kecewa dan menyayangkan, padahal dia sangat senang dengan kehadiran anak menantu di rumahnya. Suasana rumah jadi tambah hangat dan ceria.
"Kenapa kalian tidak nginap lagi saja d rumah ini," heran Bu Rosi menyesalkan permintaan menantunya yang mengajak pulang. Baru sehari nginap sudah mengajak pulang lagi.
"Mama jangan bersedih seperti itu, rumah kami dari sini bisa ditempuh dengan jalan kaki," tukas Yara. Setelah berpamitan pada kedua orang tua Yara, mobil Yara segera beranjak dan mengantar Yila dengan tatapannya yang bahagia.
Sebelum Yara membawa yila pulang ke rumah, tanpa meminta persetujuan Yila, Yara membawa Yila ke sebuah tempat. Di mana terdapat berbagai jajanan mulai dari jajanan tradisional sampai jajanan yang modern.
__ADS_1
Yila yang tidak menduga akan diajak ke tempat jajanan berbagai kuliner, hatinya sebetulnya bersorak senang. Namun, dia tidak yakin di tempat jajanan yang berjajar ini ada yang menjual rujak atau asinan.
"Sayang, kamu mau jajan apa saja di sini? Pilihlah yang kira-kiranya kamu sangat suka." Yila terlihat bingung, tentu saja, sebab makanan di sini banyak, tapi makanan khas kesukaannya ternyata tidak ada.
"Ikuti aku, ya. Aku akan menunjukkan makanan khas yang kamu sangat sukai dan cocok buat ibu hamil yang masih usia trimester pertama," ajak Yara seraya menarik lembut lengan Yila menuju ke sebuah lapak yang saat dilihat oleh Yara, sungguh mengejutkan. Yila terkejut rupanya di sini banyak lapak penjual buah-buahan asinan dan rujak.
__ADS_1
Yila nampak semakin senang saat dia dibiarkan memilih asinan yang dia mau. Hari ini betapa Yila bahagia sebab diajak Yara ke tempat yang tidak disangka-sangka. Tempat berbagai asinan dan rujak aneka rasa. Sungguh ini sebuah tempat yang paling menyenangkan buat ibu hamil muda seperti Yila.