
Tiba di villa, Yara langsung menggiring Yila ke dalam kamar. Yila tidak membantah, lagipula dia memang sudah gerah dan ingin segera mandi. Saat itu Yila langsung masuk kamar mandi dan menikmati shower dengan senang hati. Entah kenapa Yila merasa sangat bahagia semenjak pulang dari parkiran mall tadi.
Ketika Yila menyudahi mandinya dan bangkit dari bathtub, ternyata Yila lupa membawa handuknya, sehingga dia menjadi bingung mau keluar.
Baju yang tadi dia pakai sudah terlanjur basah masuk air, jadi jika dipakai pun sudah tidak akan nyaman lagi karena basah. Yila sangat bingung, akhirnya Yila hanya duduk terpaku di pinggir bathtub.
Tidak berapa lama Yara menggedor pintu kamar mandi karena merasa Yila tidak keluar-keluar.
"Yil, kenapa lama di dalam, bukalah. Aku juga mau mandi," desak Yara memaksa.
"Mas Yara, saya ketinggalan handuk, bolehkah saya minta tolong ambilkan handuknya," teriak Yila akhirnya. Dia memberanikan diri meminta tolong pada Yara, sebab Yila benar-benar tidak bisa beranjak dari kamar mandi karena tidak ada yang bisa menutupi badannya. Tidak berapa lama Yara mengetuk pintu kamar mandi.
Yila segera membukanya hanya dengan membuka sedikit pintu kamar dengan tangan yang terjulur keluar, Yara geleng-geleng kepala. Lantas ide isengnya muncul, Yara memegang tangan Yara erat, dia tidak melepaskan sehingga Yila terkejut dan menahan pintu supaya tidak terbuka oleh Yara.
"Yila apakah kamu tidak ingin mengambil handuknya?" tanya Yara sembari tersenyum usil.
"Tapi Mas, tolong lepaskan tangan saya dulu, saya tidak bisa mengambil handuknya," sahut Yila mulai was-was.
"Kenapa kamu takut begitu, bukankah kita sudah suami istri?" Tidak ada jawaban dari dalam. Sementara Yila yang berada di dalam menahan pintu supaya tidak terbuka.
"Ok, ok. Aku lepaskan." Perlahan Yara melonggarkan pegangan tangannya pada tangan Yila. Namun saat itulah pintu didorong dan Yara bisa masuk, dia langsung mengunci pintu kamar mandi. Sementara Yila menyembunyikan tubuh depannya ke arah dinding kamar mandi, dia sungguh-sungguh sangat malu ketika sekujur tubuhnya harus dilihat Yara saat ini.
__ADS_1
Yara menatap tubuh Yila dari belakang, dia menyunggingkan senyum. Dia merasa aneh kenapa Yila bersembunyi darinya dengan membelakangi dirinya.
"Kenapa harus berbalik, tetap saja tubuh kamu terlihat. Tidak usah malu, kamu sudah jadi milikku. Berbaliklah!" titah Yara gemas. Dia tersenyum gemas dan bahagia dengan sikap malu-malu Yila. Padahal Yara sudah melihat sekujur tubuh Yila yang mendebarkan dan membangkitkan gairah. Meskipun Yila tidak memperlihatkan gestur tubuh yang berusaha menggoda. Namun pahatan dan lekuk tubuh Yila sudah cukup membuat Yara bergairah dan ingin mengarungi indahnya surga dunia untuk yang kedua kalinya bersama Yila.
"Berbaliklah," ujarnya lagi sembari meraih bahu Yila. Yila perlahan berbalik dengan bantuan tangan Yara, wajahnya menunduk, kedua tangannya menutupi titi dan tata yang lumayan menonjol padat berisi, maklum saat jatuh ke pelukan Yara, Yila masih perawan belum terjamah oleh yang lain. Sementara kaki Yila, berusaha dia silang. Menutupi bagian bawah yang sudah pernah Yara jamah sehingga Yila menjerit kesakitan.
"Ya, ampun kenapa ditutupi?" Sembari menyibak kedua tangan Yila yang menyilang di balik titi dan tata, lalu membuka kaki Yila yang menyilang menutupi bawah.
"Sikap kamu seperti ini sungguh membuat jantungku bergetar," ujarnya seraya meraih Yila dan tiba-tiba Yila menjerit.
"Mas Yara, kenapa di sini? Malu Mas." Teriakannya beberapa saat kemudian tidak lagi terdengar hanya suara air kucibak kucibuk di dalam bathtub, menandakan dua insan sedang berenang menikmati indahnya bulan madu.
"Ehem, terimakasih atas sportifitasnya. Kamu sungguh sangat memuaskan. Nanti di dalam bathtub bisa kita ulang lagi di rumah. Sekarang kamu pakai baju. Kita laksanakan dulu sholat Ashar bersama," ujarnya sembari menoel pipi Yila yang kemerahan.
"Ya ampun Yila, kamu rupanya anugrah terindah yang Tuhan berikan untuk saya. Saya kembali merasakan kebahagiaan bersamamu, semoga kamu adalah cinta terakhir dan selamanya untuk saya, menjadi ibu bagi anak-anak saya. Serta menerima saya dengan apa adanya. Sungguh kamu sangat berharga bagiku." Hati Yara berkata-kata penuh haru mengungkapkan semua rasa yang dia rasakan sejak memiliki Yila sepenuhnya.
Malam telah tiba, setelah makan malam Yara segera menggiring Yila ke dalam kamar. "Pakailah lingerie merah ini, persiapkan diri kamu sebaik mungkin. Aku ke kamar mandi dulu," titahnya. Yila tertegun, sudah bisa ketebak dengan menyuruh memakai lingerie ini pasti suaminya menginginkan lagi gencatan senjata.
"Lagi? Apakah Mas Yara tidak ada lelahnya? Duhh, padahal rasa ini juga masih terasa sakit." Yila berbicara dalam hatinya penuh rasa was-was. Meskipun dia sejujurnya sangat bahagia karena telah dimiliki Yara seutuhnya, tapi rasa sakit itu masih terbayang-bayang sakitnya.
Yara keluar dengan boxer merahnya yang dibeli bersamaan dengan lingerie merah milik Yila. Yara tersenyum bahagia. Yila kemudian segera menuju kamar mandi, dia tiba-tiba ingin buang air kecil dan menggosok gigi, sebab Yila merasa tidak percaya diri jika sedang diajak bersenang-senang mulutnya kecium bau bawang.
Setelah mulutnya merasa wangi dan segar, perlahan Yila keluar. Yila terkejut sebab Yara sudah berdiri di muka pintu dengan merentangkan kedua tangannya.
__ADS_1
"Ayolah Sayang," sambutnya seraya meraih pinggang ramping Yila menuju meja rias, di sana Yara telah menyiapkan sebuah kejutan. Sebuah kotak persegi empat bentuk kubus teronggok di sana.
"Sayang, ini spesial buat kamu," ujar Yara sembari memberikan sekuntum bunga mawar merah yang wangi ke tangan Yila, sementara Yara mencium pipi Yila dengan penuh semangat.
"Bukalah kotak ini," titahnya menunjuk kotak kubus berwarna keemasan dengan hiasan pita di atasnya. Perlahan Yila membukanya. Tidak butuh waktu lama, kotak itu terbuka. Dan Yila sangat terkejut melihat isi dari kotak itu. Mulutnya sedikit ternganga menandakan dia sangat menyukai pemberian istimewa dari Yara.
"Kamu suka?" tanya Yara. Yila langsung mengangguk. "Sini aku pasangkan." Yara meraih kotak perhiasan lalu dipasangkan. Satu set perhiasan emas bermatakan mutiara seperti kalung, cincin, dan gelang berkilauan di sana.
"Kamu bahagia?" tanya Yara sembari memasangkan gelang serta cincin ke dalam jari tengah Yila di samping jari manis yang sudah tersemat cincin kawin.
"Malam ini malam spesial buat kita, malam terakhir kita di villa ini. Aku ingin memberikan yang terbaik untukmu, karena kamu juga sudah memberikan yang terbaik untukku. Dan malam terbaik serta terindah itu, kita ulangi lagi malam ini dengan rasa yang lebih indah," ujar Yara penuh kata-kata rayuan sembari memasangkan kalung di leher Yila.
Sedetik setelah memasangkan kalung di leher Yila, Yara sudah melabuhkan ciuman di bibir manis Yila. Dikecupnya dalam dan penuh perasaan. Yila benar-benar dikuasai Yara dan tidak bisa menolak. Satu menit melabuhkan ciuman, Yara melepaskan lalu menghampiri saklar lampu dan mematikannya. Jadilah kamar ini temaram dengan suasana yang begitu romantis.
Yara merangkul pinggang Yila dan membaringkan tubuh Yila di ranjang. Senyuman bahagia tidak pernah lepas dari bibir Yara. Malam ini begitu syahdu dan sangat romantis bagi pengantin baru yang ingin mengarungi malam bulan madu yang istimewa.
Pergulatan itu baru dimulai. Saling bertaut, saling memberi dan menerima. Yara benar-benar sangat bahagia menikmati setiap keindahan di hadapannya yang diberikan Yang Maha Kuasa untuknya. Berkali-kali dia berdecak kagum dan berulang-ulang kali menatap dalam mata Yila sehingga Yila terlihat malu, meskipun temaram.
Malam semakin membawa suasana dingin menjadi hangat kemudian memanas. Yila sesekali meringis lalu menjerit. Diantara jeritannya terselip sebuah nama inisial yang pernah ketahuan Yara.
__ADS_1
"Mas YP sakitttt," jeritnya membuat sejenak Yara tertegun, lalu mempercepat lajunya kuda seraya menyimpan sebuah kemarahan. Lalu lepas sudah. Dua buah rasa nikmat dan marah menyatu dan berbaur di sela desah nafasnya. Dua-duanya terkulai lemas.