
Yila berlari menuju kamar hotel yang ditempati dirinya dan Yara. Dia sangat sedih melihat Yara yang berdansa balon dengan Nita mantan istrinya. Malah secara sengaja Nita tadi seakan ingin merangkul Yara. Ini sangat menyakitkan hati Yila. Memang benar ini semua acara yang dirancang panitia penyelenggara perayaan ulang tahun PT Sentosa Bersama. Jadi, Yila tidak bisa sepenuhnya menyalahkan semua ini pada Yara.
Untuk membuang rasa sedih yang kini melanda, Yila membereskan baju kemeja Yara bekas pakai saat berangkat tadi dan celananya. Yila sengaja meraba-raba dulu saku kemeja dan saku celana Yara, takutnya ada barang atau uang yang tertinggal di sana.
Ketika meraba saku celana jeans Yara, Yila menemukan sesuatu yang mengherankan sekaligus mengejutkan. Sebuah benda di bungkus secarik kertas yang ada tulisannya. Kemudian Yila membukanya dengan perlahan. Sesuatu yang dibungkus secarik kertas itu terjatuh, Yila segera meraihnya.
Alangkah terkejutnya Yila saat melihat benda yang diraihnya tadi merupakan sebuah alat pengaman. Yila tersentak dan tubuhnya mendadak lemas dan bergetar, jantungnya juga ikut berdetak kencang. Yila menguatkan tubuhnya untuk bertumpu supaya tidak jatuh, masih ada yang harus dia lihat lagi yaitu tulisan di balik secarik kertas yang menjadi pembungkus satu buah pengaman.
"Setelah malam perayaan ulang tahun PT Sentosa Bersama, kita rayakan juga malam kebersamaan kita. Ini, aku sekalian sisipkan satu buah untuk keamanan kita." Tulisan itu menghentak jiwa dan raga Yila. Tubuh Yila terhuyung dan ambruk di ranjang, dia kembali menangis dan merana persis ketika dia melihat Nita merangkul Yara tadi.
"Mas Yara ternyata janjian dengan mantan istrinya. Jika dia akan janjian dengan mantannya sambil merayakan ulang tahun perusahaan ini, kenapa harus mengajak aku? Kenapa Mas Yara sengaja ingin memperlihatkan kemesraannya lagi bersama mantan istrinya di hadapan aku istri sah yang sangat mencintainya?" batin Yila bertanya-tanya kenapa dan kenapa sambil menangis pilu.
Menjelang Maghrib, Yila yang masih sedih dan terbangun tidurnya setelah lelah menangis tadi, segera bangkit dan menuju kamar mandi. Membersihkan diri dan mengambil air wudhu untuk mengadukan kesedihannya pada Yang Maha Kuasa.
Yila menyudahi mandinya dan segera keluar kamar mandi, lalu segera menutupi tubuhnya dengan baju yang dibawa dari rumah tadi siang, tidak lupa membalut tubuhnya dengan mukena sebab sebentar lagi adzan Maghrib akan berkumandang. Sejenak Yila menatap wajahnya di cermin, matanya nampak bengkak sisa tangisnya tadi. Lantas Yila mencoba menutupi bawah matanya dengan concealar untuk menutupi bengkak di matanya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian azan Maghrib diperdengarkan, Yila segera menggelar sajadah dan duduk bersimpuh menunggu suara azan selesai diperdengarkan. Yila berdiri tepat suara azan selesai diperdengarkan. Bersamaan dengan itu, Yara masuk terdengar dari desah nafasnya yang seakan memburu.
Yara masuk saat Yila sedang mendirikan shalat Maghrib. Yara langsung ke kamar mandi membersihkan dirinya dari peluh dan bau sisa kegiatannya tadi. Kurang lebih lima belas menit, Yara keluar kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Saat itu Yila sudah mengakhiri sholatnya dan melipat kembali mukena bekas pakainya.
Yara menghampiri Yila yang duduk di tepi ranjang. Yara meraih baju yang sudah Yila siapkan di atas ranjang untuk kegiatan nanti malam puncak acara perayaan ulang tahun PT Sentosa Bersama. Yara sekilas melihat wajah Yila yang murung, sebelum menuju sajadah, Yara menyapa Yila terlebih dahulu.
"Kamu kenapa, kok murung begitu? Jangan menunduk terus dong, aku ingin melihat wajahmu. Kamu masih malu-malu saja, sih, Sayang. Ya sudah, aku sholat Maghrib dulu. Kamu bersiap-siaplah untuk makan malam di bawah," ujar Yara yang tidak mendapatkan respon apapun dari Yila. Yara sudah paham dengan sikap Yila, dia sudah biasa dengan sikap pemalu Yila.
"Sayang, kenapa sejak tadi hanya merengut dan diam saja, biasanya kamu menyahut walau satu patah kata. Ada apa?" ujarnya seraya duduk di samping Yila dan tidak segan meraih pinggang Yila lalu mencium pipi Yila. Yila berusaha menghindar dan menolehkan wajahnya ke samping kanan, sehingga Yara yang ingin menciumnya kembali gagal. Yara heran dan bertanya-tanya.
"Kamu kenapa, sih, tiba-tiba murung dan merengut begini?" herannya seraya memutar tubuh Yila dengan kuat sehingga Yila berhasil menghadap tubuh Yara. Tangis yang berusaha dia sembunyikan dari Yara, akhirnya ketahuan juga. Yara tersentak dan heran.
__ADS_1
"Sayang, kamu kenapa? Ada apa kamu menangis sedih begini? Kenapa? Coba ceritakan padaku," pinta Yara sembari menatap wajah Yila dalam, lalu didongakkan wajah yang sejak tadi hanya menunduk yang kini berurai air mata.
"Bicaralah, aku mohon! Jangan diam begini karena aku tidak akan pernah tahu masalah yang kamu rasakan," mohon Yara sembari memegangi kedua lengan Yila meminta penjelasan.
"Yila bicaralah," paksanya sedikit keras. Yara sudah tidak sabar dengan Yila yang selalu diam dan memendam semua masalah, Yara hanya khawatir melihat Yila menangis, dia takut Yila mengalami sakit, jika tidak diungkapkan maka dia tidak akan pernah bisa tahu di mana letak kesakitan Yila.
"Lihat ini, Mas. Dan saya menangis karena tadi telah melihat Mas Yara dan mantan istri Mas Yara berdekatan dan saling bahu membahu dalam acara balon dansa, kalian sangat mesra dan serasi, sementara saya di sini hanya bisa melihat dengan sedih kedekatan kalian," ungkap Yila dengan tangisan yang semakin menggema. Kali ini Yila pertama kalinya bicara lebih banyak dari biasanya.
Yila berdiri dan berlari menuju balkon menenggelamkan dirinya dalam kesedihan yang sangat dalam. Yila sangat cemburu terutama dengan keberadaan secarik kertas dan sebuah pengaman yang dia temukan di saku celana jeans Yara.
Yara membuka secarik kertas yang di dalamnya terdapat sebuah benda yang tanpa pernah memakainya pun Yara bisa mengenalinya. Dari merek dan kemasannya sudah jelas itu sebuah pengaman. Lalu Yara membaca tulisan di secarik kertas itu, Yara ternganga setelah menyudahi membaca tulisan itu yang diakuinya bisa membuat siapa saja salah paham termasuk Yila istrinya.
"Kurang ajar, ini pasti perbuatan Nita wanita jallang itu, beraninya dia berbuat ini, ingin menghancurkan dan memperkeruh rumah tangga orang. Apa dia sudah gila, apa mau dia sebenarnya?" rutuk Yara seraya meremas kertas itu lalu menghampiri Yila yang kini menangis di balkon. Bagaimana tidak sedih dan salah paham, jika melihat tulisan dan sebuah pengaman di dalam saku celana suaminya?
__ADS_1
Yara harus meluruskan kesalahpahaman ini, dan dia juga harus bertindak tegas pada Nita yang membuat skenario fitnah untuk menghancurkan rumah tangganya. "Kamu salah paham Sayang, dan aku tahu kamu pasti cemburu."