
Ba'da Isya Yara baru pulang. Yila yang sejak tadi memasukkan baju yang sudah disetrika Bi Lala, ART yang dipanggil ke rumah jika cucian sudah banyak atau membersihkan rumah yang lumayan luas. Sebetulnya Yila sanggup membersihkan rumah ini. Tapi tetap saja Yara memanggil ART harian yang mengerjakan.
Terdengar suara mobil berhenti di depan rumah, tidak salah lagi itu pasti Yara. Sejenak Yila meninggalkan pekerjaannya. Yila bergegas ke depan hendak membuka pintu. Yila sudah mempersiapkan dirinya sebaik mungkin. Ilmu yang diberikan Ibunya tadi siang dirasanya cukup, dan sekarang akan dia terapkan di rumah untuk menyambut Yara, meskipun sikap dingin pasti masih akan didapatkannya.
"Assalamu'alaikum!" Salam itu pelan, tapi masih terdengar. Yila menyambut dengan senyuman dan meraih tangan Yara kemudian dicium.
"Wa'alaikumsalam, Mas." Tangan Yara ditariknya ke dalam. Yara melihat Yila sedang berusaha melayaninya. Yara memperhatikan dari atas sampai bawah penampilan Yila. Sempurna. Gadis muda yang cantik, sederhana, tidak banyak gaya ini, sungguh mempesona malam ini. Namun sayang, Yara belum bisa menjamahnya karena Yila masih halangan.
Yila mengikuti Yara ke kamar. Lalu segera menyiapkan pakaian ganti untuk Yara. Yara tidak beranjak dari kamar, dia menjatuhkan tubuhnya di ranjang dengan kepala tengadah ke atas. Sepertinya Yara terlihat suntuk. Kali ini Yila mulai berpikir harus melakukan apa dengan melihat Yara seperti ini. Yila menaiki ranjang dan mendekati Yara yang berbaring. Sebetulnya jantung Yila berdebar kencang saat ini, dia sungguh tidak terbiasa dengan seorang pria harus sedekat ini.
Namun, perkataan dan nasihat Ibunya tadi di pesan WA mendorongnya untuk melakukan perhatian pada Yara, suaminya.
"Jika Mas Yara sikapnya masih dingin, kita harus berusaha membangkitkan hawa panas, contohnya dengan sentuhan," ujar Bu Yuli di WA Yila tadi.
Yila mulai memikirkan ucapan Ibunya tadi, sentuhan apa yang harus dia lakukan. Melihat Yila terlihat sedang berpikir, Yara tidak memberikan respon apa-apa. Dia ingin melihat apa yang akan dilakukan wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya itu.
Perlahan jemari Yila mendekat dan mulai menyentuh dahi Yara yang tadi sekilas dipijit Yara. Sepertinya Yara sedang sakit kepala.
"Mas Yara, apakah Mas Yara sedang sakit kepala?" tanyanya sembari mulai menekan dan meremas dahi Yara. Yara menikmatinya tanpa menyahut. Yara merasa pijatan Yila sangat enak. Sentuhan tangannya menimbulkan sensasi nikmat dan lega. Sakit kepala yang dia rasakan hilang seketika. Yila seakan tahu menyasar saraf yang sakit.
__ADS_1
Sentuhan tangan Yila seketika mampu membuat Yara tidak sakit kepala lagi. Kemudian Yara membalikkan badan.
"Tolong, buka baju dan kaos dalamnya. Aku ingin kamu memijat badanku yang terasa pegal," titahnya. Tidak menunggu lama Yila membuka baju Yara perlahan, sampai kaos dalamnya dibuka. Yila mengambil minyak zaitun untuk dipijat dan urut di kotak make upnya. Kemudian dia mulai mengurut punggung Yara yang kekar dan mulus.
Baru kali ini menyentuh kulit pria secara langsung, jantung Yila otomatis dag dig dug. Namun Yila harus memberanikan diri menyentuh kulit punggung lelaki yang sejak dulu disukainya.
Pijatan itu mulai terasa dan menjalar ke dalam tubuh Yara, ini benar-benar pijatan yang enak menurutnya. Walaupun dulu dia sering dipijat oleh terapis pijat pria, tapi pijatan Yila tidak ada duanya dibanding pijatan terapis yang pernah didatanginya.
Malah Yara terdengar mendengkur dan tertidur saat dipijat Yila. Yila menatap punggung suaminya itu, sebenarnya dia tadi ingin memberitahukan mandi dulu lalu makan malam. Tapi melihat Yara tertidur seperti ini rasanya dia tidak tega untuk membangunkan suaminya. Yila bangkit, tapi ditahan oleh suara Yara.
"Jangan pergi dulu, aku mau juga dipijat dan diurut depannya," pintanya seraya membalikkan badan. Yila menatap sekilas lalu membuang muka. Dada bidang dan perut kotak-kotak terpampang nyata di depannya. Yila ragu, jantungnya kembali dag dig dug tidak menentu.
"Ayolah, depannya dari dada sampai perut kamu urut. Aku merasakan mual karena masuk angin," ujarnya. Yila kembali meraih minyak zaitun urut, lalu menumpahkan isinya yang dituangkan di telapak tangannya. Dengan lihainya Yila mengoles dan mengurut perut Yara yang keras. Sepertinya Yara sering ke gym sehingga perutnya terbentuk dan bagus.
"Kenapa tangannya bergetar?" tanya Yara membuat Yila semakin canggung.
"Eummm, karena saya belum terbiasa memegang perut laki-laki," jawab Yila sejujurnya.
"Ohhh, baiklah. Bolehkah sebelum aku mandi dipijat yang lain?" Permintaan Yara membuat Yila tidak paham. Lalu Yara menjelaskan dengan seksama sampai Yila paham dan mau. Awalnya Yila ingin menolak karena memang tidak biasa.
__ADS_1
Yara bangkit, begitu juga Yila menyudahi pijatannya. Yara segera ke kamar mandi membilas segala yang membekas dalam dirinya termasuk mandi wajib. Yara nampak terlihat lega karena pijatan Yila tadi.
Malam semakin larut, setelah makan malam tadi, Yara dan Yila masuk kamar yang sama. Yara masuk kamar mandi, menggosok gigi sebelum tidur. Begitupun Yila, menggosok giginya dahulu sebelum tidur.
"Naiklah!" titahnya. Yila naik dan berbenah lalu membaringkan tubuhnya di samping Yara. Dengan cepat Yara memeluk tubuh Yila dari sampingnya. Yila terkejut, tapi dia tidak bisa apa-apa selain membiarkan tangan Yara memeluknya.
"Kapan halangannya selesai?" tanyanya sembari menyesap wangi rambut Yila. Karena kegelian Yila belum menjawab pertanyaan Yara.
"Seminggu baru beres Mas," jawab Yila membuat Yara seketika tersentak.
"Itu artinya aku masih harus menunggu selama lima hari lagi?" Yila mengangguk sembari menghela nafas dalam. Dengusan kecewa terdengar dari mulut Yara. Yila hanya bisa menghela nafas dalam-dalam. Tidak lama dari itu Yara terdengar sudah terlelap, sementara Yila masih belum ngantuk.
Empat hari berlalu, hari ini Yila sudah bersih dari halangannya. Dia sudah mulai sholat. Keadaan ini membuat Yara menyunggingkan senyum. Entah kenapa sejak melihat Yila masih sangat malu-malu seperti itu, hasratnya sangat besar. Padahal selama ini Yara mampu berpuasa dan bertapa selama 10 tahun lamanya.
"Besok kita liburan ke Villanya Papa di Puncak," ucapnya tiba-tiba seraya membuka pakaian kerjanya.
"Mau apa Mas?" tanya Yila membuat Yara geleng-geleng kepala.
"Mau bikin perut kamu melendung dan memberi Mama sama Papa aku cucu," ujarnya sembari berlalu.
__ADS_1
Yila harus mempersiapkan kemungkinan besok yang akan terjadi. Dia paham betul maksud Yara. Dan hal ini Yila akan meminta tips dari Kakaknya, yaitu tips malam pertama yang perdana.
"Mungkinkah besok aku akan merasakan pengalaman pertama itu?" hati Yila bertanya dengan rasa was-was.