
Malamnya Yila sudah bisa pulang ke hotel, Dokter memberi perawatan terbaik dan memberi obat pereda nyeri untuk Yila jika nyerinya nanti terasa lagi.
"Istirahat yang cukup dan banyak minum air putih, jangan lupa obat pereda nyerinya diminum." Dokter memberi saran sebelum Yara membawa Yila pergi.
Yila segera dibawa ke hotel dan beristirahat sepanjang perjalanan ataupun sampai hotel, Yila sama sekali tidak berbicara apa-apa. Dia langsung membaringkan tubuhnya dan menangis. Yara sungguh menyesal atas kejadian ini. Harusnya sebelum Yila bertemu Nita, dia lebih dulu mencari Nita dan meluruskan semuanya. Akibat menunda, akhirnya begini jadinya.
Sampai larut malam Yila sama sekali tidak mau bicara sepatah katapun pada Yara. Dikasih makan juga Yila menolak, dia sungguh-sungguh marah pada Yara. Hanya menangis yang Yila lakukan.
Atas kejadian ini, Nita dan semua karyawan PT Sentosa Bersama dipanggil ke ballroom hotel untuk dimeetingkan. Hasil meeting yang merujuk pada hasil rekaman vidio CCTV dan rekaman salah satu orang yang menyebarkan vidio kejadian itu menjadi acuan untuk membawa masalah ini ke tingkat lebih atas. Nita sebagai staff administrasi terancam dikeluarkan dari pekerjaannya.
Nita terhenyak tidak percaya dengan semua keputusan ini, dia menunduk saat pihak HRD membicarakan semua ini empat mata dengannya. Nita meminta penangguhan atas pemecatan dirinya sebab dia memiliki seorang anak yang harus dia hidupi. Pihak HRD masih mempertimbangkan semua keputusan yang sebetulnya belum final.
Semua karyawan PT Sentosa Bersama dibubarkan setelah meeting usai. Mereka membawa hasil meeting di dalam kepalanya masing-masing. Ada yang miris dan sangat menyayangkan sikap Nita yang sangat keterlaluan.
Besoknya tiba, rombongan karyawan dari PT Sentosa Bersama kembali ke kota asal yaitu Bandung. Jam delapan pagi mereka harus sudah siap. Yara dan Yila masih terlibat perang dingin. Yila yang pendiam dan pemalu setelah kejadian ini sikap pemalunya kian menjadi. Yang yila lakukan hanya bisa menangis dan menangis.
Yara sudah meminta maaf berulang kali sama Yila atas kejadian ini, karena dirinya yang telat bertindak akhirnya terjadilah kejadian jambak-jambakan yang menelan korban.
Pagi itu setelah semua rombongan siap menuju bisnya masing-masing untuk diantar ke stasion kereta Lempuyangan, Yogyakarta. Semua karyawan PT Sentosa Bersama sudah berada di gerbongnya masing-masing. Kereta pun mulai berjalan menyusuri rel kereta api yang melewati perumahan warga sekitar. Ada juga melewati pesawahan yang padinya sedang mengembang, hijau menyejukkan mata.
Sekitar jam 10 pagi, saat kereta berhenti sejenak di salah satu stasion kereta api, tiba-tiba tubuh Yila menggigil dan merasakan demam tinggi, Yara saat itu belum sadar bahwa Yila demam, dia tengah bersama teman-teman yang lainnya di gerbong khusus untuk merokok dan ngopi.
__ADS_1
Yila berdiri, namun kepalanya sangat sakit. Sakit yang dirasakan sepertinya bukan karena sakit akibat jambakan kuat Nita saja, melainkan sakit kepala yang rasanya berbeda. Yila seakan tidak kuat lagi padahal dia ingin ke kamar mandi untuk buang air kecil. Namun saat dipaksakan berdiri tiba-tiba tubuhnya sudah ambruk dan jatuh di bawah lantai kereta.
Teman Yara yang kebetulan satu gerbong dan melihat Yila ambruk saling menjerit saking kagetnya. Semua orang yang satu gerbong dengan Yila dan Yara menghampiri Yila dan membenarkan posisi duduk Yila. Salah satu petugas kereta api bagian penerangan, mengumumkan lewat pengeras suara bahwa penumpang yang duduk di kursi nomer tiga di gerbong dua mengalami pingsan.
Yara dan teman-temannya yang masih merokok dan ngopi di gerbong khusus, saling pandang dan ngeuh jika kursi dan gerbong yang disebutkan petugas tadi merupakan tempat duduk Yara.
Yara sangat terkejut saat petugas menyebutkan siapa penumpang di kursi tersebut. "Yila," serunya sembari saling tatap dengan teman-temannya yang lain. "Istri gue pingsan, Val. Gue harus segera ke sana," ujarnya seraya berdiri dan keluar dari gerbong khusus itu dan memasuki gerbong penumpang.
Yara melewati dua gerbong yang berbeda dengan gerbong tempatnya duduk. Saat dia melihat ke arah Nita, lantas emosinya seketika memuncak dan menyeringai.
Tiba di gerbong dan di kursi tempatnya duduk, Yara sudah melihat Yila dikerubuti teman-temannya satu gerbong. Yara menghampiri Yila dan meminta diri pada teman-temannya untuk memberi ruang padanya. Saat Yara sudah mendekat, Yara segera meraba tubuh Yila. Ternyata suhu tubuhnya sangat panas sehingga Yila mengigau terus.
Yara sangat terharu ketika yang dia igaukan adalah namanya. Nama Yara dan sesuatu yang membuat Yara sangat terharu. Yila mencintainya. "Mas Yara, saya mencintai kamu Mas." Begitu dan begitu yang Yila igaukan sehingga Yara sanggup meneteskan air mata, dia merasa bersalah atas sakitnya Yila.
__ADS_1
Teman-teman Yara menyarankan Yila dibawa ke gerbong bagian kesehatan. Yara mengikuti saran teman-temannya dan memanggil pelayan gerbong untuk ditunjukkan gerbong bagian kesehatan. Yila dibawa ke gerbong kesehatan dan dirawat di sana, kebetulan kereta api ini memiliki tim medis yang selalu siap siaga jika ada salah satu penumpangnya yang sakit.
Yila terbaring di brangkar dengan tangan kanan yang di infus. Matanya terpejam rapat dengan air mata yang turun dari sudut mata. Yila nampak sangat sedih meskipun matanya terpejam.
Yara terus menggenggam jemari kiri Yila yang masih panas. Igauannya kini sudah tidak lagi terdengar, mungkin Yila sudah benar-benar tertidur. Yara menatap wajah Yila yang pias, tidak diduga acara yang seharusnya berakhir happy malah berubah insiden dan tragedi.
"Aku minta maaf, Sayang. Aku salah dan tidak menghiraukan omonganmu saat kamu meminta untuk meluruskan semua fitnah yang dibuat Nita. Seandainya aku mengikuti saranmu, mungkin kamu tidak akan begini. Aku sungguh-sungguh menyesal," ucap Yara lagi sembari mencium tangan Yila dalam, disertai tangis.
Delapan jam kemudian, kereta api dari Yogyakarta tiba di stasion hall Bandung. Semua penumpang khusus karyawan PT Sentosa Bersama menuruni kereta api. Yila yang masih demam dan kepalanya sakit terpaksa turun dari kereta api dengan tubuh yang dipapah oleh Yara dan Rani istrinya Rival yang selalu membantu. Yila didudukkan dulu di kursi tunggu, sementara Yara minta tolong Supir Papanya menjemput ke stasion Bandung.
Dari stasion hall bandung mereka ada yang langsung dijemput keluarganya ada juga yang menuju kantor terlebih dahulu.
"Ra, elu pulang pakai apa?" Rival dan Rangga menghampiri dan merasa khawatir dengan keadaan Yila.
"Sebentar lagi gue ada yang jemput, kalian pulang duluan saja jika sudah ada yang menjemput."
__ADS_1
"Ok, kami pulang duluan, ya. Semoga istri elu cepat sembuh. Langsung saja ke RS terdekat dulu untuk dirawat sebelum pulang ke rumah, Ra," saran Rangga sebelum berlalu. Tidak berapa lama Supir yang dikirim Papanya Yara datang menjemput. Sebelum pulang Yara membawa Yila ke RS untuk dirawat.