
Kepergian Nita dan Ibunya masih menyisakan rasa trauma bagi Yila. Yila masih terlihat bengong dan diam. Bu Rosi memang tahu sifat asli menantunya itu memang pendiam, tapi sekarang pendiamnya itu menyimpan rasa trauma. Untuk itu sebagai mertua, Bu Rosi berusaha sabar dan memahami keadaan Yila, terlebih menantunya kini tengah hamil muda.
Menjelang pukul enam sore Yara pulang. Bu Rosi menyambut Yara sembari menceritakan kejadian tadi siang di rumahnya atas kedatangan Nita dan Ibunya. Yara sempat terkejut dan takut telah terjadi apa-apa kepada Yila dan bayinya.
"Neng Yila tidak apa-apa, dia hanya shock saja, mungkin saat Nita datang, kejadian di Yogyakarta terkenang lagi sehingga menyisakan rasa trauma, sekarang saja masih terlihat bengong dan takut. Kamu usahakan perlakukan dia dengan sangat lembut dan sabar. Atau hari ini sampai besok selama Neng Yila masih terlihat shock, kalian nginap di rumah Mama. Bagaimana?" beber Bu Rosi menceritakan keadaan Yila sembari meminta persetujuan Yara untuk sementara nginap di rumahnya.
"Ide bagus sih, Ma. Tapi, apakah Yila mau? Atau Mama ngomong langsung ke Yila, mengajak dia nginap. Yara juga sependapat sama Mama, jika Yila masih tidak mau bicara sama Yara gara-gara kejadian di Yogya, otomatis kami tidak akan saling komunikasi. Kalau di rumah Mama sih setidaknya ada Mama atau Papa yang ngajak ngobrol dan tidak mungkin Yila diam saja jika kalian ajak ngobrol." Yara setuju dengan ide Mamanya untuk mengajak Yila nginap di rumah Mamanya.
"Kamu masuklah dulu ke kamar Yar, coba kamu ngomong ke Neng Yila tentang maksud Mama yang ingin mengajak kalian nginap di rumah Mama. Lihat bagaimana responnya," ujar Bu Rosi sebelum Yara beranjak ke kamarnya. Yara mengangguk setuju lalu bergegas menuju kamarnya di lantai atas.
Yara membuka pintu kamar perlahan, lalu menguncinya pelan. Saat matanya memindai seluruh ruangan, Yila tidak terlihat di sana. Sepertinya Yila sedang di kamar mandi. Yara menduga Yila sedang ambil wudhu karena waktu menunjukkan sebentar lagi adzan Maghrib.
Benar saja, tidak lama dari itu, Yila keluar kamar mandi dengan wajah dan tangan yang basah. Yara menatap Yila dan menyapanya.
"Sayang, kamu sudah wudhu? Sholat berjamaah bersama, ya?" ajaknya. Namun tidak ada jawaban dari Yila dan Yara memakluminya. Yara kemudian segera ke kamar mandi membersihkan diri dan berwudhu. Saat Yara menyudahi aktivitas di kamar mandi, rupanya Yila sudah menyudahi sholatnya. Yara terlihat menyesal.
__ADS_1
"Sayang, setelah aku sholat, kita bicara sebentar. Ada yang ingin aku sampaikan, kamu tunggu saja di kamar ini," pintanya sembari menatap Yila yang sejak tadi hanya diam dan menunduk. Sebetulnya dalam hati Yara sangat greget dengan sikap Yila begini, dan Yara memang bukan tipe laki-laki yang sabar terlebih sejak dikhianati Nita dahulu. Tapi melihat cinta Yila, Yara harus berusaha sabar menghadapi wanita hamil di depannya kini.
Setelah menyudahi sholat Magribnya, Yara menoleh dan bersyukur Yila masih ada di kamar. Yara bangkit dan menghampiri Yila yang kini sedang duduk di tepi ranjang.
"Sayang, malam ini Mama mengajak kita nginap di rumahnya. Sekali-kali kita juga perlu nginap di rumah Mama dan Papaku supaya kamu tidak jenuh," ungkap Yara seraya meraih pinggang Yila dan sengaja membelai perutnya, mengusap-usapnya. Yara ingin tahu reaksi Yila seperti apa yang sejak tadi mendiamkannya.
Kali ini Yara tidak mau mendiamkan Yila, seperti saran dua temannya di kantor, Rival dan Rangga tadi siang. "Kalau bini lu pendiam, elu jangan ikutan pendiam dan mendiamkan dia. Salah satu harus mengalah. Elu yang harus memulai banyak bicara dan agresif memberi perhatian pada istri lu. Gue tahu bini lu masih shock, di sini justru sikap kritis dan care elu dibutuhkan. Simpan dulu ego atau kesal elu, cobalah mulai sekarang elu yang lebih perhatian dan bersabar." Begitu saran teman-temannya tadi siang setelah kepergian Nita dari kantor karena mengundurkan diri.
Yara kini mencoba mengikuti saran kedua teman baiknya di kantor. Kesabaran dan kelembutannya kini dipertaruhkan. Yara terus membelai lembut perut Yila, dia ingin tahu bagaimana reaksi Yila. Lalu tanpa diduga Yila meraih jemari Yara, sepertinya dia merasa tidak nyaman dan malu. Itulah yang selalu membuat Yara bertambah cinta pada perempuan di sampingnya ini, sikap malu-malu yang selalu keluar dari dalam dirinya.
"Bagaimana, apakah kamu setuju kita menginap di rumah Mama dan Papa?" tanya Yara lagi mengulang pertanyaannya tadi sembari masih memeluk pinggang Yila. Dengan hati yang tidak gentar Yara kemudian memberanikan diri mencium bibir Yila dan membenamkannya sedikit lama lima detik d sana. Yila nampak terkejut dan menjauhkan wajahnya dari Yara.
"Aku sudah rindu berat sama kamu. Sebaiknya kerinduan itu kita curahkan di rumah Mama dan Papa. Ayo, nanti keburu malam. Bersiap-siaplah," bujuknya lagi tanpa segan.
Akhirnya atas bujukan romantisnya, Yara berhasil membawa Yila ke rumah orang tuanya. Mereka malam ini menginap di rumah orang tua Yara. Yara senang bukan kepalang setelah tadi berhasil mencium bibir Yila, kerinduannya semakin membuncah.
__ADS_1
Bu Rosi dan Pak Riza senang bukan main saat anak dan menantunya akan menginap di rumah mereka. Bu Rosi dan Pak Riza memperlakukan Yila dengan sangat istimewa, memberi perhatian yang berlebihan sehingga mau tidak mau Yila mulai bisa diajak bicara.
Rupanya saran Mamanya mengajak Yila menginap di rumah kedua orang tua Yara membuahkan hasil yang sangat bagus, Yila mulai ngobrol dan sedikit ceria.
Setelah makan malam yang ceria dan penuh canda tawa, Yara segera mengajak Yila ke kamarnya. Dia sudah tidak sabar melayangkan rayuan mautnya untuk bisa bermanja dan menyalurkan kerinduannya yang sudah hampir dua minggu ini dia tahan.
Setelah sama-sama ke kamar mandi membersihkan diri. Yara segera mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu temaram, tidak lupa mengunci pintu. Rasa rindu itu kian membuncah dan tidak tertahan.
Secepat kilat Yara membawa Yila ke atas ranjang dan meraih pinggang Yila tanpa menunggu protes atau penolakan Yila. "Sayang malam ini aku sangat merindukanmu, aku mohon jangan tolak aku," ucapnya sebagai permohonan ijin.
Yila tidak bisa berkata apa-apa lagi selain menerima permintaan Yara, sebab Yara sudah duluan menyerangnya secara lembut dan sangat romantis.
"Tenang saja, aku akan sangat hati-hati," ujarnya seraya mengusap perut Yila dan membenamkan kecupan cinta di kening dan di bibir Yila. Tanpa diduga tangan Yila melingkar di leher Yara, hal ini membuat Yara semakin bersemangat dan mengarungi indahnya malam dengan suka cita. Mereka berdua pun merasakan kembali satu nafas, satu deru, satu dessah yang sama dalam satu cinta di malam pertama di rumah mertua Yila.
Malam semakin larut, keduanya lunglai dan berpeluh lelah yang membawa bahagia.
__ADS_1
"Cupppp." Sebuah kecupan melayang di kening Yila diekori ucapan selamat malam dari Yara dan pelukan hangat sebagai pengantar tidur malam ini bersama.