
Perempuan itu Nita, dia mantan istri Yara. Sepuluh tahun yang lalu mereka berpisah secara tidak baik-baik. Yara menalak Nita karena Nita ketahuan berselingkuh dengan atasan Nita di kantornya. Saat itu Yara sangat kecewa sehingga tanpa pikir panjang Yara menalak Nita. Perceraian pun terjadi dengan kekecewaan yang dirasakan Yara.
Nita menatap Yara seakan tidak ingin lepas. Di sampingnya seorang anak kecil perempuan sekitar delapan tahun duduk manis di kursi pengunjung. Perlahan Yara menolehkan fokusnya kembali pada sarapan paginya. Kopi latte sisa setengah gelas dia teguk sampai tandas.
"Sayang, kamu sudah habis sarapannya?" tanya Yara mesra sembari meraih lengan Yila. Yila yang merasa diperhatikan, langsung dag dig dug. Debaran jantungnya mendadak kencang seketika saat Yara memanggil dirinya 'sayang'.
Nita yang melihat pemandangan mesra di depannya terlihat mengalihkan pandangan ke arah lain yang tidak biasa, yakni pandangan kecewa dan cemburu. Gadis yang di samping Yara ditatapnya dengan seksama, masih muda dan cantik serta sedikit pemalu. Itu yang dilihat dari penglihatan Nita.
Nita masih menduga-duga, siapakah perempuan muda di samping Yara itu? Bukankah kabar Yara masih single santer dia dengar sebulan yang lalu? Nita menduga perempuan di samping Yara adalah pacarnya Yara.
"Selama janur kuning belum melengkung, itu artinya kesempatan kedua untukku masih ada. Terlebih Mas Yara selama 10 tahun membiarkan hidupnya sendiri dalam trauma dan tentunya belum move on dariku. Aku yakin dia masih mencintai aku," pikir Nita yakin.
Yara dan Yila menyudahi sarapan paginya. Dengan menuntun lengan Yila, Yara berdiri menuju meja kasir sebelum keluar dari area food court.
Nita menatap kepergian Yara dan wanita muda di sampingnya dengan tatapan cemburu dan patah hati. Sementara anak yang di sampingnya masih asik makan sendiri tanpa Nita hiraukan.
Yara membelokkan kakinya ke toko baju, Yila sedikit bertanya-tanya. "Mau membeli apa Mas Yara ke toko baju, bukankah baju di dalam koper sudah cukup?"
"Pilihlah gaun tidur yang pantas, kalau bisa yang transparan," ucapnya berbisik. Jantung Yila seketika berdegup kencang, tubuhnya menegang ketika membayangkan apa yang akan terjadi malam nanti.
"Pilih-pilihlah dulu, aku juga mau mencari celana boxer," ujar Yara membiarkan Yila memilih gaun tidur yang semuanya hampir terbuka. Yila sampai bingung harus memilih yang mana, sebab di rumah dia hanya memiliki piyama tertutup atas bawah. Hampir lima belas menit Yila mengubek gaun tidur yang kira-kiranya cocok dengan dirinya, tapi belum menemukan.
__ADS_1
"Harus pilih yang mana, ya? Semuanya terbuka dan transparan?" bisik Yila bingung. Sementara itu, saat Yara sedang memilih boxer, tiba-tiba di depannya sudah ada seseorang yang menyodorkan sebuah boxer warna navy favoritnya. Yara pikir perempuan itu pelayan toko.
"Ok, Mbak, saya ambil ini, ya," ucap Yara seraya meraih boxer dari tangan perempuan yang diduganya pelayan toko. Entah bagaimana awalnya, tangan Yara malah ditarik oleh perempuan itu, Yara berpikir mungkin pelayan itu mau mengajak memilih kembali boxer yang lain.
Sampai pada tempat yang sepi dan terhalang oleh gaun-gaun yang panjang, tiba-tiba perempuan itu merangkul Yara dan memeluknya.
"Mas Yara, aku kangen Mas," ucapnya seraya merangkul tubuh Yara. Yara tersentak dan baru menyadari bahwa perempuan di hadapannya bukanlah pelayan, melainkan orang lain.
"Apa-apaan?" tepisnya melepas paksa tangan Nita yang bergelayut di leher Yara. Nita terbelalak dan terkejut dengan sikap Yara, dia pikir Yara akan bersikap terkejut tapi senang, nyatanya Yara malah terlihat sangat marah.
"Mas Yara, kamu sudah lupa sama aku, Mas?" tanya Nita menatap sendu ke arah Yara dengan penuh harap.
"Mas Yara, kamu sudah lupa siapa aku? Kamu bohong Mas. Kamu masih mencintai aku, itu kenapa sampai sepuluh tahun kamu masih belum melepas masa duda. Kamu pasti susah move on dari aku," ujar Nita percaya diri. Yara dibuat melotot dengan ucapan Nita barusan yang mengada-ada.
Namun Nita sepertinya tidak kehilangan cara untuk kembali meraih hati Yara, Nita memegangi lengan kekar Yara lalu menatapnya. Bersamaan dengan itu tiba-tiba Yila muncul dan memanggil Yara.
"Mas Yara," panggilnya membuat Yara spontan menepis tangan Nita dan segera menuju Yila, saat melewati stand celana boxer, Yara mengambil dua boxer warna kuning dan merah lalu meraih tangan Yila. Debaran jantung Yara terdengar degupannya oleh Yila. Yila berpikir keras siapa perempuan tadi yang tidak sengaja dilihatnya. Cantik, meskipun usianya lebih dewasa darinya dan sepertinya wanita karir yang bekerja di kantoran.
"Ayo! Apakah kamu sudah menemukan gaun tidur yang aku maksud tadi?" tanya Yara sambil membawa Yila ke stand bagian gaun tidur.
"Belum Mas, saya masih bingung," jawab Yila yang sedikit bikin Yara gemes. Di depan stand gaun tidur Yara langsung memilihkan gaun tidur transparan yang dada terbuka serta belahan bawahnya yang tinggi. Dua warna gaun tidur diambilnya, warna kuning dan merah senada dengan celana boxer yang dia ambil tadi.
__ADS_1
"Nah, ini bagus dan romantis untuk malam pertama kita," ucap Yara sembari membeberkan gaun tidur pilihannya. Yila nampak tersipu malu. Pada saat yang sama, Nita sudah berdiri di sana dan melihat Yara membeberkan dua gaun tidur seksi di hadapan perempuan yang lebih muda darinya.
"Mas Yara, apakah kalian suami istri?" tanya Nita tidak tahu malu bertanya seperti itu. Yara terkejut. Namun dia bisa menguasai keadaan.
"Iya ini istri baru aku. Sayang, bagaimana dengan ini, bagus, kan?" sahut Yara seraya kembali fokus pada gaun tidur yang dipamerkan di depan Yila.
"Bagus, Mas," jawab Yila walau terlihat sedikit malu-malu.
"Ayo, kita segera ke kasir!" ajak Yara tanpa menghiraukan Nita.
"Mas Yara," panggil Nita seraya mengejar Yara dan Yila menuju meja kasir.
"Mamaaaa!" Bersamaan dengan itu seorang anak kecil berusia delapan tahun memanggil Nita. Nita menghentikan langkahnya dan beralih ke anak yang memanggilnya. Hati Nita kecewa saat mendengar Yara mengatakan bahwa perempuan tadi adalah istri barunya.
"Telat," bisiknya seraya meraih jemari lembut sang anak kecil.
Yara dan Yila keluar dari toko baju di mall itu, dan menyudahi belanjanya. Sebelum menuju parkiran, Yara memesan sebuah coffee cup yang berada di emperan mall, dia sengaja membeli untuk menepis ngantuk kala menyetir nanti.
Yara membukakan pintu untuk Yila dan meletakkan semua belanjaan di jok belakang. Yila merasa tersanjung dengan perlakuan romantis dari Yara si pria dingin. Sambil duduk dengan rapi, Yila memikirkan malam pertamanya nanti yang pasti bakal menegangkan karena ini pengalamannya yang pertama.
Tanpa disadarinya mobil yang dikemudikan Yara meninggalkan pelataran parkir mall itu. Sementara di emperan mall sepasang mata sedang menatap lekat ke arah mobil Yara dengan kecewa.
__ADS_1