
Author ijin Promosi karya teman ya..... Nanti karya Author dilanjut saat ide di otak cemerlang lagi. Makasih...
"Hoammmm." Cima Purnama terbangun dari tidurnya setelah terlelap dari mimpi indah semalam. Malam pengantin yang indah tapi menyakitkan tadi malam masih terbayang. Rintihan dan de~$ahan semalam yang dia gaungkan akibat dibobolnya lembah perawan oleh sang suami, Ciku Semesta. Masih terbayang, terlebih Ciku memperlakukannya sangat romantis.
Terbayar sudah rasa sakit di bawah pusarnya dengan sebuah perlakuan manis sang suami.
"Pagi, Sayang, cupppppp," sapa Ciku sembari mengecup manis bibir sang istri yang masih ngulet di atas ranjang ukuran sang raja. "Ayo, mandilah. Kamu harus mandi besar, nanti keburu siang," ujarnya seraya mengangkat tubuh Cima yang masih bergeliat malas di atas ranjang. Cima menatap sendu sang suami. Tatapannya mengiba, inginnya pagi ini dia berbaring malas sebab sekujur tubuhnya terasa sangat lelah akibat siksaan indah semalam.
"Sayang, bisakah habis mandi, aku tiduran lagi? Aku lelah, sekujur badanku pegal semua akibat guncangan gempa lokal semalam," pintanya manja sembari bergelayut di tangan Ciku.
Ciku menatap penuh cinta, lalu melambai-lambaikan tangannya di udara, menandakan bahwa permintaan sang istri ditolaknya.
"Ayo, jangan malas. Kalau malas, nanti tidak dapat guncangan lagi untuk malam nanti," ancamnya sembari tersenyum.
Cima bangkit sambil mengerucutkan bibirnya yang tipis, tanda kesal.
"Aduh, aduh," ringisnya seraya memegangi bawah perutnya merasakan sensasi sakit akibat kehilangan sebuah kesucian yang telah direnggut oleh sang suami.
"Sakit, ya? Aku minta maaf. Sebab semalam merupakan malam pertama kita. Dan aku sungguh menikmatinya. Persembahanmu sungguh luar biasa. Aku bangga padamu. Aku janji aku akan setia padamu," ungkapnya berjanji. Cima tersenyum bahagia atas pengakuan jujur sang suami.
"Ini, tidak akan lama. Nanti juga kalau sudah terbiasa, tidak akan begini lagi. Ini hanya pertama kali," bujuknya seraya mengantar sang istri di daun pintu.
__ADS_1
Ciku duduk di atas ranjang membayangkan kejadian dahsyat semalam. Cima yang masih orisinil mampu membuatnya melayang di udara, sampai-sampai Ciku lagi dan lagi meminta padahal semalam Cima sudah sangat kesakitan.
"Tidak akan aku lepaskan, sebab dirimu hanya memberikannya untukku," gumannya tersenyum bangga.
Tidak lama dari itu, suara pesan WA dari HP milik Ciku berbunyi. Sebuah pesan WA dari Kasbon teman satu kantornya masuk.
"Uhuyyy, yang belah duren ori, sombong nih. Tidak cerita-cerita sama kita-kita, mujur banget nasib lu. Sudah bukan perjaka tapi dapatnya perawan orisinil." Begitu isi pesan WA dari Kasbon dengan nada sirik.
"Kalau mau tirulah, Bon," jawab Ciku sambil senyum-senyum.
"Lalu hobby lu, elu tinggal nih?"
"Gua tinggallah, gua sudah dapat yang ori."
Ciku tersenyum bahagia, sebab diantara teman-temannya dia termasuk paling mujur dalam hal mendapatkan gebetan selama bujangan. Sekarang pun Ciku merasa lebih beruntung dari teman-temannya, sebab dia memiliki istri yang masih bersegel saat di belah durennya. Dan untuk yang kali ini dia berjanji akan setia sama Cima, istri cantik plus menggairahkan dan menggemaskannya.
"Gebrus, gebrus." Suara air berguyur di kamar mandi terdengar nyaring dari dalam kamar mandi. Bunyinya sampai terdengar ke lantai atas di mana sang ibu mertua menempati kamar atas. Bu Cika bangkit dari tidurnya seraya menggelung rambutnya sepinggang dengan karet gelang.
"Duhhhh, nih anak, baru saja masuk dalam keluarga ini, tapi berisiknya minta ampun. Tidak tahu gitu aku lagi tidur nyenyak akibat kecapean semalam akibat acara pernikahannya. Dasar anak kampung yang miskin," omelnya seraya menuruni ranjang.
Bu Cika sang mertua yang masih ngomel segera beranjak dan menuruni tangga. Emosinya tiba-tiba bangkit seiring suara gebrusan air yang sedang mandi.
Dor, dor, dor!" Pintu kamar mandi yang saat ini sedang dipakai mandi Cima digedor Bu Cika dengan perasaan dongkol. Sejenak suara gebrusan air mandi itu berhenti, malah kini disusul suara sebrengan ingus yang dipaksa keluar dari hidung.
__ADS_1
"Sialan, dasar tidak tahu diri. Baru saja digedor malah kasih ingus, dasar kampungan," omelnya lagi tidak kalah naik pitam dari pertama tadi. Lima menit kemudian Cima muncul dengan senyum yang bahagia. Namun bikin Bu Cika pengen muntah entah kenapa.
Sejak pertama kali Ciku memperkenalkan Cima sebagai calon istrinya, Bu Cika sudah menolaknya dengan sikap yang tidak respon dari awal sudah ditunjukkannya. Namun, Ciku tidak peduli, sebab dia sudah terlanjur cinta sama Cima. Sehingga pernikahan ini digelar, Bu Cika masih memperlihatkan sikap tidak sukanya pada Cima.
Sayangnya, Cima sejak awal tidak sadar kalau ibu mertuanya tidak menyukainya, dia hanya berpikir semua orang tua yang baru dikenalkan dengan pacar anaknya pasti ada yang menerima dengan sikap ramah, ada juga dengan sikap yang kurang ramah. Dan pada saat itu, Cima menilainya mungkin ibu mertuanya belum mengenal dirinya lebih dekat. Cima masih positif thinking.
"Eh, Ibu. Ibu mau ke kamar mandi? Saya pikir tadi bukan Ibu yang gedor-gedor pintu," ujarnya sembari tersenyum sopan dan manggut meskipun dibalut rasa terkejut.
"Jangan banyak basa-basi, habis sholat subuh, kerjakan tugas rumah. Sarapan pagi harus sudah terhidang sebelum jam setengah tujuh pagi, paham?" ketusnya seraya mendilak dan beranjak pergi meninggalkan menantunya yang bengong.
Cima yang kaget masih belum percaya bahwa yang barusan berbicara adalah mertuanya. Padahal dari awal berjumpa, Cima sempat berpikir kalau mertuanya ini pendiam dan tidak cerewet, tapi pagi ini Cima melihat fakta lain.
Cima segera masuk kamar dan mengenakan bajunya, lalu melaksanakan sholat subuh yang suah terlewat tiga puluh menit dari waktu seharusnya.
"Kemana, Sayang, kok buru-buru?" tanya Ciku sembari meraih pinggang Cima dan mencumbunya. Cima berontak, sebab dia ingat perintah ibu mertuanya tadi.
"Lepaskan dulu, Bang. Tadi ibu memerintahkan Cima untuk segera menyiapkan sarapan pagi sebelum jam setengah tujuh. Cima harus segera keluar," berontaknya melepaskan cekalan tangan Ciku sang suami.
"Sudah, jangan takut! Ibu tidak akan apa-apa, lagipula ibu tahu kita masih pengantin baru, jadi walaupun kita telat bangun, ibu tidak akan apa-apa." Ciku menahan lengan Cima yang akan pergi dan mengunci tubuhnya sehingga Cima tidak bisa apa-apa, terlebih kini Ciku malah memberikan sentuhan penuh hasrat yang mengajak kembali Cima mengarungi dunia bianglala yang mengasyikan.
Pagi itu keduanya terbuai kembali dengan keindahan seperti semalam, di mana teriakan dan de~$aahan saling bersahutan di dalam kamar yang kini suasananya berubah syahdu dan penuh romantisme.
"Prangggg, gmbrangggg." Suara wajan dan baskom jatuh terdengar sangat nyaring, mengejutkan kegiatan dua manusia yang dilanda cinta di kamar berukuran lima kali enam itu. Ciku segera menyudahi, padahal dia masih belum tuntas. Terpaksa dengan tergesa dia sudahi walau perasaannya kesal.
__ADS_1
"Sudah selesai main kuda lumpingnya? Awas jangan sampai lecet, nanti tidak bisa jalan." Teriakan dari luar kamar Ciku dan Cima cukup membuat keduanya terhenyak dan malu.