
"Kreppp." Tubuh Yila sudah ada yang merangkul dari belakang. Yila tersentak, tapi tidak bisa berontak, sebab cekalan tangan Yara sangat kuat. Dengan tangan kekarnya berhasil membalik tubuh Yila. Yara menatap Yila ingin, matanya sudah berkabut asmara yang sukar dicegah lagi. Meskipun Yila seakan belum siap. Namun melihat Yara sudah seperti dewa Amor yang siap menerkam, Yila hanya pasrah.
Yara semakin berani dan mendekati wajah Yila yang nampak tegang. Yila menatap, sejurus tatapan matanya saling bertemu dan saling mengunci.
"Pagi ini kamu harus jadi milikku. Kamu sungguh menggairahkan," bisiknya sendu. Lalu dengan cepat ciuman itu berlabuh di bibir Yila yang tidak mungkin dicegah lagi.
Pagi semakin bergulir, dua insan di atas ranjang semakin sulit dipisahkan, merenda keindahan surgawi dunia yang tiada tara bagi pasangan sahnya. Kadang rintihan dan geraman terdengar saling bersahutan. Alam pun ikut merestui aktifitas halal mereka. Hujan tiba-tiba menghentak alam semesta, menyajikan hawa dingin yang mendorong keduanya kembali ke hasrat yang membara.
"Sakittttt!" Teriakan itu indah bagi Yara menandakan dialah yang pertama. Sementara pasangan yang berada dalam kendalinya benar-benar merasakan kesakitan dengan cucuran air mata. Yara membelainya dengan melabuhkan ciuman kasih sayang yang membara di kening berpeluh Yila.
Dua jam kemudian, hujan mulai reda. Sementara Yila dan Yara masih bergelung di bawah selimut yang sama, meniti sisa keindahan tadi yang mereka berdua tapaki.
Yila mulai menggerakkan tubuhnya. Tangan kekar Yara perlahan dia singkirkan. Berat dan susah, sehingga Yara terbangun. Yila terkejut, debaran jantungnya berdetak kencang sehingga mampu dirasakan Yara.
"Mau kemana?" tanyanya membuat Yila dilanda malu. Yila tersipu dan memalingkan mukanya ke samping kiri. Yara tahu Yila sangat malu, terlebih tadi sempat meremas tubuh Yara kuat, saat hentakan menyakitkan itu menghuja. Semua pengalaman tadi pertama baginya, sehingga rasa sakit dan juga malu tergambar jelas di wajah ayunya yang semakin ayu saja di mata Yara setelah pagi ini terenggut olehnya.
"Ayolah, kita bangun. Kamu mau mandi bersama atau sendiri? Jika bersama, alangkah lebih baik. Kita bisa saling menggosok badan masing-masing," ujarnya mengajak Yila mandi bersama, dan sepertinya Yara sangat ingin mandi berendam bersama dalam satu bak mandi. Namun, dengan teguh Yila menggeleng.
"Baiklah, aku mandi duluan, ya. Nanti setelah ini, kita jalan-jalan di sekitar puncak ini sambil belanja," ucapnya seraya bangkit menuju kamar mandi. Yila segera membalut badannya dengan handuk setelah Yara masuk kamar mandi, bagaimanapun juga dia masih sangat malu meskipun semua tubuhnya sudah dilihat Yara tadi.
__ADS_1
Sejenak Yila mengamati lingerie dan celana bokser milik Yara berhamburan di lantai kamar. Betapa malunya Yila. Segera dia punguti kemudian dia simpan dalam wadah yang kotor.
Yara menyudahi aktifitas mandinya. Dengan senyum bahagia dia keluar kamar mandi. Jelas dia sangat bahagia, bertahun lamanya dia menduda dan menjaga semua pergaulannya dari dunia pergaulan bebas di luaran sana, kini dia kembali merasakan nikmatnya malam pertama setelah dia melepas masa duda yang cukup lama.
Lega dan bahagia tergambar jelas dari raut lelaki dingin itu. Yara berubah dingin karena kejadian di masa lalu. Namun kini setelah menikah, akankah ada perubahan pada sikap Yara? Entahlah.
Yara keluar kamar mandi dengan tubuh berbalut handuk dari pinggang sampai lutut. Tubuh kekarnya masih basah memperlihatkan kotak enam yang sangat menggoda iman wanita. Yila tak luput melihat kembali pahatan indah di tubuh Yara, sangat keras saat tadi dia menyentuhnya.
"Ayo, giliran kamu. Kenapa masih mematung seperti itu? Kejadian tadi bisa kita ulang nanti malam, juga besok pagi sebelum kita kembali," ujarnya tanpa tedeng aling-aling. Yila segera ke kamar mandi sebelum wajahnya bertambah merah seperti tomat ceri.
Yila mengguyur sekujur tubuhnya dengan shower. Membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa pertautannya tadi dengan Yara. Seketika rasa tidak enak langsung dirasakan di bawah sana. Yila kadang-kadang terlihat meringis, maklum ini pertama kali untuknya mempersembahkan sesuatu paling berharga dalam hidupnya pada orang yang sudah sah menjadi pasangan hidupnya.
"Gantilah dengan rok ini, aku tidak suka melihat kamu memakai celana, bahannya kain biasa sekalipun aku tidak suka," larangnya sembari menyodorkan sebuah rok plisket selutut. Yila termenung, padahal dia sudah nyaman dengan celana jeans ini.
"Kenapa masih termenung? Kalau aku bilang buka, ya, buka, sebab aku tidak pernah melihat kamu memakai celana. Kamu boleh pakai celana, hanya untuk dalaaman saja," tukas Yara lagi membuat Yila paham dan meraih rok yang diberikan Yara.
Yila segera mengganti celana jeansnya dengan rok. Yara yang melihat, seakan takjub dan menyunggingkan senyum di bibirnya.
"*Cantik*," puji Yara dalam hati. Yila yang dipuji diam-diam oleh Yara, nampak salah tingkah dan gelisah.
__ADS_1
"Ayo, mungpung hujan tidak muncul lagi," ajaknya seraya meraih lengan Yila lalu menuruni tangga bersamaan.
"Bi Ratmi, kami pergi dulu, ya," ujar Yara berpamitan pada Bi Ratmi. Sementara di depan pintu villa, Mang Jatma sudah menyambut mereka berdua.
"Silahkan, Den." Mang Jatma mempersilahkan Yara dan Yila melewati pintu dengan sopan. Yara segera membukakan pintu untuk Yila, lalu memutar kembali dan menaiki mobilnya. Mobil keluar dari area villa, lalu melaju di jalanan kota itu.
Suasana hening di dalam mobil membuat Yila merasa serba salah. Wajahnya sejak memasuki mobil dia hadapkan keluar jendela mobil dengan maksud membuang rasa canggung antara dia dan Yara. Yara sesekali menoleh ke arah Yila dengan senyumnya yang masih mengembang. Namun sepertinya Yila memang hanya fokus ke luar jendela, Yara tahu Yila sedang menyembunyikan rasa canggung.
"Yila, menolehlah kemari!" titah Yara membuat Yila tersentak. Yila langsung menoleh dengan muka yang memerah. "Apa yang kamu lihat di luar sana, coba sesekali melihat ke arahku. Apakah kamu tidak khawatir kenapa-kenapa saat aku menyetir ini?" tanya Yara membuat Yila tersentak.
"I~Iya, Mas, saya hanya sedang menikmati pemandangan di luar," alasan Yila gugup.
"Kenapa harus gugup, jawablah yang tenang, aku tidak akan memakan kamu?" tukasnya.
"Iya, Mas," sahutnya singkat.
"Kamu mau jalan-jalan kemana di Bogor ini?"
"Terserah Mas Yara saja, saya ikut," jawabnya menyerahkan keputusan pada Yara. Yara mengangguk seraya fokus kembali dengan kemudinya.
Tiba di sebuah mall di kota Bogor, Yara membelokkan mobilnya dan berhenti tepat di depan mall itu. Yara akan mengajak Yila jalan-jalan dan membelikan sesuatu yang spesial sebagai rasa terimakasihnya atas persembahan Yila tadi pagi yang sangat indah untuknya.
__ADS_1
Yara dan Yila turun dari mobil dan berjalan bersamaan menuju ke dalam mall. Saat akan memasuki pintu mall, tiba-tiba seseorang menubruk Yara dari belakang. Yara menoleh. Saat menoleh, Yara sangat terkejut. Siapakah kira-kira yang menabrak Yara?