
"Kebetulan rekan kerja merayakan syukuran atas kenaikan pangkat, dan acaranya dimulai malam hari sampai larut malam. Akhirnya saya pulang ke rumah kemalaman. Jadi, tadi malam saat saya mau menjemput istri saya, rumah sudah sepi. Ingin mengetuk saya takut menggangu istirahat Ibu dan Bapak," tutur Yara memberikan alasannya.
Pak Yoda manggut-manggut mulai mengerti apa yang dikatakan Yara.
"Kalau begitu sebaiknya kita sholat berjamaah Subuh di masjid dulu, nanti kita lanjutkan ngobrol kita setelah datang dari Masjid," ajak Pak Yoda memberi ide yang akhirnya disetujui Yara. Lalu mereka berdua bergegas menuju Mesjid.
Di masjid Yara juga bertemu Papanya, Pak Riza tidak menduga bahwa anaknya menginap di rumah besannya setelah tadi siang pulang dari puncak, Bogor, dalam rangka bulan madu kedua bersama Yila.
Setelah sholat Subuh berjamaah usai, Pak Yoda dan Yara serta Pak Riza pulang ke rumahnya masing-masing. Namun, pada akhirnya Yara harus ketahuan juga oleh Papanya, bahwa malam tadi dia nginap di rumah mertuanya alias nginap di teras rumahnya.
"Pah, nanti siang Yara bersama Yila mampir ke rumah Papa," tukasnya saat mereka akan berpisah di pengkolan sebrang rumah. Sebab rumah Pak Yoda dan Pak Riza berdekatan hanya terhalang pengkolan jalan.
"Ayo masuk, jangan di luar lagi nanti masuk angin!" ajak Pak Yoda pada Yara hangat, membuat Yara merasa tidak enak hati seumpama Pak Yara tahu hal sebenarnya bahwa setelah kepulangan mereka dari Bogor terjadi percekcokan besar antara Yara dan Yila.
Yara masuk dan Pak Yoda menunjukkan di mana Yila tidur. "Ya ampun, Mas Yara, tidak salah subuh-subuh begini sudah di sini? Benar ini Mas Yara?" Bu uli tiba-tiba muncul dengan tubuh masih berbalut mukena.
"Mas Yara malam tadi bermaksud menjemput anak kita karena acara bersama rekan kerjanya sampai larut malam. Mas Yara tidak berani mengetuk pintu, sebab dia takut mengganggu kita yang sedang istirahat, lalu Mas Yara malah tidur di teras rumah kita. Nasib baik ada kursi rotan yang masih bisa ditiduri kalau kepepet kayak Mas Yara semalam," jelas Pak Yoda pada Bu Yuli istrinya. Bu Yuli manggut-manggut sekaligus merasa iba mendengar menantunya tidur di teras rumah.
__ADS_1
"Langsung masuk kamar saja, kalau Mas Yara masih ngantuk, istirahat lagi saja di kamar. Ibu jadi khawatir, jangan-jangan semalaman Mas Yara tidak tidur karena digigit nyamuk," duga Bu Yuli sembari menyuruh masuk kamar yang ditempati Yila.
Yara akhirnya minta ijin untuk masuk kamar dan menemui Yila istrinya yang mungkin saja belum menyadari kehadirannya. Pikir Yara. Yara perlahan membuka pintu yang ternyata tidak dikunci. Yara masuk dan mengucap salam, sementara Yila masih berbalut mukena dan mengaji Al-quran. Saat Yara masuk, Yila nampak tersentak. Padahal tadi dia memang sudah mendengar suara Yara dari kamar yang sedang berbincang dengan Ibu dan Bapaknya.
"Mas Yara," panggilnya mengakhiri bacaan Al-qurannya seraya menoleh ke arah Yara lalu membuka mukena yang melekat pada tubuhnya.
Yara mendekat dan meraih Yila yang nampak segan dan malu-malu. Yila mengulurkan tangannya mencium tangan Yara dengan malu-malu. Sikap seperti ini sungguh membuat Yara sangat gemas, rasanya ingin segera menikmati kejadian saat bulan madu kemarin.
"Kapan Mas Yara kemari?" tanya Yila pura-pura. Yila sebenarnya tahu Yara datang, sebab dia sudah membaca pesan WA Yara dari layar Hp miliknya.
"Aku semalam datang ke rumah Bapak dan Ibu, karena aku tidak berani gedor pintu, jadi aku tidur di teras rumah. Nasib baik ada kursi rotan yang masih bisa aku tiduri," ungkapnya jujur.
Hati Yila mendadak menyesal karena telah membuat Yara tidur di luar rumah tanpa selimut, bantal bahkan guling. Sikap egoisnya semalam dia sesali. Sungguh Yila merasa berdosa, sebab dia sengaja tidak membuka Hp demi menghindari Yara. Dan kini Yara di depan mata, dan Yila sungguh menyesal.
Yara membawa Yila ke atas ranjang dan mereka kini duduk berhadapan di tepi ranjang. Nampaknya Yara ingin berkata pada Yila.
"Aku minta maaf atas kesalahpahaman ini, aku sungguh-sungguh menyesal telah membuatmu sedih dan menuduh kamu yang tidak-tidak. Aku sudah baca semua isi dari buku diarymu," ucap Yara sembari meraih pinggang Yila, dengan cepat lelaki yang dikenal dengan sikap dinginnya itu mencium bibir Yila tanpa diduga Yila. Meskipun Yila terkejut, tapi dia tidak bisa menghindarnya, sebab tangan kiri Yara menahan tengkuk Yila dalam.
Ciuman tanda cinta yang tiba-tiba menggebu itu kini dirasakan Yara, debaran jantung keduanya tiba-tiba sangat kencang. Diperlakukan seperti itu, Yila seakan terbuai, terlebih Yara kini seakan terlihat mencintai Yila. Dan tanpa diduga sebelumnya, pada akhirnya mereka kembali mengulang kejadian bulan madu saat di Bogor, entah siapa yang memulai yang jelas keduanya kini saling menumpahkan rasa cinta yang tiba-tiba sangat menggebu.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Yila. Ijinkan aku menata hatiku dan mencintaimu seperti dirimu mencintaiku tulus apa adanya. Kamu memang benar-benar jodoh yang tepat yang Tuhan berikan untukku," ungkap Yara dalam sembari mengecup kembali bibir Yila lebih lebih dalam.
"Ayo, segeralah berbaju. Kita keluar kamar, aku ada janji ngopi sama Bapak. Kita jangan mandi dulu, nanti Bapak sama Ibu curiga kita habis apa. Lalu nanti sebelum pulang ke rumah, kita mampir sejenak ke rumah Papa dan Mama," intruksi Yara sembari menggunakan pakaiannya. Tanpa pikir panjang Yila mengikuti ucapan Yara.
Yara dan Yila keluar kamar beriringan menuju dapur, di sana sudah ada Pak Yoda dan Bu Yuli yang serempak menatap kedatangan anak dan menantunya itu. Bu Yuli segera menyambut dan mempersilahkan Yara menyeduh kopi yang mana dia suka.
Acara kopi pagi dan camilan di atas meja makan yang terhidang, langsung habis seketika. Tidak terasa obrolan mereka yang ngalor ngidul sampai membuat waktu beranjak siang.
Akhirnya Yara pamit pulang dari kediaman orang tua Yila. Lalu mampir sejenak ke rumah Papa dan Mamanya seperti apa yang dia janjikan tadi pada Papanya.
Yara dan Yila kini sudah berada di depan pintu rumah kedua orang tuanya, mengucap salam lalu langsung masuk.
"Assalamualaikum," salamnya kompak. Bu Rosi yang sudah berada di ruang tengah sontak berdiri dan terkejut, lalu dia berjalan menghampiri anak dan menantunya dengan senyuman bahagia.
"Waalaikumsalam," sahut Bu Rosi dan Pak Riza kompak. Mereka berdua menyambut kedatangan anak menantunya dengan bahagia.
"Bagaimana Nak, bulan madunya pasti lancar, ya?" tanya Bu Rosi menatap ke arah Yara dan Yila bergantian. Yara dan Yila hanya tersenyum simpul, mereka tahu maksud pertanyaan Mamanya Yara. Mereka menagih cucu dalam rahim Yila.
__ADS_1