
Yara dan teman-temannya sontak melihat ke arah pegawai baru yang dikenalkan HRD. Yara terbelalak sejenak, dia tidak habis pikir harus dipertemukan kembali dengan Nita. Apa salah dia sehingga nasib mempermainkan harus lagi dan lagi dipertemukan dengan Nita. Padahal Yara di dalam doanya berharap untuk tidak ingin dipertemukan lagi dengan Nita. Bukan dia tidak bisa move on, tapi dengan pertemuannya kembali dengan Nita akan mengusik kembali ketenangan hatinya. Sosok Nita jugalah yang menjadikan dia berubah dingin dan ketus pada tiap perempuan.
"Sekarang kalian punya teman baru, dan saya harap bimbingan kalian jika Mbak Nita ini tidak paham dalam pekerjaannya," ujar HRD seraya mengantar Nita ke ruangannya setelah memperkenalkan Nita di hadapan Yara dan rekan-rekannya.
"Ra, jangan terbawa perasaan, lu harus santai. Hadapi ulat bulu itu dengan tenang, jika lu memperlihatkan sikap yang tegang dan juga tegang berlebihan, maka dia akan menggunakan kesempatan itu untuk mendekati elu," bujuk teman-temannya yang sudah sangat tahu sejarah Yara di masa lalu dengan Nita. Mereka ikut prihatin, sehingga Yara sempat terpuruk dan membiarkan dirinya dalam kesendirian.
"Iya, Ra. Gua tahu ini sulit. Tapi anggap saja ini semua ujian dalam pernikahan elu bersama istri baru elu. Siapa tahu kehadiran Nita malah menjadikan rumah tangga kalian tambah kokoh," bujuk Rival teman yang paling tahu kenapa Yara sampai memutuskan bercerai dengan Nita. Sebab Rival saat itu sepuluh tahun yang lalu sempat menyaksikan Nita berselingkuh bersama atasannya Nita.
"Fight, Ra. Elu jangan melehoy gara-gara ada dia." Semua teman-teman Yara memberikan dukungan untuk Yara supaya Yara tidak lemah saat harus dipertemukan secara sering di kantor ini bersama Nita.
"Ok, gua tidak akan terbawa perasaan atau lemah jika dipertemukan terus sama dia," tekadnya.
"Yang jelas, elu harus tetap berhati-hati, jangan sampai minuman atau makanan elu kena obat tidur ataupun obat perangsang seperti kemarin yang kebetulan es campurnya diminum istri lu," peringat Rival. Yara merasa diingatkan Rival masalah obat perangsang yang diberikan Nita pada es campur yang diminum Yila.
"Gua harus membuat perhitungan dengannya soal obat perangsang itu, dan inilah saatnya. Dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya," ujarnya penuh amarah.
"Nita, tolong antar ini ke ruang Manager Yara. Kamu sudah tahu ruangannya, bukan?" perintah Rani sang Leader. Mendengar perintah itu Nita senang bukan main, sebab dia bisa sering berdekatan dengan Yara lebih sering. Nita berdoa semoga Leadernya sering-sering menyuruhnya ke ruangan Yara sesering mungkin.
"Baik, Bu. Akan segera saya laksanakan," ujarnya seraya meraih map yang akan dia serahkan pada Yara. Dengan hati girang, Nita berjalan menuju ruangan Yara melewati koridor yang menghubungkan kubikel satu dengan kubikel yang lainnya. Semua kubikel itu adalah staff di kantor ini dari berbagai divisi.
Tiba di depan ruangan Yara, sejenak Nita berdiri membenarkan penampilannya. Roknya yang lima senti di atas lutut dia tarik-tarik ke bawah, lalu rambut dia yang bergelombang, terurai seksi menutupi punggungnya. Nampak penampilannya semakin sempurna, meskipun sudah berusia 32 tahun dan status janda beranak satu, tapi daya tariknya masih terpancar.
__ADS_1
"Permisi!" Nita mulai mengetuk pintu ruangan Yara dengan dibuat seseksi mungkin.
"Masuk!" Suara Yara mulai terdengar memerintah dan mempersilahkan masuk. Nita masuk dengan girang dan berjalan menghampiri meja Yara yang masih menunduk. Nita sudah mendekat dan kini berdiri di dekat meja Yara. Yara masih fokus dengan mapnya. "Duduk!" perintahnya beberapa saat kemudian, perlahan Yara mendongakkan wajahnya dan melihat ke arah orang baru masuk ke ruangannya.
Alangkah terkejutnya Yara setelah melihat siapa orang di hadapannya yang kini duduk dengan wajah penuh senyum kepada Yara. Yara segera mengalihkan pandangannya ke arah lain, malah kini dia sibuk dengan Hpnya.
"Apa yang mau kamu sampaikan?" tanya Yara dingin.
"Ini, Pak," ujarnya seraya menyerahkan map berwarna kuning ke hadapan Yara. Yara meraihnya lalu membuka map tersebut dan membaca dengan teliti.
"Bu Rani, Leader saya, Pak," jawabnya berbinar.
"Kamu senang atas perintahnya?" tanya Yara sengaja menyelidik, dan dia kini mulai membuat dirinya tenang dalam menghadapi ulat bulu semacam Nita. Terlebih dukungan teman-temannya memberi kekuatan pada Yara supaya tegar dan jangan terlihat lemah saat berhadapan dengan Nita.
"Bagaimana saya tidak senang diperintah untuk menemui mantan suami yang masih saya cinta," ungkap Nita percaya diri.
Yara sejenak ingin muntah mendengar Nita berbicara ngawur seperti itu. Di dalam hatinya berusaha menahan amarah yang ingin meledak. Namun Yara harus berusaha tenang seperti apa yang dikatakan teman-temannya.
__ADS_1
"Mantan yang kamu buang, bukan?" tanya Yara menohok. Namun Nita berusaha tetap tenang dengan memperlihatkan pesonanya.
"Dulu hanya sebuah kekhilafan, yang setiap orang bisa lakukan. Saat itu kamu terlalu sibuk, sehingga aku melakukan kekhilafan," ujarnya seolah memberi pembenaran atas perbuatannya yang telah berkhianat dari Yara.
"Sibuk? Bukankah kamu yang tidak ada waktu untukku karena terlalu sibuk dengan pekerjaanmu, dan pada akhirnya kamu sibuk juga dengan atasanmu dan melakukan affair?" tuding Yara tidak terima dirinya dituding terlalu sibuk.
"Ok, itu masa lalu yang tidak perlu lagi diungkit. Dan untuk menebus waktuku yang terlalu sibuk saat itu, bagaimana jika sekarang kita mengulang kembali kebersamaan itu dengan diawali kebersamaan kita di kantor ini?" Yara muak dengan ucapan Nita sehingga dia benar-benar ingin muntah beneran.
"Uhuk, uhuk." Yara terbatuk dan segera menelpon OB untuk membawakan air putih ke ruangannya. Nita panik melihat Yara batuk, dia berdiri dan ingin meraih tangan Yara. Namun Yara segera menghindar. Tidak berapa lama OB yang membawa air putih untuknya datang.
"Ini, Pak Yara, air putihnya," sodor Rian sembari meletakkan gelas itu di atas meja. Yara segera meminumnya sampai habis.
"Terimakasih Yan, ambil lagi gelasnya," perintahnya yang langsung dilaksanakan oleh Rian. Yara duduk dengan tenang kembali.
"Ok, saya minta maaf atas kejadian barusan. Sebab saya tidak biasa mendengar sesuatu yang memuakkan terdengar oleh telinga saya," ujar Yara menyindir Nita. Nita memerah, dalam otaknya berpikir perkataan dia mana yang membuat Yara sampai muak dan batuk-batuk? Nita terlihat gelisah, maksud hati ingin mengingatkan kembali Yara dengan nostalgia masa lalu tapi malah sikap sinis yang dia dapat.
"Ok, sebelum kamu kembali ke ruangan kamu, sepatutnya saya mengucapkan selamat sama kamu yang telah bergabung dengan perusahaan ini dengan jabatan yang lebih rendah dibandingkan di tempat lama kamu. Sungguh keputusan yang sangat nekad. Mungkinkah karena kinerja kamu yang sudah tidak diperhitungkan di sana atau kamu mengejar sesuatu yang belum jelas di sini? Ok, itu tidak perlu dijawab karena tidak penting. Sekarang kamu kembali ke ruangan kamu, dan terimakasih sudah mengantar map ini," ujar Yara panjang lebar tidak memberi Nita kesempatan bicara. Tangan Yara mempersilahkan Nita untuk keluar yang kini menggantung di udara mengarah pintu.
__ADS_1
Mau tidak mau Nita keluar dengan wajah kecewa dan kesal.