Suami Dingin Tapi Perhatian

Suami Dingin Tapi Perhatian
Bab 11 Ciuman Pertama


__ADS_3

Yila termenung menatap pakaian yang kini dikenakannya, dress mini lima senti di atas lutut dengan lengan pendek dengan belahan dada yang rendah. Yila menghela nafas panjang, dia bingung haruskah ini dia pakai atau ganti lagi? Jika diganti, pasti Yara akan kecewa atau bahkan marah.



Tidak berapa lama Yara keluar dari kamar mandi. Wangi sabun dan shampo langsung menyuruk lubang hidung. Yara memendar mencari sosok Yila. Rupanya Yila sedang berada di balkon, menatap hamparan taman di sekitar villa itu.



Yara membuka pintu balkon dan menghampiri Yila yang tengah mendongak dengan tangan bertumpu pada pagar besi yang kokoh.



"Kenapa di luar, masuklah! Kita makan siang dulu, kamu sudah lapar, bukan?" sapa Yara mengajak Yila masuk ke dalam kamar. Yila patuh dan mengikuti Yara. Beberapa saat Yara sengaja melihat Yila dari atas sampai bawah. Dilihatnya Yila sungguh sempurna, sangat cantik dan menggairahkan. Ditunjang dengan sikapnya yang pemalu menambah rasa gemas di dalam diri Yara.



Yila sangat malu, sepertinya dia ingin sembunyi saja saat Yara dengan sengaja menatapnya tanpa kedip.



"Ayo. Tapi, kamu sudah sholat, kan, tadi?"



"Sudah, Mas," jawab Yila masih belum berani menatap lama suami dinginnya.



Yila dan Yara keluar kamar dan menuju dapur di lantai itu, dapur bersih yang hanya dipakai saat makan saja tidak untuk masak. Tiba di dapur, di sana sudah ada meja makan dengan makanan yang sudah terhidang.



"Ayo, makanlah dulu. Setelah ini kita akan jalan-jalan dulu sejenak di sekitar taman villa sambil aku kenalkan beberapa tempat yang bagus di dalam lingkungan villa ini. Jika kamu ingin berfoto juga bisa." Yara menjelaskan lingkungan di sekitar villa yang luasnya kurang lebih 1000 m2.



Yila berinisiatif mengambilkan nasi pada piring Yara, namun Yara melambaikan tangan tanda melarang. Justru dia yang mengambilkan nasi dan menuangkan di piring Yara.



"Tunjuk lauk mana yang mau kamu makan? Yang jelas aku menganjurkan kamu selain ada keringan harus makan sayur supaya sehat dan kulit selalu terawat tidak mudah keriput," ujarnya perhatian dan sangat detil. Pantas saja kulit Yara nampak awet muda dan kencang diusianya yang kini hampir 35 tahun. Wajahnya selain tampan, bersih dan tidak berjerawat, karena selalu dirawat.



"Ikan dan sayur oyong saja, Mas."


__ADS_1


"Kenapa sambalnya tidak? Ini tidak terlalu pedas kok," ujar Yara menawarkan sambal yang tersaji di sana.



"Iya, saya mau juga sambalnya," ujar Yila menunjuk sambal yang ditawarkan Yara tadi. Yara mengambilkan sambalnya dan menuangkan di piring Yila.



"Makanlah, setelah ini kita jalan-jalan di sini di sekitar villa. Kita tidak perlu jalan-jalan keluar."



Mereka berdua makan dalam suasana yang hening, kadang hanya suara sendok yang bersentuhan dengan piring yang terdengar diantara mereka.



Yara menyudahi makannya, begitu juga Yila. "Ayo, bersiaplah. Aku ambil dulu kamera untuk foto-foto." Yara masuk kamar diikuti Yila. Yila bermaksud mengganti bajunya yang minim dengan dress yang lebih panjang supaya tidak kedinginan jika nanti ada angin.



"Ayo!" ajak Yara sembari menuju pintu kamar. "Kamu mau apa?" Yara heran melihat Yila yang akan menuju lemari pakaian.



"Saya mau ganti baju dengan dress yang lebih panjang dan lengannya juga panjang," jawab Yila.




Yila merasa lega bahwa di dalam lingkungan villa ini tidak ada pekerja laki-laki yang melihat dirinya berpakaian yang minim seperti ini. Namun ada hal lain yang membuat dia khawatir dengan pakaian minim seperti ini, yaitu gigitan nyamuk atau serangga. Walaupun taman di sekitar villa ini begitu indah dan bersih. Namun, nyamuk pastinya akan selalu mendekati manusia karena bau darah yang tercium oleh nyamuk.



"Tapi, ada nyamuk juga, kan, Mas? Saya takut nyamuknya menggigit," gusar Yila membuat Yara tersenyum.



"Sudah, tidak perlu khawatir. Aku sudah siapkan obat nyamuk losyen yang ampuh mengusir nyamuk dan serangga supaya tidak mau menggigit kulit mulusmu," tukas Yara membuat Yila tersipu dipuji kulitnya mulus.



"Ayolah mungpung cuacanya bagus untuk berfoto," ajak Yara tidak sabar. Merekapun menuruni tangga dan keluar villa.



Yara dan Yila menyusuri jalan setapak antara taman ke taman di villa itu yang menghubungkan ke sebuah gazebo. Tentu saja dengan view yang indah dengan bunga-bunga dan tanaman hias lainnya yang mempercantik taman ini. Semua viewnya bagus untuk ambil foto.

__ADS_1



Yila menatap takjub bunga-bunga yang bermekaran di taman villa itu. Semuanya sedang bermekaran dan subur. Yila memang sangat menyukai bunga-bunga, terutama bunga yang memiliki bunga seperti bunga dahlia, bunga krisan, matahari, anggrek juga melati dan masih banyak lagi, yang penting berbunga dan mekar.



Yara menyadari Yila yang begitu takjub melihat bunga-bunga yang sedang bermekaran. Yara berinisiatif menyuruh Yila berfoto dan berfose di dekat bunga-bunga yang bermekaran itu.



"Sayang, kamu pergi dan mendekati bunga-bunga itu. Kamu berfotolah di sana, aku yang akan mengambil gambarmu," suruh Yara. Yila patuh dan segera menuju bunga-bunga yang bermekaran itu.



Beberapa fose foto Yila telah Yara ambil. Sejenak dia memandangi hasilnya. "Perpect," bisiknya mengagumi.



"Ayo, kita pindah posisi ke gubuk itu. Di dekat gubuk itu bagus juga untuk berfoto, di sana banyak Kaktus yang sudah tumbuh besar. Kamu akan semakin cantik jika difoto di sana," ujarnya sembari mengajak Yila menuju gubuk di villa itu.



Yara berjalan diikuti Yila. Namun sesuatu yang tidak terduga terjadi, Yila tiba-tiba jatuh karena kakinya tersangkut rumput gajah yang merambat panjang. Nasib baik tangan Yila sigap memegangi ujung kaos Yara sehingga tertarik oleh Yila, yang mengakibatkan tubuh Yara terguling tidak seimbang, lalu menimpa tepat di atas tubuh Yila yang jatuh duluan. Tubuh Yara dan Yila sangat intim, mereka seperti sedang melakukan adegan romantis layaknya film India.



"Aduhhh, gudubrag ...."



Yara terkejut, begitupun Yila. Namun tanpa terduga posisi intim seperti itu perlahan membuai keduanya saat mata keduanya saling bertatapan satu sama lain.



Yara menatap dalam ke arah mata Yila, tanpa terasa wajahnya semakin dekat dengan wajah Yila, sehingga ciuman itu tidak bisa dihindarkan lagi. Bibir keduanya berpagut, awalnya Yila hanya diam, tapi lama-kelamaan membalas. Mereka berpagutan saling balas untuk beberapa saat. Deru nafas keduanya saling memburu.



Yara melepaskan pagutan bibirnya setelah tidak ada ruang oksigen antara keduanya. Yara menyeka bibir basah Yila. Sekali lagi Yara menatap dalam mata Yila, lalu seluruh wajah Yila, sehingga membuat Yila tersipu malu. Wajah Yila memerah bak udah goreng.



Yila mulai menggerakkan tubuhnya karena merasa berat tertimpa tubuh Yara. Yara menyadarinya dan bangkit dari tubuh perempuan yang sudah sah menjadi istrinya ini.



Yila bangkit dan membenarkan baju yang minim kurang bahan itu sembari menepuk-nepuk rumput yang menempel. Ciuman tadi masih menyisakan debaran di dada Yila. Baginya ini adalah ciuman pertama dari seorang laki-laki.

__ADS_1


__ADS_2