Suami Dingin Tapi Perhatian

Suami Dingin Tapi Perhatian
Bab 46 Nita Meminta Maaf


__ADS_3

     Dua orang wanita beda generasi turun dari mobilnya. Dia membuka pintu pagar rumah Yara yang sudah terbuka sedikit, dengan tubuh mendongak ke dalam seakan sedang mencari penghuni rumah.


     Bu Rosi dan Yila saling lempar tatap, sebab mereka mengenal orang yang kini mendekati rumah Yara. Yila mengenal salah satu perempuan muda yang ternyata Nita mantan istri Yara. Sementara Bu Rosi mengenal dua-duanya. Meskipun itu sudah berlalu sepuluh taun yang lalu. Namun Bu Rosi masih kenal betul dengan mantan besan maupun mantan menantunya itu.


     "Ibuuu," teriak Nita sambil menghampiri Bu Rosi dan mencium tangannya. Bu Rosi terhenyak dan kaget melihat reaksi mantan menantunya yang terlihat lesu. Bu Rosi tidak bisa menghindar dan hanya membiarkan Nita bersimpuh di tangannya dan menangis. Wanita seumuran Bu Rosi menghampiri dan menyalami Yila yang tengah duduk heran. Sedangkan Yila yang heran sekaligus kaget, dengan hati bertanya-tanya, menerima uluran tangan wanita itu dan menatapnya karena merasa tidak kenal.


     Bu Rosi merasa tidak enak dengan keadaan ini. Dia perlahan meraih bahu Nita dan mengangkatnya, sebab di depannya ada menantunya yang menatap heran, Bu Rosi tidak mau Yila berpikiran yang bukan-bukan terhadapnya yang melihat Nita masih bersimpuh di tangannya dan meminta maaf.


     "Saya minta maaf, Bu." suara Nita terdengar sangat lemah dan penuh penyesalan. Bu Rosi menatap nita dan menyuruhnya duduk. Bu Rosi melepaskan tangan Nita, kemudian Nita menghampiri Yila, dengan tanpa diduga Nita meraih tangan Yila dan meminta maaf. Yila semakin terhenyak melihat kondisi seperti ini. Dia hanya bisa diam dan menatap ke arah lain.


     Tiba-tiba kejadian saat penjambakan di Yogyakarta itu kini terbayang lagi. Yila meringis dan menjerit seolah sakitnya saat dijambak itu terasa lagi. Dan memang pada kenyataannya rasa sakit di kepalanya masih saja terasa, sementara Yila saat ini masih dalam masa penyembuhan dan pemulihan.


     "Sakitttt," lengkingnya membuat semua tersentak. Tangan Nita pun terlepas begitu saja. Bu Rosi segera menghampiri dan meraih Yila, lalu membawanya ke dalam. Sebelum ke dalam Bu Rosi berbicara dulu pada Nita dan Ibunya.

__ADS_1


     "Tunggu sebentar, saya mau menenangkan menantu saya dulu." Nita dan ibunya hanya mengangguk dan sepertinya akan sabar menunggu. Nita dan ibunya saling tatap dan bertanya di dalam hatinya kenapa dengan Yila.


     Lima belas menit kemudian, Bu Rosi keluar lagi tanpa ditemani Yila. Bu Rosi duduk dengan wajah yang terlihat cemas. "Menantu saya shock, sepertinya dia teringat kembali dengan kejadian menyakitkan di Yogyakarta. Terlebih jika melihat Nita. Saya takut kondisi kejiwaannya terganggu gara-gara melihat Nita. Sebab seperti pengakuannya kepalanya masih terasa sakit kalau tidak diminumi obat dari Dokter. Terlebih sekarang menantu saya sedang hamil muda, saya khawatir ada apa-apa dengan kandungannya," tutur Bu Rosi semakin cemas.


     Nita dan ibunya terhenyak, ternyata efek dari perbuatan Nita begitu fatal. Belum rasa sakit yang masih didera Yila di kepalanya, ditambah jiwanya yang masih tergoncang jika tiba-tiba teringat kejadian mengerikan di Yogykarta itu. Nita merasa sangat menyesal dan bersalah mendengar kenyataan itu. Akibat perbuatan dirinya, Yila menjadi terguncang.


     "Kami datang ke sini sengaja ingin meminta maaf pada menantu Bu Rosi, atas nama anak saya, saya minta maaf yang sebesar-besarnya. Rupanya akibat perbuatan anak saya, menantu Bu Rosi shock dan terguncang jika tiba-tiba ingat kejadian itu. Sekali lagi kami minta maaf," ucapnya sembari menunduk penuh penyesalan.


     "Saya atas nama pribadi juga minta maaf, Bu. Pada Ibu terutama menantu Ibu. Saya sungguh sangat menyesal dan mengutuk perbuatan saya yang sangat Zolim pada menantu Ibu," ujar Nita meminta maaf dengan wajah menunduk, dia tidak kuasa menahan penyesalannya yang kini berujung sangat fatal.


     "Saya sangat menyesalkan perbuatan Nita. Pesan saya semoga kamu ke depannya akan menjadi manusia yang lebih baik lagi. Dan saya mohon, jangan lagi mengganggu kehidupan anak menantu saya. Apalagi sekarang menantu saya sedang hamil anak pertama. Tentunya dia ingin pikiran tenang tanpa ada hal-hal seperti kemarin menimpa lagi," tukas Bu Rosi membuat Nita semakin menunduk.


     Setelah Nita dan ibunya meminta maaf dengan sungguh-sungguh, kemudian mereka berpamitan dan untuk yang terakhir kalinya memohon pada Bu Rosi menyampaikan permohonan maafnya pada Yila.

__ADS_1


     "Sekali lagi tolong sampaikan maaf saya pada Yila, ya, Bu. Saya benar-benar menyesal," ujarnya sebelum pamit dengan wajahnya yang menunduk.


     "Nanti saya sampaikan," balas Bu Rosi sembari menatap kepergian mantan menantu dan besannya. Nita dan ibunya pergi dari halaman rumah Yara, kemudian mereka meninggalkan rumah Yara bersama mobilnya.


     Mobil yang disupiri ibunya Nita kini membelah jalanan kota menuju rumahnya. Mereka hening di dalamnya tanpa obrolan, hanya sisa isak tangis yang masih terdengar dari Nita.


     "Kalau kamu sudah minta maaf, Ibu merasa plong meskipun maaf itu belum benar-benar keluar dari hati mereka. Setidaknya kamu sudah sangat menyesali perbuatan kamu. Sekarang Yara sudah memiliki kehidupan yang bahagia, malah kini istrinya sedang hamil dan sebentar lagi mereka memiliki anak. Jadi ibu harap kamu tidak menampakkan lagi dirimu di depan mereka apalagi kalau disengaja," tutur ibunya Nita menasehati.


     "Iya, Bu. Aku paham dan sadar serta menyesal. Aku juga sekarang sudah menerima hukumannya," sesalnya dalam.


     "Sekarang tata hidup kamu ke arah yang lebih baik. Dan mulai besok kamu pergi jauhlah dari kota ini. Kamu harus menenangkan diri dan menjadi lebih baik di kota baru. Jangan pernah lagi mengganggu hubungan orang lain yang sudah menikah, karena itu akan berakibat fatal," peringat ibunya Nita lagi bijak. Nita mengangguk dan akan mengikuti perkataan Ibunya yang selama ini sudah sering dia langgar.


     Sepeninggal Nita dan Ibunya, Bu Rosi kembali ke dalam rumah dan menghampiri Yila yang sudah terlihat tenang. Yila tersentak saat melihat Bu Rosi masuk, dia terlihat ketakutan. Bu Rosi paham, lalu menghampiri Yila dan mengusap bahunya

__ADS_1


     "Mereka sudah pergi jauh dan tidak akan kembali lagi. Sekarang Neng Yila harus kuat dan jangan takut lagi. Mereka juga sudah menyesali perbuatannya. Jadi, Neng Yila juga harus tenang supaya bayi dalam kandungannya sehat dan kuat." Bu Rosi membujuk dan memberi semangat untuk Yila supaya Yila bisa melupakan semua kepahitan yang pernah menimpanya.


__ADS_2