Suamiku Bocah SMA

Suamiku Bocah SMA
Episode 22


__ADS_3

Jantung Ala masih berdegup kencang saat menutup pintu kamar mandi, ia memilih menggunakan kamar mandi lantai bawah yang diperuntukkan untuk tamu untuk mengusir rasa gerah yang mendadak menyerang.


Ketika ia sudah berada di kamar mandi, ia menatap dirinya di kaca wastafel. Menampar pipinya dengan keras dan berusaha untuk menenangkan dirinya. Namun bayangan akan roti sobek milik Felix terus berkelebat dalam benaknya. Duh! Aku mesum banget!


Akhirnya ia menyalakan lilin aromaterapi di dekat bathtub dan mencoba merendam seluruh tubuhnya di bathtub dengan air hangat sambil menghirup aroma lavender yang sudah memenuhi seluruh ruang kamar mandi.


Lagi-lagi Felix muncul dalam benaknya, namun kali ini bukan tentang roti sobek. Melainkan tentang percakapan Felix dengan rekan bisnis kakeknya yang sudah sama tuanya saat di pesta pernikahan kemarin, ia bernama Budiman.


"Wah, ganteng juga ya kamu." Puji Budi kepada Felix.


"Yaa jelas dong! Siapa dulu yang milih?" Heru menyahut pujian Budiman.


"Hahaha, pinter juga kamu milihin calon pendamping! Kalau gitu, cobalah cari kan untukku juga calon pendamping."


"Hush, udah tua kok gak tahu diri."


"Haha, becanda Heru!" Perhatian Budi beralih kembali ke Felix. "Eh, kamu rencana mau punya anak berapa? Kalau bisa lebih dari satu, jangan pelit anak kayak Heru atau mertuamu!"


"Haha kakek bisa aja, rencananya saya kepengen punya anak 12. Biar bisa nyaingin keluarga gen helikopter!" Jawaban Felix sontak membuat Heru dan Budiman terpingkal-pingkal.


Berbeda dengan Ala yang menanggapi guyonan tersebut dengan serius. Bahkan sampai sekarang pun ia masih tak habis pikir dengan ungkapan Felix yang menginginkan anak 12.

__ADS_1


Apa ia tak pernah berpikir bila ingin mempunyai anak sebanyak itu, itu tandanya mereka harus sering bersetubuh di atas ranjang? Pertanyaan itu yang selalu muncul di benaknya. Aiishh!!!


Memikirkannya saja, wajah Ala sudah memerah karena malu. Biarkan lah ia dikira seperti anak kemarin sore, karena memang faktanya ia begitu polos tentang hal itu.


***


Sarapan kali ini berbeda untuk Felix, karena ini kali pertama ia sarapan dengan keluarga Ala. Di depan meja makan panjang, terdapat menu sarapan kali ini yang begitu sederhana yaitu soto daging sapi khas Jawa, beberapa jenis gorengan, kerupuk, dan beberapa jenis lauk yang di tusuk seperti usus, ati, dan telur puyuh.


"Nah, Fel. Ayo segera dimakan mumpung soto nya masih panas! Kamu udah pernah nyicip soto khas Jawa belum?" Tanya Heru yang duduk di seberang Felix.


"Udah pernah sih, Kek. Tapi itu dulu sewaktu aku kecil, papa pernah ngajak aku ke Jogja terus nyicipin soto kayak gini." Jawab Felix.


"Oh ya? Sebenarnya kalau di deket sini juga ada yang jual soto khas jawa ini, tapi lidah kakek kayak gak terlalu cocok sama rasanya. Lebih cocok sama yang di buat mbok Jah, hahaha." Mbok Jah adalah pekerja dari Jawa yang khusus memasak di dapur untuk keluarga Ala.


"Jangan lupa pake lauk yang lain, ada banyak ini."


"Kek! Ingat! Jangan makan gorengan sama lauk yang di tusuk! Gak baik buat kesehatan jantung kakek!" Ucap Dani yang berada di sebelah kakek.


"Hmm, iya-iya."


Arina yang sudah turun dari lantai atas pun turut serta bergabung sarapan. "Wah, udah pada makan ya?"

__ADS_1


"Suamimu mana?" Tanya heru.


"Tadi subuh udah berangkat kerja, Yah. Kan Ala besok udah mau berangkat bulan madu, jadi untuk sementara waktu mas Hiro yang harus ambil alih semua pekerjaannya." Jawab Arina.


"Uhukk!" Ala tersedak mendengar ucapan Arina. Ia lupa bahwa besok adalah harinya untuk bulan madu ke luar negeri. Arina menyodorkan air putih untuknya.


"Emang kalian mau bulan madunya kemana?" Tanya Heru.


"Ke Korea, Kek." Jawab Felix dengan semangat.


Kening Heru mengernyit. "Kenapa gak ke Eropa aja?"


"Emm, Felix belum pernah ke Korea Kek. Kalau Eropa mah Felix udah sering, hehe."


"Oh gitu, ya sudahlah. Mau berapa hari?"


"Cuma 3 hari, soalnya Felix kan udah kelas 3 udah mau ujian nasional sama ujian masuk universitas jadi gak bisa lama-lama." Arina menyahut pertanyaan Heru.


"Oh ya kah? Kamu udah nentuin mau masuk ke universitas mana?"


Felix menggaruk tengkuknya. "Belum, Kek."

__ADS_1


"Gak apa-apa nanti kamu bisa konsultasi sama kakek."


"Siap."


__ADS_2