Suamiku Bocah SMA

Suamiku Bocah SMA
Episode 35


__ADS_3

Dengan cepat Asoka bergegas menuju rumah sakit menggunakan mobilnya. Beruntung ia hanya membutuhkan waktu 10 menit, karena lokasi syuting yang memang tak jauh dengan rumah sakit tempat Heru di rawat.


Dalam benaknya berkecamuk banyak pikiran, apa lagi yang akan diperbuat oleh Sera? Terlebih ia membawa kedua orang tuanya berhadapan dengan Heru yang sedang sakit.


Sial! Asoka memukul stir kemudinya, hatinya kesal jika hal yang ia lakukan tadi pagi akan berakhir dengan sia-sia.


Sesampainya di lobi rumah sakit, ia hampir menabrak seseorang karena jalannya yang terburu-buru.


Dalam lift ia menekan tombol 30 karena Heru dirawat di ruang khusus kelas VVIP yang hanya ada di lantai 30. Ia melipat kedua tangannya di depan dada dan mengetukkan jari kanannya di siku kiri. Ia tak dapat menyembunyikan kegelisahannya.


Lift terbuka, ia mengedarkan pandangannya dan melihat Felix yang berada di luar sedang duduk di kursi tunggu sambil tangannya menepuk bahu Ala yang terguncang.


"Kamu kenapa, La?"


Ala mendongak dengan wajah sembabnya. "Kakak? Ngapain kakak kesini?"


"Kenapa malah balik tanya?" Wajah kekhawatirannya mulai nampak, Asoka jongkok di depan Ala dan mengusap pipinya yang basah.


"Kamu kenapa?" Asoka kembali bertanya dengan nada yang lembut.


"Aku.. aku gak apa-apa, Kok." Jawab Ala.


"Apa karena Sera?"


Ala terbelalak. "Gimana kakak tahu tentang Sera?"


Asoka beranjak dari posisinya, "Dimana dia sekarang?"


"Eh, tunggu kak!" Felix berusaha memberhentikan Asoka yang ingin menyelonong masuk ke dalam.


Namun gagal, Asoka sudah terlebih dahulu membuka pintu dan langkahnya terpaku ketika telinganya mendengar suara tertawa dari kakek bersama dua orang tua asing yang duduk di samping Sera. Terlihat Sera sedang menunduk lesu.

__ADS_1


"Haha, namanya juga anak muda. Sera ini sama dengan cucu saya yang bernama Asoka, dia juga anak yang suka membangkang seperti Sera." Ucap Heru.


Asoka terperanjat, seolah hatinya yang tadi sesak menjadi lega terguyur oleh suara Heru yang menyebut namanya. Tak apa ia dikatakan anak pembangkang, itu lebih baik daripada hanya didiamkan.


"Soka.."


Kepalanya menoleh ke samping, ternyata Arina dan Hiromi juga datang di ruang itu.


"Ehem." Heru menjadi salah tingkah dengan kedatangan Asoka.


"Oh! Om bawel!" Pekik Sera. Sontak membuat semua orang yang berada di ruang itu menoleh ke Sera.


"Ngapain om kesini? Ngikutin aku lagi ya?" Imbuhnya.


"Hush, kamu jangan teriak-teriak gitu dong, Ra! Malu!" Ucap papa Sera.


"Eh, e.. kenalkan, dia putraku sulung ku namanya Asoka." Arina mengenalkan Asoka di depan dua orang asing yang ternyata adalah papa-mama Sera.


"Kok wajahnya seperti familiar ya, Rin?" Tanya Sarah.


"Dia memang seorang aktor, Rah. Pemain sinetron 'Surat Cinta'." Jawab Arina dengan bangga. Berbeda dengan Heru yang memasang muka masam.


"Oh! Pantes seperti pernah lihat! Wah.. Bangga sekali dong kamu punya anak-anak yang udah sukses, beda dengan aku yang masih ngurusin anak manja ini. Hoho!"


Sera mencubit pinggang mama nya. "Auw, sakit dong sayang!" Pekik mamanya.


"Semua itu ada masanya kok, Rah." Tukas Arina dengan senyum ramah.


Tangan Asoka menjawil pinggang ibunya. "Bu, kok keliatan akrab banget sih? Emang ibu kenal, ya?" Bisik Asoka.


"Oh iya!" Arina teringat sesuatu. "Kamu belum ibu kenalkan ya sama mereka. Sarah adalah teman ibu semasa SMA, sedang Arnold adalah pemilik hotel tempat ayahmu berinvestasi. Nah, kalau yang cantik itu anak mereka namanya Sera."

__ADS_1


Penjelasan oleh Arina bagai suatu kebetulan yang konyol di telinga Asoka.


"Terus mereka dateng untuk meminta maaf atas perbuatan yang dilakukan oleh Sera." Imbuh Arina.


"Hah! Hahaha!" Asoka tertawa tapi tertawa miris membuat seluruh orang yang mendengar terheran-heran.


"Udah kayak orang gila aja." Gumam Sera.


"Hush! Diem aja napa sih!" Bisik Sarah pada anaknya.


"Kak, are you ok?" Tanya Ala yang sedari tadi memperhatikan kakaknya dari belakang.


"Ya! Kakak ok kok, ok banget malah." Tangan Asoka memberi isyarat pada Ala bahwa dia baik-baik saja.


Manik matanya melirik ke arah Sera sebentar lalu beralih ke Arina. "Bu! Aku pulang dulu ya!"


"Loh? Udah gitu aja?"


"Kebetulan tadi Soka inget masih ada jadwal syuting." Jawab Asoka dengan berbohong.


"Oh gitu, yaudah hati-hati ya!"


Asoka berpamitan pada ayah ibunya, lalu pada kedua orang tua Sera tapi mengabaikan Sera. Pandangannya berhenti sejenak pada Heru, ia masih sama.. memalingkan muka enggan menatap wajah cucunya. Asoka mencoba mengabaikan rasa nyeri yang muncul di hatinya dan beralih pada Ala serta Felix.


Selama perjalanan pulang, Asoka kembali menertawakan dirinya yang begitu bodoh menawarkan diri untuk menangani Sera.


"Sial! Tau gitu mending gue cuekin aja masalah kemarin, udah kayak orang konyol gue!"


Kekesalan Asoka sudah sampai di ubun-ubun. Ia begitu menahan segala emosi untuk menangani masalah kemarin sampai diremehkan oleh Sera, dan ternyata masalah tersebut sudah selesai dengan sendirinya.


"Awas aja lo Sera! Tunggu pembalasan dari gue!"

__ADS_1


__ADS_2