Suamiku Bocah SMA

Suamiku Bocah SMA
Episode 51


__ADS_3

"Sera, lo tahu kan kalau sampai sekarang berita tentang skandal gue masih belum mempengaruhi kehidupan lo?" Tanya Asoka memulai pembicaraan.


"Maksudnya?" Berhari-hari di rumah sakit membuatnya lamban untuk mencerna kalimat Asoka.


"Sampai sekarang media masih belum tahu tentang identitas lo."


Sera menelan air ludahnya. Ia kembali mengingat tentang teman-teman masa lalunya yang terus menerornya melalui DM mengenai skandal itu. Wajahnya tiba-tiba menegang dan memucat.


"Tenang, semua itu karena gue yang masih bisa menyembunyikan semua itu. Tapi itu gak gratis." Tukas Asoka.


"Kak Asoka pengen aku bayar berapa?" Tanya Sera. Mendadak ia menjadi ramah.


Percakapan mereka terhenti ketika pelayan membawakan teko berisi teh hijau dengan dua gelas untuk Sera dan Asoka.


Lalu pelayan menuangkan teh hijau untuk masing-masing gelas mereka. Setelah itu si pelayan mengundurkan diri.


"Gue gak butuh duit. Lo tahu kan kalau gue udah kaya tujuh turunan." Asoka menyesap teh hijau yang masih mengepulkan asap.


Sera memutar kedua bola matanya dan mengikuti Asoka untuk menyesap teh hijaunya. Ketika air teh hijau itu masuk ke dalam mulut dan melewati tenggorokannya, matanya terbelalak. Rasa yang light dari teh hijau membuatnya merasa tenang. Meski ia sama sekali tak merasakan rasa manis dari teh hijau tersebut, tapi entah mengapa dirinya langsung jatuh cinta karena rasanya yang begitu ringan. Dia mendadak jadi merasa seperti orang tua karena menyukai minuman seperti itu.


"Kenapa? Suka sama rasanya, Ya?" Asoka langsung menyadari lewat reaksi yang ditunjukkan oleh Sera. Karena dirinya sama dengan gadis remaja itu ketika pertama kali menyesap teh hijau buatan resto ini.


Sera enggan menjawab, ia malu untuk mengakuinya. Lalu menyesap kembali teh hijau yang mulai menjadi candu baginya.


"Kakekku sudah mengetahui tentang skandal itu, dan kakek ingin aku membawamu ke rumah."


"Apa?! Mau ngapain?!" Pekik Sera.


Asoka menutup matanya sambil mengusap dada bidangnya. Kembali lagi, dia harus menekan ego dan bersabar.


"Gak usah pake teriak histeris bisa kan?" Ucap Asoka dengan tenang.


"Iya, tapi kenapa kakek lo kepengen ketemu sama gue? Emang beliau tahu kalau yang terlibat skandal tuh gue?"

__ADS_1


"Tahu. Karena gue yang ngasih tahu. Dan ada alasan tersendiri kenapa gue ngasih tahu."


"But.. Why??" Sera masih tak mengerti arah dari pembicaraan Asoka.


"Intinya gue pengen lo nurut ke gue buat dateng ke rumah kakek. Kalau lo gak nurut, yah lo tinggal tunggu tanggal mainnya kapan identitas lo bakal tersebar." Ancam Asoka.


Kini Sera mengerti. Dirinya sudah terjebak dalam permainan Asoka yang dia sendiri entah apa alasan Asoka melakukannya. Mungkin ini salah satu karma karena dia pernah menguak berita pernikahan Felix ke media massa.


"Tapi, Kak. Apa alasannya? Kenapa aku disuruh untuk ketemu sama kakek Heru?" Tanya Sera dengan wajah memelas. Tiada kata lo-gue jika Sera sedang terpojok.


"Kakek gue beneran ngira kalau gue pacaran sama elo."


"Kakak gak bilang kalau itu salah paham?"


Asoka mengendikkan kedua bahunya. "Selama ini menguntungkan, kenapa harus berkata jujur? Makanya gue bikin kesepakatan ini sama lo."


"Kan ini cuma menguntungkan untuk kak Asoka, kalau buat aku? Bukan untung yang ada malah buntung." Gerutu Sera.


"Lo harusnya seneng dong bisa pacaran sama aktor terkenal dan tampan macem gue." Asoka menatap Sera dengan wajah angkuhnya.


"Tapi wajah kita kalau di foto gak kelihatan beda usia yang begitu jauh kok." Tukas Asoka dengan pedenya.


"Gak! Beda jauh."


Asoka terkekeh geli. "Gak kok, gue cuma becanda. Mulutnya biasa aja, gak usah di monyong-monyongin gitu."


Sera semakin bertambah sebal.


"Lo untung kok, gue bakalan nyingkirin orang-orang yang udah bully lo sewaktu SMP." Ujar Asoka.


Kedua alis Sera saling bertaut. "Darimana kakak tahu kalau aku dulu di bully? Jangan-jangan kakak ya yang ngasih tahu ke mama?"


Sedari awal Sera curiga dengan mama nya yang mengetahui pembullyan dirinya semasa SMP. Ketika Sera bertanya, mamanya hanya menjawab seseorang yang memberitahunya.

__ADS_1


"Bukan, Felix yang ngasih tahu."


"Pantes.." Lirih Sera.


"Jadi gimana? Untung kan kesepakatan kita? Lo tinggal pura-pura aja jadi pacar gue di depan keluarga."


"Ntar kalau gue disuruh nikah kayak Felix gimana?" Tanya Sera.


"Gue jamin gak akan, kan lo masih sekolah. Apalagi cewek, gak mungkin mereka menginginkan pernikahan dalam waktu dekat."


"Terus, yang bully aku mau kak Asoka apain?"


"Ntar lo juga bakalan tahu, tapi tentu setelah lo setuju dengan kesepakatan ini."


Setelah sejenak menimbang-nimbang, Sera akhirnya menyetujui kesepakan itu. Tapi dengan syarat Sera tidak mau jika harus menikah dengan Asoka.


Apa kata dunia kalau gue nikah sama om-om? Idihh ogah!!


Meski Sera akui kalau Asoka memang memiliki paras yang tampan, tapi tetap usianya terpaut jauh dari dirinya yang masih 18 tahun.


Pelayan datang kembali untuk membawakan sushi yang dipesan oleh Asoka. Dia memang begitu rindu dengan rasa makanan itu. Terdapat 20 sushi dengan 2 jenis yang berbeda.


Pertama ada sushi nigiri yang merupakan paling menjadi favorit Asoka. Terdapat 12 sushi nigiri dengan topping yang berbeda-beda. Seperti salmon, cumi-cumi, belut, dll.



Yang kedua sushi futomaki, jenis sushi yang lebih besar di banding sushi yang lain. Isiannya pun terdapat tujuh macam yang berbeda. Bedanya dengan yang lain, isiannya sudah dimasak terlebih dahulu.



Jejeran sushi yang berada di depannya membuat Sera ingin meneteskan air ludahnya. Betapa tergugah seleranya untuk mencicipi makanan tersebut.


Setelah sang mama selalu memberikan suntikan semangat, selera makannya kembali meningkat. Dan dia sudah tidak lagi pilih-pilih makanan ataupun memikirkan seberapa tinggi kalori dalam makanan tersebut. Tapi junk food masih belum masuk ke dalam makanan yang mampu menggugah seleranya.

__ADS_1


Asoka menahan tawa ketika melihat Sera yang terlihat ngiler melihat jejeran sushi di depannya. Ia hanya menampakkan senyum penuh kemenangan yang sudah diraihnya.


__ADS_2