Suamiku Bocah SMA

Suamiku Bocah SMA
Episode 56


__ADS_3

Mata Ala menatap tajam ke arah Felix. Entah mengapa rasa tenang yang sedari tadi di buat menguap begitu saja ketika melihat Felix. Mungkin dirinya masih merasa kesal mengingat kejadian tadi. Sejenak dia menghela napas. "Ngapain kamu kesini? Udah selesai urusanmu dengan si anj.. eh bukan anjing ya. Siapa tadi namanya?" Sindir Ala.


"Hilda."


"Oh iya, Hilda. Nama yang unik." Ala membuang mukanya. Enggan menatap Felix lebih lama.


"Kamu kenapa sih? Cemburu?" Goda Felix.


Ala kembali menatap ke arah Felix. Matanya dipenuhi dengan amarah. "Kamu pikir? Istri mana yang suka ngeliat suaminya di peluk-peluk cewek lain?" Nada bicaranya ia kontrol agar tak terdengar oleh orang lain. Bagaimanapun ini bukanlah rumah mereka sendiri.


Felix terkekeh. Dia berjalan mendekati tubuh mungil istrinya. Ala masih menatapnya dengan penuh amarah. Namun tak menghindar ketika Felix merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukannya. "Udah, jangan marah-marah. Nanti si kecil jadi ikut terguncang kalau kamu terus-terusan marah." Bisik nya dengan lembut.


Segera Ala melepas pelukannya. Keningnya mengerut. " Kamu tahu darimana?"


Felix mengeluarkan box kecil panjang. "Di kasih sama pak Andi. Katanya nemu di mobil, terus di kasih ke aku."


Box kecil berisi testpack tersebut memang ia bawa, sengaja untuk mengejutkan Felix ketika Ala nanti ingin bertemu dengannya selepas bertemu Ria di kafe. Tapi apa nyatanya? Malah Felix yang memberinya kejutan pahit setelah semalam berhasil memberi kejutan yang membuatnya menangis terharu.


Berkata dia begitu cinta dengan Ala, tapi keesokan harinya berpelukan dengan wanita lain di tempat umum. Pancaran amarah masih bertengger di matanya.


Tangan Felix menyelipkan rambut Ala ke sisi telinganya. Mengabaikan tatapan Ala yang seolah ingin mengoyak tubuhnya menjadi dua lalu memberikan senyumnya yang hangat. "Maaf dan makasih ya.." Imbuhnya.


"Maksudnya?"


"Yah, makasih karena kamu.. aku bisa menjadi pria yang benar-benar sepenuhnya dewasa. Dan maaf, karena tadi aku membuatmu marah dan kecewa. Tapi percayalah, aku gak ada hubungan istimewa dengannya." Felix menatap sendu ke arah istrinya.


Ala menghela napas. "Fel, aku marah bukan hanya karena melihat kamu berpelukan dengan cewek itu. Tapi aku juga marah karena kenyataannya kamu menyembunyikan tentang gadis itu sudah cukup lama. Itu jelas mencurigakan untuk ku. Logikanya, pasti kamu ada apa-apa dengan cewek itu."

__ADS_1


"Tapi aku benar-benar gak ada perasaan yang lebih, La. Aku hanya merasa kasihan dengannya."


"Kasihan? Memangnya kamu siapanya sampai kamu begitu kasihan sama dia?" Nada Ala mulai meninggi.


Hati Felix mulai resah, dia ingin menjelaskan pada Ala tapi entah mulai darimana. "Dia menderita gangguan mental, disini dia gak punya teman sama sekali selain aku. Kemarin alasan aku menerima dia memelukku karena dia ingin pergi kembali ke luar negeri."


"Kalau memang hubungan kamu hanya sebatas teman, mengapa dari kemarin kamu gak cerita? Malah berbohong seolah aku wanita yang mudah dibodohi?" Harga diri Ala merasa terluka mengingat Felix berbohong dengan alasan yang konyol.


Hah! Anjing tetangga katanya?


"Okey, aku salah. Aku salah karena menyembunyikan ini semua dari kamu.." Felix menghela napas panjang. ".. aku gak cerita karena ingin menjaga perasaanmu. Dulu aku dan dia sempat saling menyukai."


Sesaat hati Ala seperti sedang diremas. "Saling menyukai?"


"Iya, tapi itu sebelum dia pergi keluar negeri untuk berobat gangguan mentalnya. Kamu sempat lihat perban yang ada di pergelangan tangannya kan? Itu bekas percobaan bunuh diri yang dilakukannya sendiri."


Felix mengangguk. "Iya, aku udah sempet konfirmasi kebenaran pada ayahnya. Sebelum dia dateng kesini, dia sempat menyayat pergelangan tangannya karena merasa syok mendengar pernikahan kita. Lalu dia merengek pada ayahnya untuk pulang. Ayahnya awalnya menolak, karena ayahnya merasa kehidupan Hilda sudah lebih baik ketika di luar negeri. Tapi Hilda mengancam, dia akan lompat dari atap gedung kalau tidak diperbolehkan untuk pulang ke sini." Jelas Felix panjang lebar.


Ala mencoba memproses informasi baru dalam otaknya. Tak pernah ia menyangka ada beberapa wanita yang patah hati dengan pernikahannya. Tapi mengingat jiwa sosial suaminya yang begitu tinggi, tak ayal para gadis yang terkesima dengan sifat Felix tentu akan membuat para gadis-gadis itu merasa Felix adalah dunia mereka.


Mendadak Ala merasa pening. Felix yang melihat Ala memegang kepalanya mengerti kalau istrinya sedang ada apa-apa. "Kamu gak apa-apa? Jangan dipikir terus, percayalah cintaku selalu untukmu kok."


"Gombal!"


"Biarin! Gombal ke istri sendiri masak gak boleh?"


Felix mengikuti Ala yang duduk di tepi ranjang. Terlihat Ala berpikir mengenai sesuatu.

__ADS_1


"Udahlah, La. Jangan dipikir te.."


"Aku pengen ketemu Hilda, Fel." Ala memotong ucapan Felix.


"Apa? Mau ngapain?" Matanya terbelalak mendengar ucapan Ala yang tiba-tiba.


"Pengen ngobrol sama dia, aku ingin mencoba menyelesaikan ini." Jawab Ala dengan mantap.


Felix menghela napas. "Iya tapi apa yang mau diobrolin?"


"Kamu gak perlu tahu."


Mata Felix menyipit. Ia mencurigai sikap istrinya yang mendadak ingin bertemu dengan Hilda. "Kamu gak bakalan ngajak ribut kan?"


"Fel!" Bentak ala. "Kamu kira aku anak kecil? Aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan tanpa mempermalukan diriku sendiri."


"Okey, okey.. maaf." Felix lebih memilih mengalah. "Tapi sebentar deh, kesini dulu." Felix kembali memeluk istri mungilnya.


"Mulai sekarang kamu harus lebih berhati-hati, kamu sedang hamil." Ucapnya dengan lembut.


Kali ini Ala membalas pelukan Felix. Dia selalu merasa nyaman ketika berada di pelukan Felix. "Iya." Amarahnya perlahan mulai mereda.


"Aku jadi tahu kenapa kamu sering mood swing."


Kening Ala mengerut. "Kenapa emangnya?"


"Kata mbok Ijah, orang hamil emang kayak gitu. Suka berubah-ubah moodnya, bawaan bayi katanya."

__ADS_1


__ADS_2