
Kali ini Felix merasa harus segera bertemu dengan Aryo, ia teringat Aryo beberapa kali mengirimkan pesan yang baru dibacanya pagi tadi.
[Plis, kalau lo baca pesan ini. Segera ke rumah gue sekarang. Penting!]
Felix melaju cepat dengan menggunakan motornya, siang itu jalanan begitu macet. Membuatnya harus menyalip di antara mobil-mobil yang berhenti karena terjebak kemacetan.
Sedang Ala, ia berada di rumah memantau pekerjaannya melalui laptop. Masih ada sedikit wartawan yang masih gigih untuk mendapatkan berita baru dengan mendatangi kantor. Alhasil, membuatnya harus bekerja dirumah.
Sesampainya Felix di rumah Aryo, ia langsung disambut Aryo yang kebetulan sedang berlatih basket di taman tepat di samping rumah.
"Wah, gila sih lo. Mentang-mentang pengantin baru, jadi gak inget temen!" Protes Aryo kepada Felix.
Felix melepas helm, dan meletakkannya di motor. "Lo kan tahu, kalau gue lagi ada masalah?"
"Nah, itu! Gue mau ngobrolin tentang persoalan itu!"
"Tentang Sera yang nyebarin berita? Alah.. Udah basi! Dah tahu gue.." Ucapnya.
"Hah? Jadi Sera yang nyebarin berita nikahan lo? Dia tahu darimana?" Aryo malah berbalik tanya.
Kedua alis Felix bertautan. "Bukan tentang Sera? Terus tentang apa?"
"Udahlah, kita ngobrol serius di kamar gue aja."
Felix membuntuti Aryo yang berjalan masuk ke rumah dengan membawa bola basket di tangannya.
__ADS_1
"Permisi, tante." Ucap Felix dengan sopan ketika bertemu dengan Arianti-Ibu Aryo.
"Wah, pengantin baru ya." Celetuk Arianti dengan tersenyum penuh arti.
Felix merasa tak nyaman dengan semua orang yang sudah mengetahui tentang dirinya yang sudah menikah. "Hehe, iya Tante."
Kamar Aryo berada di lantai dua, satu lantai yang luas itu khusus hanya untuk Aryo karena memang ia anak tunggal seperti Felix.
"Duduk dulu, mau minum apa?" Tanya Aryo.
Pandangan Felix mengarah pada jendela luar, dari sini terlihat pemandangan rumah-rumah kecil yang begitu kontras dengan kompleks samping yang begitu mewah.
"Heh! Kok ngalamun?!" Aryo mengejutkan Felix yang tengah melamun.
"Sori.. Dari sini udaranya enak. Seger gitu, pikiran gue jadi tenang."
"Haha, bisa aja lo! Itu mah yang bikin tenang cuma yang dibawah."
"Serius udah lo unboxing? Gimana rasanya?"
"Apaan sih lo, kepo banget! Kalau ngebet pengen ngerasain ya nikah aja sono."
"Hehe.. Lo mau minum apa?" Tanya Aryo untuk mengalihkan pertanyaan.
"Apa aja deh. Air putih juga boleh."
__ADS_1
Aryo meninggalkan Felix untuk turun ke bawah, meski dirinya di manja oleh kedua orangtuanya. Namun, ia punya rasa hormat pada ibunya dengan tidak selalu menyuruh ini-itu pada ibunya.
Beberapa menit kemudian, Aryo membawa dua gelas orange squash di atas nampan. Dan beberapa cemilan yang tadi sudah disiapkan oleh Arianti.
"Nih, minum dulu. Biar kuat nanti denger cerita."
Aryo menyerahkan satu gelas untuk Felix.
"Emang apa sih yang mau lo obrolin?" Tanya Felix sambil meneguk orang squash nya.
"Hilda balik ke sini, Fel."
"Apa?! Kapan? Dimana?" Teriak Felix karena terkejut.
"Biasa aja kali, gak usah pake teriak!" Protes Aryo dengan mengusap lembut kedua telinganya.
"Pas waktu berita lo muncul, Malamnya Hilda tanya gue lewat email. Terus setelah gue konfirmasi, dia langsung pesen tiket pulang dong!"
Otak Felix langsung membeku, menampilkan sosok Hilda yang tersenyum manis saat Felix melepasnya di bandara.
Kala itu, dia begitu cantik dengan potongan rambut sebahu dan memakai celana jins ketat dipadu dengan kemeja flanel serta sneakers putih. Gayanya yang begitu tomboy, namun senyumnya yang semanis madu membuat Felix selalu meleleh jika berhadapan dengannya.
Hilda tidak memuja Felix seperti gadis kebanyakan, pembawaannya tenang dan begitu cerdas. Penampilannya yang tomboy hanya untuk mengelabuhi para lelaki yang selalu ingin mendekatinya.
Namun tanpa dia ketahui, justru penampilan itulah yang semakin membuat para lelaki penasaran dan tertantang untuk menaklukkan hatinya.
__ADS_1
Hanya nama Felix yang terlanjur tertanam di dalam lubuk hatinya, tanpa di ucap pun Felix sudah tahu dan paham dari setiap perlakuan yang selalu Hilda lakukan. Termasuk mencium Felix dengan lembut saat hari dimana Felix melepasnya di bandara.