
Jantung Ala serasa ingin mencolos keluar kala melihat kakeknya yang terbaring lemah dengan infus yang menancap di punggung tangannya.
Menurut penuturan Arina, Heru tidak sadarkan diri selama semalaman karena syok dan siuman keesokan harinya. Kini ia masih terlelap dalam mimpi saat Ala sudah hadir di kamar rawat inapnya.
Jemari Ala mengusap tangan Heru yang keriput dengan lembut, serta memandangi wajahnya yang terlelap.
"Kek, Ala sudah datang. Cepat sembuh, Ya." Ucapnya lirih enggan membangunkan mimpi indah kakeknya.
Sementara Felix, ia berjalan dengan gelisah mengekor Asoka yang menuntunnya keluar rumah sakit. Mereka sebelumnya sudah menyempatkan diri untuk menjenguk Heru dan meminta izin pada Ala untuk mengobrol sebentar di luar.
Tepat di bangku panjang di taman kecil milik rumah sakit, Asoka memulai obrolan pentingnya.
"Lo tahu kan, gue mau ngobrolin apa?"
"Ehem, iya kak. Gue udah tahu kok."
"Gue mau lo serahin perkara ini ke gue. Biar gue sendiri yang ngurus Sera untuk menyelesaikan masalah ini."
"Maksudnya? Gue gak boleh ikut campur gitu?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Yang dia mau itu lo marah, sedih, dan sengsara sehabis ninggalin dia. Intinya dia gak mau kalau lo terlihat bahagia dengan cewek lain."
__ADS_1
"... dan gue yakin kalau lo ketemu sama dia, lo bakalan lepas kendali. Emosi lo memuncak, dan itu semakin membuat dia puas." imbuh Asoka.
"Kenapa lo bisa se-yakin itu tentang Sera?"
Asoka menampilkan senyum kecut di wajahnya. "Lo tahu kan kalau gue itu artis terkenal, bisa lo bayangin seberapa terkenalnya gue?"
Felix memutar bola matanya. "Terus?"
"Nemuin cewek kayak gitu gak cuma satu dua sepanjang gue berkarir, parahnya gue kadang gak kenal siapa mereka."
"Semacam sasaeng fans?"
Kening Asoka mengernyit. "Apaan tuh?"
"Itu istilah yang sering di gunain orang Korea, artinya semacam fans yang terlalu obsesi gitulah."
Felix menatap Asoka yang duduk disampingnya, dalam benaknya kehidupan apa saja yang sudah dilalui Asoka selama ini?
Adzan subuh terdengar, pertanda ia harus segera bergegas untuk kembali bekerja. Sinetron kejar tayang yang dibintanginya membuat dia hampir tak ada waktu untuk istirahat.
"Gue balik dulu, lo temani Ala dan jangan sampai ketemu wartawan dulu. Untuk sementara, mending kalian tinggal di rumah Ala aja."
"Ala punya rumah sendiri? Dimana?"
"Lo tanya sendiri ajalah ke Ala, gue harus segera berangkat syuting." Ucap Asoka sambil berlalu meninggalkan Felix.
__ADS_1
Saat Felix kembali ke kamar rawat inap, ia melihat Ala tertidur dengan memegang tangan kakeknya. Sedang Heru ternyata sudah terlihat bangun dari tidurnya.
"Kek.."
"Sst, jangan bersuara dulu. Biarin Ala untuk tidur sebentar." Ucap Heru.
Felix mengangguk dan beralih ke luar kamar rawat inap. Ia memilih duduk di kursi tunggu dan meregangkan otot-otot tubuhnya yang menegang.
Bau rumah sakit begitu kentara di penciumannya, ia termenung menatap depan. Matanya menerawang memikirkan hal-hal yang baru saja terjadi secara cepat.
Tiba-tiba dia merindukan kehidupannya yang tenang dengan menikmati fasilitas milik keluarganya tanpa beban.
Namun sekarang, ia tak lagi bisa menikmati kebebasan itu semua. Saat ia masuk sekolah nanti, dirinya yakin tak akan ada lagi teman lelaki yang mengajaknya bermain basket atau olahraga lain.
Tak akan ada lagi para gadis yang mengelu-elukan dirinya saat berjalan di koridor sekolah atau bertanding basket dengan tim sekolah lain.
Komentar pedas yang ditujukan untuknya di berbagai akun sosial medianya sudah mewakili tentang betapa mereka membencinya dengan mencap dirinya sebagai baby sugar untuk seorang tante-tante kaya.
Bahkan beberapa dari mereka ada yang mengirim DM di Insta nya.
[Open BO, gak?]
"Hah, haha." Meski ia merasa kesal tapi nyatanya hanya tawa kecil saja yang bisa ia keluarkan.
Meski begitu, hatinya tak mungkin menyalahkan pernikahan ini atau tentang Sera yang membeberkan semua rahasia pernikahannya.
__ADS_1
Dia sendiri dengan senangnya mencicipi mahkota suci yang diserahkan Ala untuknya. Hanya mengingat aktivitas panasnya saja, badannya kembali memanas dan juniornya seperti menginginkan jatahnya kembali.
Entahlah, beban berat untuk otaknya yang berkapasitas terbatas itu membuatnya lelah secara fisik dan mental. Sejenak ia juga ingin meregangkan masalah yang membelenggu dirinya dengan terlelap meski hanya di atas kursi besi.