Suamiku Bocah SMA

Suamiku Bocah SMA
Episode 28


__ADS_3

Harum sabun menguar dari balik kamar mandi, Ala beranjak keluar setelah selesai membersihkan dirinya.


Ia melihat Felix masih sibuk memegang layar handphone, ada perasaan malu yang muncul dari dalam hatinya kalau mengingat tentang tingkahnya saat mabuk.


Rasa penasaran menelisik batinnya karena sedari tadi mata Felix terlihat masih terjaga.


"Gak tidur, Fel?" Tanya Ala.


Felix menoleh ke sumber suara, ia tertegun sejenak melihat rambut Ala yang masih basah dengan memakai pakaian tidur yang minim. Segera ia berpaling dan kembali fokus menatap gawai nya. "Gak bisa tidur."


"Kenapa gak bisa tidur?" Tanya Ala sambil mencari hair dryer yang belum sempat ia keluarkan dari koper.


Namun Felix hanya diam tak menjawab, fokusnya masih ke gawai membuat Ala mendelik kesal.


Lalu Ala beralih dari koper dan menghampiri suaminya, "Kalau ditanya orang tuh jawab, Fel!"


Dengan enggan Felix menoleh ke arah Ala, tatapannya meneliti dari bawah ke atas. Lalu ia menaruh gawai nya dan berdiri mendekati Ala.

__ADS_1


Sontak hal itu membuat Ala bingung dan reflek memundurkan badannya seiring badan Felix yang terus maju mendekat.


"Ka-kamu kenapa, Fel?" Tanya Ala gugup.


Kaki Felix berhenti, "Gimana mau bisa tidur, kalau lihatnya hal yang kayak gini terus?" Tangan Felix mengelus lembut rambut Ala yang masih basah, lalu turun menyentuh lehernya yang mulus.


Sentuhan Felix sukses mengirimkan setrum ke sekujur tubuh Ala. Tatapan Felix bahkan terlihat berbeda dari biasanya, bukan lagi tatapan tengil ataupun jahil. Melainkan tatapan khalayak pria normal dewasa pada umumnya pada seorang wanita.


"Wajah cantik dengan rambut yang masih basah, kulit putih bin mulus yang menggoda. Aku adalah lelaki yang normal, La! Mana bisa aku tahan dengan godaan yang kamu berikan?" Bisik nya ketika mendekatkan wajahnya ke telinga Ala.


Ucapan Felix yang secara terang-terangan itu membuat pipi Ala memerah, hembusan nafas yang terasa ketika Felix mendekati wajahnya membuat Ala menjadi malu dan pipinya semakin panas.


Alis Felix terangkat satu ke atas. "Emang boleh dilampiaskan?"


Ala menelan saliva nya dalam, "Kan kita udah menikah, jadi kurasa gak ada masalah." Matanya tak berani menatap Felix.


"Yakin?" Tanya Felix dengan menggoda.

__ADS_1


Kali ini Ala menatap lurus ke mata Felix. "Bagiku, menikah bukanlah suatu hal untuk dipermainkan, Fel. Sedari awal, sudah ku siapkan hati dan tubuhku untuk pernikahan ini. Aku.." Ala mengambil napas sejenak dan melanjutkan kalimatnya.


"Aku sudah tahu konsekuensi apa yang akan terjadi ketika dua insan berjanji untuk saling mengikat diri." Imbuhnya dengan mantap.


Pernyataan dari Ala semakin membuat Felix kagum, disaat Felix menganggap pernikahan ini hanyalah sebagai bukti baktinya pada keluarga tapi gadis itu berpikir jauh tentang makna pernikahan itu sendiri. Memang bukan hanya perbedaan usia saja yang jauh, Felix merasa pemikiran antara dirinya dengan Ala juga terbentang jauh.


Yah, meski terkadang dia sedikit-sedikit ngambek, sih! itu hal yang berbeda, kan? Haha.


Tanpa basa-basi lagi, Felix mengecup ringan bibir polos Ala. Lalu mereka saling menatap dalam membuat degup jantung mereka saling terpacu akibat gairah yang kini mulai muncul di tengah-tengah mereka.


Felix mengecup bibirnya lagi dan lagi, hingga kecupan itu berubah menjadi ciuman yang penuh gairah. Meski mereka minim soal pengalaman, biarlah insting yang menggiring dan mengajari apa yang harus mereka perbuat selanjutnya.


Mengalir begitu saja, detik demi detik mereka nikmati untuk saling memuaskan diri. Sesekali mereka mengambil napas lalu melanjutkan kembali kegiatan candu mereka.


Perlahan tapi pasti, berbekal dari pengalaman Felix menonton blue film yang sering ia tonton di komputer pojok kamarnya. ~Hey! Aku yakin hampir semua lelaki pernah menonton hal begituan, bukan?


Ia melakukan penyatuannya dengan Ala, di waktu dini hari waktu Korea Selatan. Kamar hotel di Jeju itu menjadi saksi bisu kegiatan melampiaskan nafsu dan gairah mereka yang sama-sama masih pemula.

__ADS_1


******* dan suara penyatuan menjadi satu membuat kegiatan mereka semakin panas seolah tak ingin berhenti dan terus saling menikmati.


__ADS_2