
Setelah penyatuan mereka yang begitu panjang dan panas, Ala dan Felix terbaring di ranjang dengan napas yang terengah-engah. Bulir keringat menjadi pertanda hasil perjuangan mereka di ranjang tadi.
Ala meraih selimut dan menutupi seluruh tubuhnya. "Maaf ya, Fel." Ucap Ala secara tiba-tiba.
"Untuk apa?" Tanya Felix tanpa membuka kelopak matanya yang terpejam, melepas gairah yang tadinya terbelenggu membuat tubuhnya merasakan lelah dan ngantuk luar biasa.
"Maaf karena aku kemarin pergi menjelajah Jeju sendirian."
"Oh itu, iya udah aku maafin." Tubuh Felix beralih ke samping menghadap Ala.
"Kamu gak marah?" Tanya Ala.
Mata yang tadinya terpejam kini kembali terbuka. "Tadinya marah sih, tapi sekarang udah nggak karena udah kamu bayar pake keperawanan mu."
Ala meninju kecil ke dada Felix. "Ih, apaan sih! Mesum!"
"Hahaha." Tinjuan dari Ala justru membuatnya tertawa geli.
"Tapi kenapa kemarin gak nungguin aku dulu sih? Kan kita akan disini selama 3 hari, jadi gak usah terburu-buru kan bisa." Tanya Felix.
"Emm, itu karena aku terlalu excited, Fel! Untuk urusan luar negeri, aku memang sering bepergian tapi selalu karena pekerjaan. Jadi ini kali pertama aku pergi ke luar negeri untuk liburan." Tukas Ala.
"Oh ya? Kalau gitu habis aku tidur nanti kita jelajahi Jeju sampai kamu puas."
__ADS_1
Mata Ala berbinar. "Oh ya? Kita mau kemana? Kalau aku sih udah buat daftar kemarin pas lihat di aplikasi naver, aku pengen kita naik puncak ke gunung hallasan atau boleh juga kalau menjelajah gua namanya manjanggul! Eh ada juga air terjun yang bagus lho, Fel! Pokoknya kalau bisa kita jelajahi semua, Ya!"
Hening.
"Fel?"
Suara dengkuran yang lirih terdengar membuat Ala menghembuskan napasnya panjang.
"Lagi diajak ngobrol malah udah tidur duluan! Payah!"
Ala beranjak dari kamar menuju ke kamar mandi sambil membawa selimut yang masih membungkus tubuh polosnya.
Hanya membutuhkan waktu 10 menit untuk Ala membersihkan diri karena sebelumnya ia memang sudah mandi.
Saat matanya menatap ke arah jendela, matanya menangkap handphone Felix yang masih tergeletak di atas meja bundar depan jendela. Handphone tersebut terlihat menyala dan seperti bergetar tanpa suara.
Niat hati ia ingin membangunkan Felix untuk melihat gawai nya barang kali ada yang menghubungi, namun melihat wajah yang begitu lelah dan lelap membuat Ala mengurungkan niatnya.
Ia jadi teringat akan handphone nya sendiri yang mati karena baterai yang habis. Diliriknya handphone Felix yang masih bergetar, ia hampiri dan melihat sekilas siapa yang menelepon.
Tertera nama 'Mama' di layar, sebenarnya Ala sedikit takut untuk mengangkat telepon tersebut mengingat itu adalah sebuah privasi.
Tapi akhirnya ia memutuskan untuk mengangkat dengan niat memberitahu bahwa Felix sedang tidur.
__ADS_1
"Halo, Ma."
"Loh, Ala? Felix mana?"
"Iya ma, ini Ala. Felix masih tidur, niatnya mau aku bangunin tapi gak tega pules banget tidurnya."
"Oh gitu, terus kenapa handphone kamu mati? Tadi ibu kamu bilang kamu gak bisa dihubungi."
"Handphone ku baterainya habis, Ma. Ini mau aku charge."
"Kalian sedang ada dimana?"
"Sedang di hotel, Ma? Ada apa? Ada yang mau disampaikan?"
"Gini, La. Sebenarnya keluarga kamu sudah daritadi mencoba menghubungimu tapi susah, jadi mama disuruh untuk menelepon Felix."
Tiba-tiba degup jantung Ala berpacu kencang, ia takut ada sesuatu hal buruk yang ingin disampaikan oleh keluarganya.
"Me-memangnya ada apa, Ma?"
"Berita pernikahan kalian tersebar luas di sosial media, La. Dan sekarang para wartawan sedang berkumpul di sini dan di rumah kamu, hal itu membuat kondisi kakek mu drop."
Mata Ala terbelalak, kakinya menjadi lemas seketika. Tubuhnya hampir ambruk kalau saja ia tidak memegang kursi yang berada di sampingnya. Yang ia khawatirkan bukanlah tentang berita pernikahan yang tersebar luas, namun kondisi kakeknya yang tiba-tiba drop.
__ADS_1