
Tepat di hari sabtu pagi, Felix sudah bergegas pergi menuju ke rumah Aryo. Dia tak memberitahukan alasan yang sebenarnya kemana ia pergi kepada Ala. Karena memang tujuan dia untuk memberi kejutan pada Ala di malam harinya.
Sedang Ala yang ditinggal oleh suaminya hanya melakukan aktivitas santai seperti hari sebelumnya. Yaitu makan snack dan buah-buahan di depan televisi ruang tengah. Sesekali ia fokus untuk mengerjakan pekerjaannya di laptop.
Dia juga sudah menyiapkan sebuah kado untuk mengejutkan Felix nantinya. Sebenarnya ia ingin langsung memberi kejutan itu di pagi hari. Namun melihat Felix yang terlihat begitu tergesa-gesa ia langsung mengurungkan niatnya. Mungkin di malam hari nanti adalah waktu yang tepat. Begitulah yang dipikir oleh Ala.
Sesampainya di rumah Aryo, Felix langsung menghubunginya lewat hape agar Aryo segera keluar rumah. Tujuan mereka adalah ke resto mewah yang berada di tengah kota.
Menurut dari ide yang di sampaikan oleh Aryo, Felix seharusnya memberi kejutan sesuai dengan kelas Ala. Dimana wanita seperti Ala menyukai sesuatu yang berkelas dan elegan.
Jadilah Aryo memberi ide untuk menyewa restoran mewah selama satu malam. Dan memberinya sesuatu yang romantis. Soal biaya, Felix mempunyai uang tabungan yang dari dulu ia kumpulkan melalui pemberian mama papa nya.
"Lo yakin, Yo? Dengan ide kayak gini, Ala bakalan suka?" Tanya Felix sambil mengendarai motornya.
"Gak yakin sih." Jawab Aryo.
Felix yang mendengar langsung menepikan motornya di bahu jalan.
"Asem lu! Terus kenapa ngasih gue ide yang kayak gini?"
"Kan elu nya juga yang setuju, Bego! Harusnya elu yang paling tahu, kira-kira bini lo bakalan suka apa nggak."
"Bener juga ya, tapi jujur gue kok rada' gak yakin ya? Kayak gak tahu bini gue bakalan suka apa enggak."
Aryo mencebik mulutnya. "Bilang aja lo lebih sayang duit."
__ADS_1
"Hehe.. ya itu salah satunya sih." Jawab Felix dengan cengengesan.
"Terus gimana dong, Yo?" Tanya Felix.
"Yaudah kalau lebih sayang duit mah mending dinner di rumah! Gak usah pake embel-embel dinner ke resto mewah!" Ucap Aryo. Dia asal mengatakannya karena sebal dengan respon Felix. Susah payah dia meluangkan sabtu berharganya untuk Felix. Seharusnya hari sabtu menjadi hari rebahan full day untuknya.
Felix menatap wajah Aryo tak percaya. "Cling juga ide lo!"
Aryo mengernyitkan keningnya. "Maksud lo?"
Felix tak menjawab pertanyaan Aryo, ia sibuk mencari hape yang ia taruh di sling bag hitamnya. Dan mencari nama 'Ibu Mertua' di kontaknya, lalu meneleponnya.
Cukup lama dia menelepon Arina, dia ingin meminta tolong pada Arina untuk mengajak Ala pergi dari rumah. Sementara itu, Felix akan mendekor seluruh isi rumah untuk kejutan dinner mereka nanti.
Tiba-tiba dia merasa sedikit sedih, karena ternyata perjalanan untuk lebih mengenal istrinya masih panjang. Masih banyak hal yang belum ia ketahui dari Ala, begitupun sebaliknya.
"Yuk, temenin gue ke toko." Tukas Felix pada Aryo.
"Toko apa?"
"Toko buku." Jawab Felix dengan sebal. "Ya toko perabotan lah."
Sebuah pukulan ditujukan Aryo ke punggung Felix. "Ya kan lu belum ngasih tahu gue tentang ide lo, Bambang!"
"Aduh, kok lo sekarang bisa kuat banget sih mukul orang?" Tanya Felix dengan meringis kesakitan.
__ADS_1
"Selama lo nikah, gue belajar bela diri. Jaga-jaga kalau lo tiba-tiba bego, kan bisa tuh mukul lo biar lebih cling gitu otaknya." Jawab Aryo.
"Eh, kan lo emang udah bego sih ya." Ledek Aryo.
"Anj*r.. gini amat gue punya temen."
"Udah buruan lanjut, kalau dah panas gue gak mau nemenin lo lagi." Ancam Aryo.
"Iya, Tuan putri."
Aryo menggetok helm Felix hingga mengaduh kesekian kalinya. Lalu mereka tertawa entah mengapa. Dan melanjutkan kembali perjalanan untuk mencari barang-barang yang dibutuhkan.
Sementara Ala, dengan berat hati pergi ke luar rumah karena mendadak ibunya menelepon dan ingin ditemani belanja. Padahal Ala sengaja work from home karena rasanya begitu enggan untuk keluar rumah.
"Kenapa harus Ala sih yang nemenin ibu? Fitri kan juga bisa nemenin belanja." Ucap Ala ketika sudah berada di dalam mobil.
Fitri adalah salah satu pembantu di kediaman Heru. Fitri memang yang paling disukai Arina karena kerjanya yang lebih gesit di banding pembantu yang lain.
"Fitri lagi pulang kampung, katanya mau ada lamaran. Tahu sendiri ibu gak mau kalau ditemani yang lain. Lagian apa salahnya sih, temenin ibu belanja? Kamu kan satu-satunya putri ibu." Tukas Arina memasang wajah memelas.
Ala menghembuskan napasnya panjang. "Sebenarnya bukan karena gak mau, tapi gak tahu kenapa rasanya males aja gitu buat keluar rumah."
"Namanya juga hamil muda, La. Nikmatin aja.."
Ala menganggukkan kepalanya. Dia sebenarnya juga begitu menikmati kehamilan ini. Jika dipikir lebih positif lagi, berkat rasa malas semenjak hamil membuatnya bisa mengistirahatkan tubuh dan pikiran yang semula terus tertuju pada pekerjaan.
__ADS_1