
Suara keramaian dari orang saling bercakap-cakap tak mampu membuat fokus Ala terpecah. Baginya, fokusnya saat ini begitu terserap kepada gadis tinggi di depannya. Ala kembali menyeruput ice americano kesukaannya. Dia harus tetap tenang, meski saat ini hatinya benar-benar berusaha keras untuk menahan rasa kesal akibat gadis di hadapannya itu. Bagaimana tidak kesal? Dari awal janjian bertemu, dia sudah terlambat lebih dari 10 menit lamanya.
Waktu istirahatnya yang berharga di sela kerja, harus terbuang sia-sia karena menunggu kedatangan seorang gadis yang bahkan juga memanggilnya tante. Kesabarannya benar-benar diuji untuk saat ini, tapi dia tak mungkin untuk mempermalukan diri hanya untuk menghadapi Hilda. Ya, sekarang Ala dengan berani menghadapi Hilda seorang diri.
Mata Ala menyipit. Memang ia akui, meski tanpa memakai riasan Hilda mempunyai kecantikan alami. Beanie hat yang di pakainya pun benar-benar menambah kesan apik di wajahnya. Atasan sweater panjang dengan rok pendek lipit membuat tinggi Hilda begitu menonjol ketika berjalan.
Hilda berdeham, merasa tidak enak karena wajahnya yang terus menerus digerayangi oleh Ala tanpa basa-basi. "Tante.. kita mau membicarakan hal penting apa?"
Hati Ala berdenyut. Sekali lagi Ala mendengar kata 'tante' dari mulut Hilda, mungkin Ala sudah akan mencakar wajah cantik itu. Tapi dia tersenyum, berusaha untuk tidak menunjukkan kekesalannya. "Kenapa kamu manggil saya tante terus?"
Alis kanan Hilda meninggi. "Bukankah umur tante memang terpaut jauh denganku?"
Sial! Aku harus sabar.
"Memang. Tapi kamu bukan keponakanku yang punya kewajiban memanggil 'tante'. Panggil saja aku 'kak', itu lebih enak untuk didengar." Jawab Ala.
"Kalau aku enggak mau?"
__ADS_1
"Yah, kalau gitu lain kali kamu juga harus manggil Felix dengan sebutan 'om'. Karena bagaimanapun dia itu suamiku, gak mungkin kan kalau kamu cuman manggil aku 'tante' tanpa manggil dia dengan 'om'? Gak sopan." Tatapan Ala lurus menatap ke mata Hilda.
Sekilas Ala menahan tawa karena melihat perubahan mimik wajah Hilda yang menunjukkan kekesalannya. "Terus mau kak Ala apa? Cepetan ngomongnya, karena aku masih ada hal yang lebih penting yang mau aku urus."
Ala mendengus. Keluar deh sifat aslinya!
"Aku mau denger alasan kamu ngajak suamiku kemarin berpelukan di tempat umum." Jawab Ala tanpa basa-basi.
Terlihat Hilda tersenyum mengejek. "Cuma mau tanya itu?"
Kening Ala mengernyit dalam. Jelas dia merasakan Hilda sedang menghinanya.
"Hah! Memang ya.. buah jatuh tak jauh dari pohonnya." Sebenarnya Ala benci menggunakan kata-kata itu. Tapi untuk menghadapi gadis menyebalkan di depannya, dia harus menjatuhkan harga diri gadis itu.
Tangan Hilda mengepal erat. Tatapannya begitu tajam ke arah Ala. "Apa maksud kakak?"
"Aku tahu alasan kedua orang tuamu bercerai. Kalau kamu berani melakukan hal yang senonoh dengan suami orang kemarin, tentu kamu gak ada bedanya dengan ibu kamu, Kan?" Bisik Ala dengan memajukan wajahnya. Sengaja agar Hilda mendengar jelas ucapan dari Ala.
__ADS_1
Mata Hilda terbelalak. Dia tak menyangka Ala mengetahui penyebab kedua orang tuanya bercerai. Apa Felix yang ngasih tahu? Tapi Felix tidak mengetahui bahwa perceraian terjadi karena ibunya selingkuh dengan pria yang masih berstatus suami orang lain.
"See? Sekarang kamu tahu kan perbedaan posisi kita seperti apa? Aku peringatkan, Ya! Felix adalah suamiku, dia hanya merasa kasihan melihatmu yang terus terluka." Mata Ala sejenak menatap pergelangan tangan Hilda di bagian kiri.
"Kamu juga jangan berharap dengan menggunakan kelemahan Felix untuk membuatnya kembali, bahkan dengan membohonginya sekalipun!" Imbuh Ala.
Hilda kembali tersentak. Matanya mengikuti pandangan Ala yang mengarah pada pergelangan tangan kirinya. Tidak ada perban, tidak ada bekas luka. Sontak dia menutupinya dengan sweater panjangnya.
Melihat Hilda sudah terpojok dan terdiam. Ala kembali menyerangnya. "Lebih baik kamu pikirkan sekali lagi jika ingin mendekati Felix, bukan hanya kamu yang akan terpojokkan. Lain kali, akan aku buat ayahmu yang bekerja sebagai jurnalis pun bisa terkena dampaknya."
Tentu Hilda kalah telak setelah mendengar ucapan Ala. Dia hanyalah seorang gadis SMA sama seperti Felix. Ayahnya yang seorang jurnalis pun tak mempunyai pengaruh kuat apapun dibanding Ala yang merupakan seorang konglomerat. Dirinya harus berpikir ulang lagi jika ingin mendapatkan hati Felix kembali.
Tangan Hilda gemetar. Dia merasa tak sanggup untuk membalas kata apapun. Menahan segala penghinaan yang ditujukan untuknya.Tapi apalah dia?
Melihat itu, Ala sudah merasa cukup. Lagi pula, berada di depan wajah menyebalkan itu terlalu lama sungguh membuat dirinya jenuh dan mual. "Ingat baik-baik perkataan ku! Aku benar-benar tidak akan diam kalau kamu masih berani berbuat hal yang menjijikkan untuk menjebak Felix lagi." Suara Ala memang terdengar datar. Tapi bagi Hilda itu cukup untuk membuat bulu kuduknya berdiri. Tanpa menunggu jawaban dari Hilda. Ala meraih tas jinjingnya dan melenggang pergi meninggalkan Hilda.
Mata Hilda memanas, lalu sukses mengeluarkan lelehan bulir air matanya. Dia baru tersadar, bahwa Ala dengan dirinya mempunyai perbedaan yang begitu besar. Meski usia Ala begitu jauh dengannya, tapi dia mempunyai pengaruh dan harta. Dia benar-benar bisa melakukan apapun dengan dua hal itu.
__ADS_1
Sedang Ala yang sudah berada di dalam mobil, hanya termenung memikirkan tindakannya tadi. Kali ini ia tak akan hanya duduk diam melihat seseorang mengusik miliknya. Apalagi dia mengetahui kelemahan Felix sedang di manfaatkan oleh orang lain, jelas dia tidak terima. Kalau bukan dirinya yang bertindak siapa lagi?