
Dengan perasaan galau, Felix memutar balik arah untuk pulang.
Perkataan barusan yang di katakan oleh Hilda terus terngiang di benaknya. Saat dia masuk rumah, mandi, bahkan saat makan malam satu meja berhadapan dengan istrinya.
"Fel, kenapa gak dimakan? Gak enak?" Tanya Ala.
"Eh, e.. enggak kok. Enak."
Memikirkan tentang Hilda bukan berarti pertanda hati masih cinta. Dia hanya merasa kasihan pada Hilda yang masih terjebak masa lalu. Ditambah penyakit mental yang masih bersarang di tubuh Hilda membuatnya semakin tak tega untuk bersikap dingin kepadanya.
Sedang dirinya? Dia harus mengakui perasaannya terhadap Hilda dulu memang tulus karena cinta. Cinta yang masih harus dipupuk agar semakin bertumbuh.
Namun seiring bertambahnya waktu, cinta yang baru tumbuh itu sekarang pupus. Tidak ada lagi cinta dalam hatinya, berganti menjadi cinta baru yang sedang duduk menikmati santapan malamnya.
"Kamu laper atau rakus, sih?" Felix begitu gemas memandang baby face istrinya. Orang yang belum mengenalnya tidak akan tahu bahwa dia akan menginjak usia kepala tiga tahun depan.
"Hehe, gak tahu tadi sore rasanya perutku kayak lapeeer banget. Tadi aja sebelum makan ini, pas perjalanan pulang aku udah minum es cendol yang dijual di pinggir jalan habis dua gelas. Terus croffle yang dijual di depan kompleks habis tiga biji." Cerocos Ala dengan mulut masih penuh dengan makanan.
Felix terkekeh geli mendengar curhatan istrinya. "Kalau masih laper nih punyaku dimakan juga boleh."
"Emang kamu tadi udah makan?"
"Belum, tapi lihat kamu makannya lahap aku jadi kenyang."
"Ih, udah kayak bapak-bapak aja."
"Kenapa jadi bapak-bapak?"
"Iya, dulu ayahku suka bilang gitu kalau aku makan banyak sewaktu kecil."
Kali ini Ala menenggak habis segelas air putih dingin yang berada di depannya. Lalu beranjak dari kursi untuk mengisi segelas air dari kulkas.
"Gak dingin?" Tanya Felix.
"Apanya?" Ala menenggak lagi air putih dingin hingga tersisa setengah gelas.
__ADS_1
"Itu yang kamu minum."
"Nggak."
Ala mengambil piring kotornya yang sudah bersih menuju ke wastafel.
"Loh? Punyaku gak jadi kamu makan?"
"Nggak."
Kedua alis Felix bertaut. Terkadang dia merasa bingung pada sikap Ala yang selalu berubah-ubah. Kadang ramah dan ceria, kadang jutek dan begitu cuek.
"Apa jangan-jangan, Ala juga mengidap penyakit mental kayak Hilda?" Gumam Felix.
"Siapa Hilda?"
Suara Ala mengagetkan Felix yang ternyata masih berada di belakang dan mendengar dia bergumam.
"Oh, itu.. anjing belakang rumah." Jawab Felix asal-asalan.
Felix menghembuskan napasnya panjang. Dia merutuki kebodohannya yang selalu bergumam dan terdengar oleh Ala.
"But wait! Kok gue kayak orang yang lagi takut kepergok istri karena selingkuh, Ya? Gue kan gak merasa sedang selingkuh." Ucap Felix pada dirinya sendiri.
"Bodo amat deh. Mending gue makan, mikirin satu cewek aja dah susah. Boro-boro mau nambah cewek buat dijadiin selingkuhan."
***
Disisi lain, ada seorang yang tak kalah galau memikirkan seorang wanita. Asoka terus menerus memandangi layar hapenya, berhari-hari dia mencoba untuk menghubungi Sera.
Namun nihil, dia bukan hanya mengirim chat lewat aplikasi hijau. Berbagai usaha sudah ia lakukan, chatting melewati DM, messenger, dan melalui sms biasa pun tetap tak ada tanda-tanda dari Sera.
Padahal seharusnya dia tak akan di teror oleh netizen karena masih ada yang belum bisa mengungkap identitas Sera di sosial media.
Hanya satu hal yang muncul di benaknya, dia harus menghampiri Sera di rumahnya.
__ADS_1
Dan disinilah dia sekarang, berada di depan rumah Sera. Lalu dia memutuskan untuk keluar dari mobil dan menuju ke satpam yang sedang duduk di ruangannya.
Dia membuka masker dan bertanya. "Permisi, pak. Apa Sera ada di dalam rumah?"
"Maaf, mas. Ada perlu apa ya?" Tanya satpam yang bernama 'Rudi', terlihat dari name tag yang melekat di seragamnya.
"Saya temannya, sampaikan saja nama saya Asoka. Suruh dia untuk turun menemui saya." Titah Asoka.
"Waduh.. tapi non Sera nya sedang sakit, Mas."
"Sakit apa?"
"Saya gak tahu, yang jelas baru di bawa kemarin malam ke rumah sakit sama Tuan Arnold dan Nyonya Sarah."
"Rumah sakit mana, Pak?"
Rudi mengamati sejenak penampilan Asoka dari atas ke bawah, memikirkan sejenak apakah ia bisa mempercayai pria asing di depannya.
"Tenang, Pak. Saya bukan orang sembarangan kok. Saya juga kenal dengan Pak Arnold dan Ibu Sarah, mereka berdua rekan bisnis kedua orang tua saya." Tukas Asoka.
"Baik, deh. Tapi sebagai gantinya, saya harus memfoto mas dulu ya.. sebagai bukti untuk saya kirimkan ke Nyonya."
"Iya. Buruan cepat! Saya harus segera ke rumah sakit ini."
"Sudah mas." Ucap Rudi setelah berhasil memotret Asoka.
Keningnya mengernyit. "Kok wajahnya kayak pernah liat ya mas."
"Alah, udah deh pak. Cepetan kasih tahu rumah sakitnya dimana."
"Rumah sakit JHI, lantai 17 ruang anggrek." Jawab Rudi.
"Okedeh, makasih Pak." Teriak Asoka sambil berjalan menghampiri mobilnya.
Saat akan memutar mobilnya, dia sedikit membuka jendela mobil dan menengok ke arah Rudi.
__ADS_1
"Oiya, Pak. Saya itu seorang aktor, pemeran Nino di sinetron 'Surat Cinta'. Makasih ya infonya!!" Teriak Asoka lalu melajukan mobilnya meninggalkan Rudi yang masih melongo di ruangannya.