
"Maksud kakak, Sera yang nyebarin berita pernikahan kemarin?" Tanya Felix.
"Iya, kenapa?" Asoka benar-benar bertanya dengan polosnya.
"Soka, kamu tahu kan umur Sera berapa?" Giliran Arina yang bertanya.
"Tahu, dia seumuran Felix kan? Memang ada apa sih?"
"Usia kalian kan terpaut jauh." Kini Hiromi yang bertanya.
"Tapi kan Felix dan Ala juga terpaut jauh, but see.. gak ada masalah tuh."
Sontak semuanya terdiam, lalu tiba-tiba Heru tertawa ditengah kepanikan keluarganya.
"Baiklah, kalau kamu memang serius dengannya tak apa. Bawa dia ke hadapan kakek jika kamu ada waktu senggang."
"Untuk apa?" Tanya Asoka.
"Ya untuk membicarakan hal yang lebih jauh, dong."
Mampus gue!
"Tapi kek, apa harus langsung ke jenjang yang serius? Sera kan masih kecil, hubungan kami pun belum terlalu dalam." Asoka mencoba mengelak, ia tak berpikir bahwa ternyata Heru menerimanya begitu saja.
"Tak apa, yang terpenting bawa dulu saja ke tempat kakek. Tentu kamu gak mau membuat kakek kecewa kan?"
"Iya, kek."
Terpaksa Asoka menyetujui permintaan dari Heru. Ia tak mau melepas kesempatan untuk merajut kembali hubungan baik dengan Heru. Kesempatan emas tak boleh begitu saja untuk dilewatkan.
__ADS_1
***
Keesokannya, Felix bersiap untuk segera masuk ke sekolah. Dia sudah menyiapkan fisik dan mentalnya ketika dia bertemu dengan orang-orang nanti. Entah apa yang akan di dapatkannya, dia harus bersiap diri untuk kemungkinan yang paling terburuk. Seperti dibully misalnya?
Lalu dia turun ke lantai bawah untuk mencari sosok istrinya. Ia edarkan pandangannya di sekeliling namun tak juga menemukan batang hidung wanitanya.
"Mbok, Ala kemana?" Tanya Felix kepada Mbok Ijah, pembantunya.
"Baru jogging, Tuan."
Felix baru teringat bahwa rutinitas Ala di pagi hari memang selalu berolahraga. Lalu Felix duduk dan menyambar jus jambu, menenggaknya dengan cepat hingga habis tak tersisa. Kemudian menyambar sandwich, dan bergegas untuk keluar rumah.
"Oiya, mbok. Bilang ke Ala kalau aku udah berangkat sekolah ya!" Teriak Felix dari kejauhan.
"Iya, Tuan."
Sebelum menaiki motor, dia memasang handset ke telinganya dan memutar lagu k-pop kesukaannya. Dari nct dream - Life is still going on.
Membuatnya sedikit santai dan berpikir lebih tenang, di perjalanannya menuju sekolah pun seperti tidak terlalu terasa karena dia benar-benar menikmatinya.
Setelah memarkirkan motornya, ia melepas helm dan handsetnya. Lalu ia melihat beberapa gadis meliriknya sambil berbisik
Jika dulu, pasti itu adalah lirikan suka dan tergila-gila. Kalau sekarang? Entahlah, Felix mengira pasti itu lirikan jijik dan sedang berbisik sesuatu yang buruk tentangnya.
Kepercayaan diri dalam Felix tetap ada dalam hatinya, meskipun beberapa ejekan sudah ia dapatkan dari parkiran sampai perjalanannya menuju kelas.
Ada yang berbisik-bisik sambil melihatnya, mengatainya murahan secara jelas bahkan ada yang melemparinya bola kertas dari arah atas. Ketika Felix mendongak, tak mendapati satu orang pun pelaku yang melempar. Ia hanya mendengar suara cekikan yang ia yakini si pelaku yang melempar.
It's okay! Gue jadi tahu siapa yang tulus dengan gue dan yang nggak.
__ADS_1
"Bro! Udah gue tunggu daritadi. Gue kira lo gak masuk sekolah." Ucap Aryo dari bangku kursinya.
"Yoi, gue mandi dulu tadi. Biasanya kan cuma cuci muka terus langsung cabut ke sekolah." Jawab Felix dengan candaan.
"Buahaha, gila sih lo! Habis nikah jadi rajin ya lo sekarang?"
"Harus dong! Kan gue sekarang kepala keluarga." Jawab Felix dengan bangga.
"Eh, Fel. Emang nikah enak ya?"
Felix menoleh dan mendapati Lukman and the geng menatapnya dengan mimik penasaran. Bibir Felix mengulum senyum, ternyata tidak semua teman mengabaikan atau mengejeknya.
"Enak. Tapi tergantung dengan siapa lo menikah."
"Maksud lo?"
"Kalau nikahnya sama orang 'kaya' macem bini gue, dijamin lo gak bakal nyesel menikah. Secara udah cantik, pinter, duit mengalir. Gak usah pusing-pusing mikirin kerja dan lain-lain. Bisa lanjut sekolah dan masih bebas ngelakuin kegiatan lain."
"Wah bener juga lo ya. Besok gue mau cari bini kaya ajalah." Jawab Lukman.
"Eh gak gitu juga lah, Pentol! Nikah itu gak segampang yang lo kira!" Celetuk Arif salah satu geng Lukman.
"Yee, emangnya lo tahu? Kan lo belum pernah nikah."
Perdebatan dari Lukman and the geng masih terus berlanjut. Felix yang melihat hanya ikut tertawa dan sesekali menimpali mereka.
Ketika matanya menoleh ke arah jendela, matanya terbelalak menangkap sosok wanita yang dulu pernah ia rindukan. Berkali-kali Felix mengerjap matanya, mencoba meyakini sosok itu apakah benar adanya.
"Fel, Hilda nyariin lo tuh." Aryo menepuk bahu Felix membuatnya yakin bahwa sosok itu memang benar Hilda.
__ADS_1
Hilda tengah menatapnya dengan senyum cerah seperti dulu saat Felix masih mencintainya.