
"Hai." Sapa Hilda ketika Felix sudah berada di depannya.
"Hai, apa kabar?"
Terasa begitu canggung bagi Felix ketika berhadapan dengan Hilda.
Gadis itu masih sama, tingginya yang semampai hampir mengikuti tinggi badan Felix. Senyum manis ceria selalu ditampakkannya, dan suaranya selalu menenangkan untuk didengar.
"Baik, kamu apa kabar?"
Mata Felix menangkap sesuatu pada tangan Hilda. Dia memakai kain kecil yang di ikat pada pergelangan tangan kirinya.
Sontak Felix meraih pergelangan tangan Hilda dan membukanya dengan cepat.
Lalu Felix termenung menatap nanar bekas luka yang ternyata masih sama seperti dulu. Bahkan Felix yakin bekas luka itu seperti diperbarui.
"Apa ini yang kamu bilang baik?" Tanya Felix.
Hilda menunduk dan menarik pergelangan tangannya. "Itu.. bukan urusanmu, Fel."
"Kenapa itu bukan urusanku?"
"Kamu kan udah menikah." Suara Hilda lirih namun Felix sempat mendengarnya.
"Memang kenapa kalau aku udah menikah? Kita kan masih bisa berteman?"
Hilda tersenyum miris. Teman? Dulu Hilda yakin Felix begitu memuja dirinya, kalau saja dia tidak pergi untuk mengikuti papanya ke luar negeri mungkin hubungannya dengan Felix akan semakin berkembang dan menjadi lebih serius.
Tidak seperti sekarang ini. Begitu canggung dan kikuk seperti orang asing yang baru kenal. Bulir air matanya mulai menggenang di pelupuk mata.
Suara bel masuk terdengar. "Kita lanjutin obrolan kita nanti. Sana buruan masuk." Ucap Felix sambil berlalu meninggalkan Hilda.
Kelas Hilda dan Felix hanya terletak bersebelahan. Dulu Hilda sekelas dengan Felix, namun setelah balik dari luar negeri dia mendapat kelas yang berbeda.
__ADS_1
Setelah jam pelajaran akhir selesai, Felix kembali mencoba mencari Hilda. Tadi saat jam istirahat gadis itu sama sekali tak terlihat. Membuatnya sedikit khawatir jika terjadi sesuatu padanya.
Berlarian ke sana kemari dan menanyakan pada seseorang yang dilewatinya berharap segera menemukan gadis itu. Sial! Felix merutuki dirinya sendiri, andai dia meminta nomor hape baru gadis itu pasti dia tidak akan kesusahan seperti ini.
Bahkan Felix sampai menuju ke atap gedung, berjaga-jaga jika dia menuju ke atap dan melakukan hal-hal yang sembrono untuk dilakukan.
Bukan apa-apa, tapi Felix begitu paham apa yang selama ini terjadi pada Hilda. Dulu yang Felix ketahui, Hilda mengidap gangguan depresi mayor yang membuatnya terus menerus melakukan percobaan menyakiti atau bahkan membunuh dirinya sendiri.
Hanya Felix yang mengetahui penyakit kelam yang di derita Hilda. Senyum ceria yang sering ditampakkannya adalah palsu. Sifat tomboy dan seolah kuat yang ditunjukkan juga tak kalah palsunya. Dia gadis yang terlihat kuat di luar namun nyatanya begitu rapuh di dalam.
Dengan mengendarai motornya, dia keluar dari halaman sekolah. Di jalan matanya ikut mengawasi lingkungan sekitar yang ia lewati. Berharap bertemu Hilda sedang berjalan santai dan tak terjadi sesuatu apapun padanya.
Lama dia mencari, beruntung Tuhan mempertemukan dirinya dengan Hilda. Sedang menatap kosong di sebuah taman tak jauh dari lingkungan sekolah.
Felix memarkirkan motornya di pojok taman, sejenak ia mengikuti pandangan Hilda yang ternyata sedang mengamati gadis kecil bermain sambil bergandengan tangan dengan ibunya.
Felix melangkahkan kakinya menghampiri sosok rapuh itu. "Hei, are you okay?" Tanya Felix.
Hilda menoleh, wajahnya begitu pucat dan murung. Namun sedetik kemudian menunjukkan wajah cerianya yang palsu.
"Yah, sekedar lewat terus tak sengaja melihatmu disini."
Hilda menganggukkan kepalanya.
"Sini duduk." Ajak Hilda sambil menepuk bangku besi taman di sampingnya.
Felix mendudukkan pantatnya di bangku. Menatap dalam wajah yang masih pucat itu, angin sore mengibarkan rambut sebahunya. Jika dia tidak menikah dengan Ala, pasti dia dan gadis itu masih terus bersama.
"Fel, siapa nama istrimu?" Tanya Hilda membuyarkan lamunannya.
"Ala.. Alamanda."
"Nama yang cantik, seperti orangnya."
__ADS_1
"Memang kamu pernah melihat wajahnya?"
"Pernah, di sosial media."
"Oh iya."
"Fel, apa kamu mencintainya?"
Felix terhenyak mendengar pertanyaan tiba-tiba yang diajukan oleh Hilda.
"Memang kenapa?"
"Gak apa-apa, hanya ingin bertanya saja."
"Menurutku, itu hal yang privat. Tidak perlu untuk diumbar dengan orang lain."
Hati Hilda perih mendengar kata orang lain dari mulut Felix. Mulut yang dulu pernah menciumnya mesra sebelum perpisahan di bandara.
Kepergiannya ke luar negeri ikut papanya bertujuan untuk mengurangi gangguan depresinya.
Kedua orang tuanya sudah lama bercerai. Sewaktu kecil, Hilda di bawah pengasuhan mamanya dan mendapat kekerasan fisik hingga membuatnya kesulitan untuk berkomunikasi.
Setelah itu hak asuh diambil alih oleh papanya, beranjak remaja membuat papanya mengetahui bahwa Hilda mengidap depresi. Berbagai pengobatan dari psikiater sudah papanya tuju untuk meraih kesembuhan Hilda.
Ditengah perjuangannya untuk sembuh, saat itulah Hilda mengenal Felix dan membuka perlahan hatinya untuk menerima Felix.
Sifat tulus yang ditunjukkan Felix seolah memberi cahaya untuk kehidupan Hilda yang begitu kelam.
Hilda meraih cahaya itu dan berharap selamanya cahaya itu akan ada selalu untuknya dan tak akan pernah padam.
Tapi saat Hilda mendengar berita pernikahan Felix yang tiba-tiba, dia merasa cahaya itu sudah dirampas oleh wanita lain, membuatnya kembali tenggelam dalam kegelapan.
"Fel, kalau kamu tanya kepadaku. Apa aku masih mencintaimu.. Aku akan dengan tegas menjawab aku masih mencintaimu. Masih ada rasa yang membekas dalam hati untukmu."
__ADS_1
Felix menatap dalam sorot mata Hilda yang begitu serius, mencoba mencari kesungguhan dibalik kalimat yang barusan dilontarkan.
"Tak usah menatapku seperti itu. Aku tahu kamu mencari ku sampai sini karena ini bukan jalan yang biasa kamu lalui untuk pulang. Aku pulang dulu ya!" Hilda beranjak dari bangkunya dengan masih memasang senyum palsunya.