
Hampir pada pukul tujuh malam Ala baru sampai di rumahnya. Seketika kedua alisnya saling bertaut karena mendapati keadaan luar rumah yang begitu sepi.
Terlihat dari luar kondisi rumah gelap, seperti sama sekali belum dinyalakan lampu oleh sang penghuni rumah. Setelah menutup pintu mobil, dirinya berjalan dengan sedikit kesal.
Pembantu di rumahnya ada dua orang, sedang tukang kebun dan sopir masing-masing ada satu orang. Namun mengapa tiada satupun dari mereka yang menyalakan lampu di rumahnya? Jika pun mereka pergi, seharusnya memberitahu pada Ala sebelumnya. Tapi di aplikasi chat nya sama sekali tidak ada pesan yang masuk dari para pekerja rumahnya.
Ketika dia memegang gagang pintu dan membukanya, matanya terbelalak karena mendadak di atas terdapat beberapa lampion kecil berwarna merah muda yang menggantung.
Dengan ragu, ia melangkahkan kakinya melewati ruang tengah yang ternyata di lantai terdapat banyak taburan kelopak bunga mawar.
Taburan kelopak bunga mawar itu seakan memang sengaja dibuat untuk penunjuk arah. Di tengah suasana yang remang-remang, ia berjalan mengikuti arah kelopak bunga mawar itu. Degup jantung Ala semakin kencang karena sedang menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi pada rumahnya.
Saat kakinya menaiki anak tangga, perlahan suara alunan musik piano mengiringi langkahnya. Semakin ke atas, alunan musik itu semakin terdengar.
🎵Heart beats fast
Colors and promises
How to be brave
How can I love when I'm afraid to fall
But watching you stand alone
All of my doubt, suddenly goes away somehow
One step closer.. 🎵
Hingga akhirnya langkahnya sampai di depan kamarnya yang terbuka. Dia mendapati Felix tengah berdiri di depan pintu seolah memang sedang menunggunya.
Felix mengulum senyum, meskipun hanya lampion-lampion kecil yang menerangi suasana saat itu. Justru membuat Felix yang sedang tersenyum manis kepadanya menjadi paling yang cerah dan bersinar.
Ala tak dapat lagi mengungkapkannya dengan kata-kata. Lidahnya kelu karena haru sekaligus bahagia yang dirasakannya. Air matanya hampir menetes ketika melihat Felix dengan senyum malu-malu nya mencoba menyanyi dengan iringan suara penyanyi yang asli.
"I have died everyday, waiting for you.
Darling, don't be afraid, I have loved you for a thousand years..
I'll love you for a thousand more."
Suara Felix memang tidak terdengar sebagus penyanyi pada umumnya. Namun ketulusan dalam kalimat yang dia ungkap melalui lagu itu membuat Ala akhirnya meneteskan air matanya.
__ADS_1
Dia tak menyangka bisa terharu dengan kejutan sederhana seperti ini.
"La.. Kamu gak apa-apa?" Tanya Felix dengan panik, dia menghampiri sang istri lalu mengusap lembut air mata yang menetes di pipi.
"Apa kamu gak suka dengan kejutan ku ini?" Tanya Felix sekali lagi.
Ala menggeleng kepalanya dengan kuat. "Aku suka."
"Terus kenapa menangis?"
"Because.. this is so sweet." Jawab Ala.
Hati Felix menjadi lega setelah mendengar Ala menyukainya. Tidak sia-sia selama beberapa jam tadi ia dan semua pekerja di rumah memasang perabotan ini semua untuk membuat kejutan.
"Kamu tahu, meskipun kita baru mengenal beberapa minggu lamanya. Tapi yakinlah, aku orang yang setia dengan satu cinta." Tukas Felix.
Ala memberi pukulan kecil ke dada Felix. "Gombal! Bukannya kamu punya julukan playboy sebelum nikah sama aku?"
Felix terkekeh. "Iya sih, tapi itu karena aku memang cuma menganggap semua itu sebuah permainan."
"Jadi, kamu juga nganggep ini sebuah permainan?" Tanya Ala.
"Haduh.. Kamu itu katanya pinter? Tapi persoalan cinta aja nol.." Felix meraih kedua tangan Ala dan menggenggamnya.
Tatapan Felix menjadi sendu di mata Ala. Entah kenapa tadi dia merasa takut jika suatu hari Felix meninggalkannya. Dia takut kalau Felix hanya mempermainkannya.
"Kenapa kamu gak jawab pernyataan cintaku, La?" Tanya Felix lagi.
Dengan tersipu malu, Ala menjawabnya dengan lirih. "I love you too.." Dia benar-benar tak pandai persoalan merangkai kata.
"Apa? Aku gak denger?" Felix menggoda Ala dengan pura-pura tak mendengar jawabannya.
"Hihh.. I love you too!!" Pekik Ala dengan sedikit sebal, ia tahu kalau Felix memang sedang menggodanya.
"Kok gitu sih? Gak romantis kayak aku tadi, kalau gitu kamu juga harus nyanyi buat jawab pernyataan cintaku." Tantang Felix.
"Kenapa harus pake nyanyi?"
"Kan aku tadi nyatain cinta pake nyanyi, biar adil kamu juga harus nyanyi dong!"
"Eh! Itu.. apa yang ada di atas meja?" Tanya Ala berusaha mengalihkan. Lalu beranjak dari hadapan Felix dan menuju ke balkon.
__ADS_1
Felix memutar kedua bola matanya. Gagal deh mo ngerjain bini!
Ala terperangah dengan pemandangan di balkon yang sudah disulap oleh Felix menjadi tempat dinner yang begitu indah.
Masih dengan lampion-lampion kecil yang kali ini juga di pasang di dinding. Namun kali ini lampion itu berwarna putih cerah. Begitu kontras dengan langit gelap yang berada di luar.
Di tengah meja juga terdapat classic chandelier yang bisa memuat 3 lilin di atasnya. Rangkaian bunga tulip ungu dan merah juga menambahkan kesan cinta yang kuat dari Felix.
Felix memeluk istrinya dari belakang dan melingkarkan tangannya di perut Ala.
"Gimana? Kamu suka?"
Ala hanya menganggukkan kepalanya.
Lalu Felix melepas pelukannya dan mengambil sesuatu dari dalam kamar. Setelah itu dia ke balkon dan menyerahkan sebuket bunga untuk istrinya.
"Sesuai namamu, sebuket bunga Alamanda."
Ala semakin terharu, dia langsung menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan Felix. "Makasih, Fel. Aku gak tahu mau gimana lagi buat berkata-kata. Yang jelas, ini benar-benar sebuah kejutan untukku."
Ala melepas pelukannya dan menatap dalam ke arah Felix. Lalu entah siapa yang memulai, mereka sudah saling menyatukan bibir. Felix semakin merapatkan tubuh mungil milik Ala.
Disaat ciuman mereka sudah semakin panas, tiba-tiba suara cacing yang bergemuruh terdengar membuat kegiatan mereka berhenti dan melepas tawa.
"Haha, kamu udah laper, La?" Tanya Felix.
"Hehe, iya."
"Yaudah yuk, makan. Aku juga ada kejutan buat kamu lagi."
"Lagi?"
Felix tak menjawab dan menepuk kan tangannya seperti memanggil seseorang.
Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara langkah kaki beberapa orang, ternyata mereka adalah pembantu dan tukang kebun Ala. Masing-masing mereka membawa hidangan yang ditutup dengan penutup piring berbahan stainless steel. Serta membawa dua gelas minuman berwarna coklat.
Setelah semua itu di sajikan didepan Ala dan Felix, salah satu pembantu Ala membuka penutup piring. Terlihat steak daging besar yang begitu menggoda nafsu makan Ala.
Lalu Ala melihat gelas besar berwarna coklat yang diisi es batu di dalamnya. "Ini apa?"
"Oh, itu es teh."
__ADS_1
"Es teh?" Pekik Ala. Jelas ia begitu kaget karena baru kali ini ada yang memadu steak dengan es teh. Biasanya ia makan steak dengan meminum segelas jus cranberry karena memang tidak suka meminum wine.
"Iya, aku gak mau minum minuman beralkohol. Takut kalau kamu mabuk lagi kayak waktu di Jeju." Jawab Felix dengan berbisik.