Suamiku Bocah SMA

Suamiku Bocah SMA
Episode 62


__ADS_3

Di akhir pekan kali ini, Felix hanya ingin bermalas-malasan bersama Ala dalam kamarnya. Tak ingin sedetikpun meninggalkan kebersamaan yang akan mulai berkurang pada hari senin besoknya.


Mulai hari senin, dari pagi hingga malam Felix akan sibuk dengan sekolah dan les khusus masuk ke kuliahnya. Mungkin akan terlambat mengingat yang lain sudah memulai persiapan jauh sebelum dia memulai. Tapi Ala selalu menyemangatinya, apapun nanti hasilnya dia tetap harus berusaha untuk belajar. Usaha tidak akan mengkhianati hasil.


"Fel, geser dong. Aku mau mandi." Ujar Ala dengan menggeliat di balik selimutnya. Tubuhnya di kunci oleh Felix.


"Ngapain mandi? Tidur lagi aja." Jawab Felix dengan mata masih tertutup.


Ala memutar kedua bola matanya. "Kan ini hari sabtu, aku masih harus kerja."


Mata Felix terbelalak hingga menampilkan matanya yang memerah. Rasa kantuk masih masih belum sepenuhnya hilang. "Nggak bisa libur aja? Kamu gak mau berduaan denganku seharian?" Mulutnya manyun dengan bola mata yang membesar berharap bisa meluluhkan hati Ala.


"Gak bisa, kamu kira jadi bos tuh bisa seenaknya libur? Aku udah berkali-kali libur sewaktu teler.. mana mungkin sekarang juga mau libur tanpa alasan yang jelas?" Ala menyibak selimutnya dan mulai beranjak dari kasur.


"Bilang aja kamu nemenin suami, perintah suami kan harus ditaati." Tukas Felix membuat Ala menghentikan langkahnya.


Kedua alis Ala saling bertaut dan menoleh ke arah suaminya. "Sejak kapan kamu jadi pintar ceramah?"


"Baru aja."


Ada-ada aja.


Ala tak menggubris ucapan Felix dan melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi.


***


Suara handphone berdering terdengar membuat Felix menggeliat di balik selimutnya. Tangannya mencoba meraih benda pipih yang tergeletak di atas nakas. Matanya ia buka sedikit untuk melihat siapa yang berani mengganggu tidurnya.


Sedetik kemudian matanya terbelalak ketika otaknya sudah berhasil membaca nama yang tertera di layar hapenya. "Mama!" Pekiknya.


"Halo, mama."


"Feliiiix!!" Pekikan Fara membuat Felix menjauhkan layar hape dari telinganya.


"Kenapa teriak-teriak sih, Ma." Protes Felix.


"Dasar anak durhaka! Mentang-mentang jadi pengantin baru jadi kalap.. udah lupa sama rumah, Hah? Udah lupa kalau kamu masih punya orang tua?!" Ujar Fara masih dengan suara lantangnya.


Duh! Mampus gue!


"Eh,e.. i iya ma. Ini nanti rencana mau kesitu kok." Ucap Felix berbohong.

__ADS_1


"Alah! Paling kalau gak mama telepon kamu juga gak bakal inget. Ala juga tuh, masak sampai udah hamil gitu mama gak dikasih tahu!"


"Hehe ya dimaklumi dong, Ma. Namanya juga pengantin baru, udah kerja keras nih. Gak sia-sia kan sekarang udah ada hasilnya." Celetuk Felix.


"Iya mama akui kamu hebat. Oh iya, pokoknya nanti malam kamu sama Ala harus datang ke rumah. Ada hal penting yang mau papa obrolin." Ujar Fara sebelum mematikan hapenya.


"Dih, dimatiin. Kebiasaan mama kalau marah, suka matiin panggilan gitu aja." Gumam Felix dengan menggerutu.


***


Seperti janjinya Felix pada sang mama. Malam minggu kali ini Felix akan memboyong sang istri ke rumah kedua orangtuanya.


"Duh, Fel. Aku kok deg-degan ya." Ucap Ala sebelum memasuki mobil.


"Deg-degan kenapa?"


"Takut di marahin sama mama."


Felix tertawa hingga menampilkan deretan giginya yang sempurna. "Emang ngapain mama marah?"


"Ya kan tadi kamu bilang di telepon mama marah-marah sama kamu karena kita jarang berkunjung terus aku gak ngasih kabar mama kalau aku udah hamil." Jujur Ala merutuki kebodohannya sendiri. Karena sibuk dengan permasalahannya, dia lupa bahwa sekarang dia memiliki mama dan papa mertua.


"Kenapa?"


"Udah gak usah dibahas. Kasihan nanti mama sama papa nungguin nya terlalu lama."


Merekapun masuk ke dalam mobil dan segera berangkat ke rumah Felix.


Sesampainya di sana, terlihat Fara sudah menunggu kedatangan keduanya di ruang tengah.


Wajahnya sumringah ketika melihat mobil Ala yang sudah parkir di halaman rumah melalui jendela. Namun sedetik kemudian ia memasang wajah cemberut agar anak dan mantunya tahu bahwa dia sedang marah.


"Mama.." Seru Felix memanggil mamanya.


Dia ingin memeluk mamanya namun segera ditepis. "Baru inget sama mama sekarang?" Tanya Fara dengan ketus.


"Hehe maafin aku ya ma.. Nih, Felix bawain bunga untuk mama." Felix menyodorkan sebuket bunga anyelir berwarna merah.


Mata Fara menyipit menatap Felix. "Kamu lagi nyogok mama?"


"Bukan gi.."

__ADS_1


"Hai, Ma. Apa kabar? Ini Ala bawain sesuatu buat mama." Ala memotong ucapan Felix dan menyapa sang mama mertua serta memberinya sebuah goodie bag berisi kotak mewah bertuliskan Louise Vuitton.


Mata Fara terbelalak saat membuka isi kotak tersebut. Sebagai pencinta tas branded, tentu dirinya sangat tahu bahwa tas yang ia pegang bernama crocodile skin city steamer dibandrol dengan harga yang fantastis karena tampilan tas yang dibalut dengan kulit buaya asli.


"Mama suka?" Tanya Ala penasaran.


Fara tersenyum cerah lalu menggandeng tangan Ala. "Suka, mama suka banget. Yuk segera masuk, papa kalian udah nunggu di dalam."


Felix hanya mengernyitkan keningnya ketika melihat dua wanita tersebut masuk ke dalam meninggalkannya.


Tck. Mentang-mentang punya mantu kaya aja anak dilupain.


***


"Fel, papa dengar kamu udah memutuskan untuk masuk ke Universitas di Kanada?" Ucap Steve pada Felix.


Mereka saat ini tengah berbincang berdua di dalam ruang kerja milik Steve. Sedang Fara dan Ala lebih memilih ngeteh berdua di taman belakang rumah.


"Iya, kok papa udah tahu?"


Steve tertawa kecil. "Kamu kira papa akan lepas tanggung jawab begitu aja? Bagaimanapun kamu masih anak papa, apalagi umur kamu masih muda. Gak mungkin papa begitu aja melepas mu ke keluarga Kusuma."


"Papa ngomong apa sih? Aku tanya apa jawabnya apa."


"Intinya, papa menyuruh orang untuk melaporkan semua kegiatan mu di rumah Ala."


"Orang itu siapa?"


"Kamu gak perlu tahu. Yang penting, belajar aja yang rajin. Karena kalau kamu gagal masuk ke Universitas impianmu, papa akan tetap memasukkan mu ke Universitas pilihan papa."


Wajah Felix berubah tegang. "Kok papa gitu sih? Itu namanya ingkar janji dong."


Dengan santai Steve menyesap kembali kopinya. "Gak dong, papa kan cuma bilang memberimu kesempatan untuk milih kalau udah nikah. Kalau kamu gagal, ya kamu harus kembali ngikuti ucapan papa dong."


"Papa gak pernah ngomong tentang itu."


"Gini Fel.. kalau kamu gagal masuk Universitas. Apa kamu ingin nganggur gitu aja sambil nunggu peluang bisa masuk ke Universitas impianmu? Gak kan? Makanya papa ngasih solusi untukmu. Jangan bikin malu papa kalau sampai nganggur nantinya."


Felix hanya terdiam. Enggan menjawab ucapan papanya. Saat ini yang ia rasakan hanyalah kecewa, karena dirinya selalu di tuntut untuk mengikuti apa kemauan sang papa. Dia sudah merasa besar, sudah bisa memilih apa yang terbaik untuknya.


Steve menghela napas saat melihat Felix terdiam. "Kamu pikirkan baik-baik ucapan papa. Karena apa yang papa lakukan itu udah tentu yang terbaik untukmu."

__ADS_1


__ADS_2