
Tepat setelah jam istirahat makan siang selesai, Ala sudah kembali memasuki kantor. Ria yang sudah sedari tadi berada di kursi sekretaris memasang wajah sumringah untuk menyambutnya.
"Gimana ta.." Kalimat Ria masih mengambang di udara karena Ala sama sekali tak memandang sekretarisnya itu dan berlalu memasuki ruangnya. Membuat kening Ria mengernyit karena selain mengabaikannya, bosnya itu juga memasang wajah masam dan kesal.
Merasa ada yang salah, Ria segera berbalik membuntuti Ala memasuki ruangannya. "Ada yang salah?" Tanyanya ketika sudah sampai di meja Ala.
Ala menghela napas. "Ternyata bener apa yang kamu kira. Dia berbohong soal sakitnya itu."
Ria terlihat tak terkejut karena memang dia lah yang memberitahu kemungkinan Hilda berbohong soal sakitnya itu. "Terus? Kamu apain dia tadi?" Tanya Ria dengan antusias.
"Aku ancam dia. Kalau masih macem-macem sama Felix, aku gak akan segan-segan buat ayahnya kehilangan pekerjaannya." Mimiknya masih terlihat kesal mengingat percakapan tadi siang dengan Hilda.
Ria terkekeh melihat sahabat sekaligus bosnya itu masih menunjukkan wajah kesal. Tak biasanya wanita yang kaku seperti Ala begitu kesal karena miliknya di ganggu oleh wanita lain. "Kamu kan udah beresin dia? Kenapa masih kelihatan kesal? Kayak gak biasanya kamu aja."
"Gimana aku gak kesel? Aku gak habis pikir kenapa Felix biarin seorang gadis nyebelin kayak Hilda manfaatin dia kayak gitu. Terus percaya gitu aja sama omongan ayahnya." Jawab Ala dengan kesal.
"Kamu harus tenang, jangan sampai amarah nguasain kamu. Ingat! Kamu tuh lagi hamil, ambil napas terus buang napas pelan-pelan."
Ala mengikuti instruksi Ria untuk mengambil napas dan membuangnya pelan-pelan. Lalu Ria menyerahkan segelas air putih yang dia ambil dari mejanya.
"La.. Kamu juga jangan lupa kalau suami kamu tuh masih bocah SMA." Lanjut Ria.
Kedua alis Ala saling bertaut. "Terus? Hubungannya sama Hilda apa?"
"Ya ada hubungannya dong, ada kalanya pasti cara berpikirnya itu masih belum dewasa. Gak kayak kita yang udah makan asam garam kehidupan lebih banyak dari dia." Jelas Ria.
Ala menepuk jidatnya. Dia benar-benar mengerti maksud ucapan Ria. Sesaat dia terlupa bahwa suaminya masih berumur 18 tahun. "Aku lupa.. aku selalu beranggapan kalau kita seumuran karena kadang cara berpikirnya begitu dewasa."
Ria menganggukkan kepala. Dia paham betul apa yang diucapkan Ala. Mengingat dari cerita yang sering diceritakan Ala tentang Felix. Memang lelaki itu sering berpikir lebih dewasa dalam mengambil beberapa keputusan dibanding Ala yang sudah lebih banyak usianya. "Makanya, kamu jangan terlalu keras sama dia. Udah untung dia gak selalu merengek ini itu atau berbuat masalah kayak remaja pada umumnya."
__ADS_1
Bak ditampar oleh ucapan Ria, amarah dan rasa kesal yang sedari tadi dirasakan Ala dalam sekejap langsung menghilang berganti menjadi rasa malu. Malu karena selalu mengedepankan ego. Ala menutupi seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Aku langsung merasa bersalah dan malu. Aku yang umurnya lebih banyak dari dia kadang selalu bersikap kekanakan. Berbanding terbalik dengannya yang selalu mengalah."
Ria tersenyum tipis mendengarnya. "Kadang umur gak bisa menjadi patokan tingkat dewasa seseorang, La."
Ala menghela napasnya panjang. Lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi kerja. Menatap wajah sahabatnya yang masih tersenyum tipis. "Makasih, Ria.. Aku bersyukur banget masih punya teman setulus kamu."
"Aku hanya membalas kebaikanmu aja, La. Kalau memang ada suatu masalah, cerita lagi aja sama aku. Selama aku bisa bantu, aku akan membantu. Tapi yah.. itu aja sih yang bisa aku lakuin." Jawab Ria. Dia kembali teringat saat dirinya berkali-kali membutuhkan uang untuk biaya perawatan kedua orangtuanya yang sakit, Ala selalu membantu tanpa pamrih. Atau disaat suaminya itu terkena PHK, keluarga Hiromi dengan senang hati memberinya pekerjaan meski saat itu sama sekali tak ada lowongan kerja yang sedang kosong.
"Bantuan kamu berarti banget untukku yang masih jauh dari kata dewasa." Ala tersenyum senang menatap Ria. Meski sekarang dirinya hanya memiliki teman dekat satu orang, itu lebih baik dari seribu teman yang belum tentu setulus Ria.
***
Bel pulang sekolah sudah terdengar di telinga para siswa. Felix adalah salah satunya. Dia langsung membereskan tasnya dan bergegas untuk keluar kelas. Hatinya sudah sedari tadi resah karena mendengar Ala akan menemui Hilda di jam istirahat kerjanya. Felix sudah tahu bahwa Hilda memang tidak berangkat ke sekolah hari ini. Hari ini adalah hari dimana Hilda mengungkap akan berhenti sekolah dan kembali berangkat ke luar negeri. Meski dirinya agak ragu mengapa Hilda begitu mudahnya datang dan kembali ke luar negeri, namun segera ia tepis mengingat bukan hal itu yang harus ia pikirkan.
Untuk saat ini, dia khawatir pada Hilda karena takut istrinya berbuat sesuatu pada gadis itu. Mengingat betapa rapuhnya mental yang dimiliki Hilda. Felix segera melajukan motornya untuk menuju ke rumah Hilda.
Setelah sampai, keningnya mengernyit karena mendapati rumah Hilda yang sudah kembali kosong seperti dulu.
Felix menatap jam tangannya. Masih jam 3 lebih 5 menit. Seharusnya Hilda masih bersiap-siap untuk berangkat ke bandara. Lalu dia memutuskan untuk mengetuk pintu. Hening tidak ada balasan dari dalam rumah. Pertanda memang dalam rumah sudah kosong.
Handphone yang berada di balik saku jaketnya bergetar. Membuatnya mengalihkan perhatian sebentar untuk hapenya. Perasaannya lega ketika mendapati nama Hilda yang meneleponnya.
"Halo.. kamu kemana? Aku udah ada di depan rumah."
"Aku udah ada di bandara. Ayahku beli tiket di jam yang lebih awal."
"Kenapa kamu gak ngomong ke aku?"
".."
__ADS_1
"Halo?"
Felix kembali melihat layar hapenya. Bingung karena tiba-tiba hening padahal panggilan masih berlangsung.
"Maafin aku, Fel." Suara Hilda terdengar lirih di hapenya.
"Maksud kamu?"
Sejenak keheningan kembali di tengah percakapan mereka. "Maaf karena sakit yang berada di pergelangan tanganku adalah palsu."
Kening Felix mengernyit. "Palsu?"
"Iya, sebenarnya aku udah sembuh setelah dapat pengobatan dari luar negeri. Sudah lama aku gak melakukan itu, Fel."
".." Felix memilih diam sejenak untuk memproses informasi yang baru saja di dengarnya.
"Aku.. aku menyuruh ayahku untuk berbohong. Mengancam kalau memberi tahu ke kamu yang sebenarnya, aku akan kembali menyayat tanganku sendiri. Maafin aku Fel.." Terdengar suara isakan di seberang telepon.
"Untuk apa kamu ngelakuin itu semua?" Tanya Felix penasaran.
"Aku putus asa setelah mendengar pernikahanmu, Fel. Jujur aku masih mencintaimu, berharap kamu menungguku untuk pulang dari luar negri. Tapi.."
"Tapi aku malah berpaling?" Felix memotong ucapan Hilda yang belum selesai.
"Mungkin aku sekarang masih belum bisa melepas rasa cintaku padamu, Fel. Tapi aku yakin, kalau sekarang aku udah bisa melepas mu dengan wanita lain. Jadi kali ini aku hanya ingin pamit. Berharap bisa membuka lembaran baru untuk melupakanmu."
"Ah, ya.." Felix tak tahu harus mengucap apa. Disisi lain, rasa lega menyelimuti hatinya.
"Jaga diri kamu baik-baik, Fel."
__ADS_1
Belum sempat Felix menjawab lagi, suara panggilan terputus terdengar. Felix hanya memandangi layar hapenya sejenak. Lalu memasukkan kembali hapenya ke dalam saku jaketnya. Dan mengambil motor untuk pulang.