
Langit Jakarta masih petang kala Ala dan Felix menginjakkan kakinya di bandara. Tiada percakapan diantara dua insan yang berjalan beriringan.
Mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing, kalut dan kekhawatiran menghampiri benak mereka ketika mereka menyadari ada segerombolan manusia bagai semut tengah berkumpul di lobi terminal 3.
Gila! Jam dua pagi udah pada ngumpul disini! Berasa jadi selebritis.
Ketika masih di bandara Incheon, Felix mendapat panggilan dari Asoka karena Ala yang enggan untuk menerima panggilan dari siapapun.
"Kalau kalian udah nyampek bandara, kalau bisa pake masker dan kacamata hitam! Soalnya akan ada banyak wartawan yang menghadang, kirimin foto kalian berdua juga! Biar gue gampang notice kalian karena gue sendiri yang bakal jemput!"
Sesuai pesan yang disampaikan oleh Asoka, mereka memakai masker namun tidak memakai kacamata hitam karena mereka tidak membawa dan tidak mungkin untuk membelinya saat itu juga.
"Kamu yakin gak ganti baju dulu?" Felix khawatir Ala kepanasan mengingat Ala yang masih berjalan memakai coat.
Hawa panas di Jakarta sudah menyapa sedari tadi saat mereka turun dari pesawat.
"Gak apa-apa, Kok. Aku gak mau kalau aku cuma make dress ketat ini."
Outfit yang dikenakan Ala sebenarnya memang tidak cocok untuk hawa panas di ibu kota. Dress selutut berwarna navy dari French Connection, Coat selutut berwarna coklat muda dari Gerard Darel, sepatu warna senada dari Jenni Kayne, dan purse cantik bergaya vintage yang juga warna coklat muda dari Miu-Miu.
****! Kenapa bini gue pake baju seseksi ini! Bikin junior gue dari bandara tadi tegak mulu!
"Yaudah gak usah dibuka! Ntar yang ada malah pada salfok. Yang harusnya motret wajah malah pada motret body lagi."
"Maksudnya?!" Ala sensi jika dengar ucapan yang keluar dari mulut suami bocahnya.
"Eh! Itu kayaknya kak Asoka deh." Tangan Felix menunjuk ke sembarang arah berusaha untuk kabur dari kemarahan Ala.
Kedua tangannya mendorong troli yang berisi tumpukan koper sambil berjalan mendahului Ala yang masih berdiri dengan wajah kekesalannya.
__ADS_1
Dengan kesal Ala berjalan dengan langkah panjangnya menyusul Felix yang meninggalkannya. Matanya menyipit kala melihat sosok lelaki yang di hampiri Felix, ternyata benar Asoka datang menjemput.
Lelaki itu mengenakan setelan serba hitam dan bahkan masker serta kacamata hitam.
"Kak! Bukannya kakak lebih terlihat mencolok kalau mengenakan pakaian kayak gitu?"
Asoka tersenyum di balik masker ketika mendengar suara adik perempuannya, baru beberapa hari tidak bertemu membuat ia begitu rindu. Ah, padahal bertahun-tahun kemarin tidak bertemu saja tidak serindu ini.
"Gak apa-apa! Nyatanya aku udah berdiri dari 20 menit yang lalu sama sekali gak ada yang notice tuh."
"Kakak gak syuting?"
"Aku udah izin ke sutradara untuk syuting setengah hari aja."
Belum selesai keinginan Ala untuk bertanya lebih pada Asoka, suara teriakan dari seseorang membuatnya terkejut.
"Itu dia!!"
Sontak ketiganya langsung berusaha untuk melarikan diri, Felix berlari sekuat tenaga sambil mendorong troli koper. Sedang Asoka menarik tangan Ala agar ia tak tertinggal.
Napas Ala hingga terengah-engah, jantungnya berdegup kencang. Ini tak seperti olahraga pagi seperti yang biasa ia lakukan, ini lebih seperti dikejar zombie yang sedang kelaparan.
Ketika mereka sudah keluar dari terminal 3, tiba-tiba beberapa pria berbadan tegap berlari menghampiri ke arah mereka.
Ternyata para pria tersebut bukan datang untuk menangkap mereka, namun untuk menghalangi para wartawan yang mengejar.
"Perkenalkan tuan, saya Vano. Bodyguard khusus yang dipesan oleh tuan Hiromi untuk mengamankan kalian bertiga. Silahkan untuk mengikuti saya, akan saya pastikan kalian aman sampai di tempat tuan Hiromi berada."
Rasa lega dirasakan oleh ketiganya, terlihat Felix sedang mengatur napasnya. Kedua tangannya pun bertumpu pada lutut untuk menopang tubuhnya yang lelah.
__ADS_1
"Mari, kita harus segera bergegas."
Mereka bertiga mengikuti arahan Vano, dan dibantu oleh satu bodyguard lain untuk mendorong troli koper.
15 menit kemudian mereka telah aman di mobil Asoka yang dikendarai oleh Vano.
Rasa perih tiba-tiba menyerang di telapak dan jari kaki Ala. Dia mengaduh dan meringis kesakitan.
"Kamu kenapa?"
Sedari tadi Asoka terus memperhatikan adiknya karena merasa aneh melihat Ala yang terus-terusan memegang kaki dan mengaduh kesakitan.
"Ini kak, kakiku rasanya perih kayak ada yang luka."
"Oh ya? Sini kakak lihat! Pasti ada yang lecet waktu kamu lari tadi."
Khawatir juga dirasakan oleh Felix, ia baru menyadari kalau istrinya tadi bersusah-payah berlari dengan sepatu hak 5cm nya dan bulir keringat terlihat bercucuran di sekitar kening hingga ke leher.
"Lepas dulu deh coat nya."
Mendengar itu, Ala memutuskan untuk patuh pada titah Felix. Lagipula ia tak lagi merasa was-was karena dirinya sudah di dalam mobil.
Asoka menyeka keringat yang bercucuran di sekitar kening adiknya dengan menggunakan tisu.
"Sabar ya, nanti kalau udah sampai kita obati lecetnya. Kamu gak usah pake sepatu mu dulu, kebetulan kakak punya sandal jepit di bagasi mobil. Jadi pake itu aja."
Kepala Asoka menoleh ke arah Felix yang duduk di depan samping Vano.
"Fel, habis ini kita ngobrol dulu sebentar. Ada obrolan penting yang harus dibahas."
__ADS_1
Glek. Dari nada suaranya saja Felix tahu kalau Asoka seperti sedang menahan amarah. Felix seolah tahu obrolan apa yang akan dibahas oleh Asoka nantinya.
"Iya, kak."