Suamiku Bocah SMA

Suamiku Bocah SMA
Episode 54


__ADS_3

Keesokan harinya, Ala teringat akan kado yang belum sempat ditunjukkannya pada Felix. Sedang suaminya itu sudah pergi entah kemana di saat dia sedang jalan-jalan pagi. Kejutan spesial tadi malam benar-benar membuat Ala bahagia hingga mood nya kembali menjadi bagus seperti biasa. Mengusir rasa malas untuk beraktivitas seperti biasa.


"Mbok, Felix tadi pamit mau pergi kemana gak?" Tanya Ala pada salah satu pembantunya.


"Gak tuh, Non. Tadi turun dari tangga sambil lari-lari kayak terburu-buru gitu." Jawab mbok Ijah.


Ala mengernyitkan keningnya. Lalu merogoh hape yang berada di balik saku celana panjangnya. Menekan kontak Felix dan menghubunginya.


Hanya ada suara dering, namun tak segera diangkat oleh Felix. Berkali-kali ia mencoba namun gagal.


Setelah menghabiskan satu gelas jus alpukat dan satu lembar roti yang dioles selai strawberry. Dia bergegas menuju ke kamar untuk membersihkan diri.


Namun saat membuka pintu kamar mandi, hapenya berdering di atas nakas. Mengurungkan niat membuka pintu dan memilih untuk menjawab panggilan tersebut.


Wajahnya kembali sumringah karena itu adalah panggilan dari Felix. "Halo, Fel. Kamu kemana pagi-pagi udah pergi?"


"Hehe, iya maaf ya.. Tadi aku lagi terburu-buru. Ada apa kamu telepon?"


"Kok suaranya berisik?" Ala mendengar suara klakson dan kendaraan berlalu lalang. Seperti berada di pinggir jalan raya.


"Eh, iya lagi di pinggir jalan.Tadi diajak sarapan sama Aryo."


"Oh yaudah, aku mau mandi. Mau ke tempat Ria, tadi dia WA pengen ajak aku main ke kafe langganannya."


"Sama siapa?"


"Sama sopir."


"Oh, oke hati-hati berangkatnya."


"Iya, bye.."


"Bye."


"Eh, eh.. bentar.."

__ADS_1


Suara panggilan terputus terdengar. Padahal Ala ingin mengucapkan kata-kata romantis ketika di akhir panggilan. Dia ingin membiasakan itu, untuk membuat hubungannya dengan Felix semakin dalam. Dengan perasaan kesal Ala kembali masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah dia sudah bersiap-siap diri, Ala menatap ke arah langit. Kali ini cuaca sedikit mendung, namun tak menyurutkan niat Ala untuk tetap pergi. Dia sudah rindu pada asisten sekaligus teman dekatnya itu.


"Pak, anterin saya ke kafe star patrick ya!" Titah Ala pada pak Andi yang tengah mengelap kaca mobil.


"Iya, Non."


Setelah sudah siap, pak Andi segera melajukan mobilnya. sepanjang perjalanan, Ala selalu melihat ke luar melalui jendela mobil.


Arah ke kafe kali ini akan melewati sekolah Felix, Ala menurunkan sedikit kaca jendela untuk menengok bangunan sekolah tersebut. Dia tersenyum melihat bangunan sekolah yang berdiri kokoh dan begitu mewah dengan desain yang modern.


Sesaat kemudian, matanya menyipit ketika melihat taman yang tak jauh dari sekolah Felix. Ala memastikan sekali lagi apa yang dilihatnya itu tak salah. Sesaat dia melihat Felix bersama seorang wanita asing yang belum pernah di lihatnya.


"Eh, pak.. pak. Berhenti sebentar." Titah Ala tiba-tiba.


Andi yang gelagapan langsung menghentikan mobilnya ke tepi jalan. "Ada apa, Non?"


"Kita puter balik ke taman sebelumnya, Ya?"


"Taman yang gak jauh dari sekolahan Felix tadi."


Sebenarnya Andi merasa bingung kenapa majikannya menginginkan untuk putar balik, tapi dia tak bisa membantah karena dia hanyalah seorang sopir. "I-iya, Non."


Ala kembali menurunkan kaca jendela untuk memastikan kebenaran dari matanya. Saat mobil sudah benar-benar mendekat ke arah taman, Ala menginginkan untuk Andi menunggunya di tempat parkir.


Degup jantung Ala semakin kencang ketika langkahnya semakin mendekat ke sumber yang membuatnya penasaran. Mata Ala terbelalak ketika melihat Felix sedang memeluk seorang gadis yang memunggunginya.


"Felix?" Pekiknya.


Felix yang mendengar namanya dipanggil pun menoleh ke asal suara. Netra hitamnya membesar ketika mendapati sang istri berdiri hanya berjarak 5 meter darinya.


Felix segera melepas pelukannya. "A-Ala?"


"Kamu ngapain disini? Tadi katanya makan bareng Aryo? Apa Aryo sekarang berganti menjadi nama perempuan?" Sindir Ala. Napasnya tersengal menahan amarah yang sudah menguasa.

__ADS_1


"Tunggu.. Aku bisa jelasin." Felix berusaha menghampiri dan meraih tangan Ala namun segera di tepis.


"Katakan siapa dia?!" Tanya Ala dengan geram.


Setelah Ala perhatikan lagi, gadis itu berusia lebih muda darinya. Mungkin sebaya dengan Felix, badannya tinggi hingga Ala menduga mungkin ia harus mendongak ketika berbicara dalam jarak dekat dengannya. Hatinya semakin tertusuk, mendapati gadis itu hanya tersenyum melihatnya bertengkar dengan Felix.


"Dia.. Hilda. Oiya, Hilda! Dia istriku, namanya Ala." Felix berada di tengah berusaha memperkenalkan mereka masing-masing.


Kening Ala mengernyit. "Bukannya Hilda itu.. seekor anjing?"


Wajah Felix memucat dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Tapi Ala segera sadar, bahwa Felix waktu itu sedang membohonginya. Ala benar-benar tak menyangka tentang hal itu.


"Apa aku sedang mengganggu kegiatan kalian?" Sindir Ala.


"Ala, ini gak seperti yang kamu duga. Aku bukan sedang bermesraan dengannya." Bisik Felix di depan wajah Ala. Dia tak mau jika harus bertengkar di tempat umum.


"Tante jangan cemburu, hubungan kami hanya sebatas teman kok." Wajah Hilda datar, sama sekali tak menunjukkan rasa bersalah.


Ucapan Hilda membuat amarah Ala semakin naik hingga ke ubun-ubun. Tante katanya?? Tangannya mengepal dengan erat. Dia harus menahan emosinya disini kalau tak ingin mempermalukan dirinya sendiri. Kalau tak ingat hal itu, sudah pasti Ala ingin menjambak rambut sebahu milik gadis menyebalkan itu.


"Haha, okey. Tante rasa.. tante sedang mengganggu aktivitas kalian. Silahkan bila ingin dilanjutkan." Ala menekankan kata 'tante' dengan eskpresi menahan kesal.


Sambil terus berpura-pura tersenyum, Ala membalikkan tubuhnya dan berjalan dengan tempo yang cepat. Sedang Felix berusaha untuk mengejar Ala namun tangannya di raih oleh Hilda.


"Kamu mau kemana, Fel?" Tanya Hilda dengan wajah sedih.


Felix merasa terjebak. "Ya mau ngikutin istriku lah."


Dada Hilda berdenyut. Dia tak menyangka kata 'istriku' keluar dari mulut Felix.


"Tapi kamu kan udah janji mau nemenin aku sebelum aku pergi?" Hilda menagih janji Felix.


"Itu bisa aku tepatin nanti lagi, Okey? Sekarang aku mau ngejar istriku dulu." Felix melepas tangannya yang masih di genggam oleh Hilda.


Sedang Hilda menatap sebal ke arah Felix. Dipikir bagaimanapun, dirinya lebih cantik dan lebih muda dari Ala. Namun mengapa Felix terlihat begitu mencintainya? Dia sudah mengorbankan waktunya untuk pulang kembali ke sisi Felix, tapi nyatanya cintanya sudah menjadi milik wanita lain.

__ADS_1


Hilda melihat rintik-rintik hujan yang mulai membasahi jalanan di depannya. Dia merasa kalau langit sedang mewakili tentang kesedihan yang sulit untuk diungkapnya.


__ADS_2