
Di waktu jam istirahat sekolah, Felix pergi ke kantin sekolah untuk mencari Hilda yang dari kemarin mencetak rasa penasaran dalam benaknya.
Dia ingin sekali bertatap muka dan membicarakan hal yang lebih serius kepadanya. Berniat memberitahukan tentang perasaannya yang sudah hilang tak membekas.
Mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kantin. Lalu ia menemukan gadis itu menonjol di antara keramaian karena dia memang terlihat paling tinggi dibanding gadis yang lain. Hari ini dia mengenakan bucket hat berwarna hitam, Felix tahu persis meski tanpa melihat wajahnya sekalipun.
Gadis itu tengah menyantap makan siangnya sambil sesekali menatap ke arah lapangan sekolah.
"Hai, aku boleh duduk sini?" Tanya Felix.
"Sure." Hilda tersenyum seperti biasa.
"Lagi makan apa?"
"Bakso, wanna?" Hilda menyendok pentol bakso dan menyodorkannya tepat di depan wajah Felix.
Felix menyahut tawaran itu membuat Hilda semakin tersenyum manis.
"Enak kan?" Tanyanya.
Felix hanya menjawab dengan anggukan karena mulut yang masih penuh dengan bakso.
"Semenjak di luar negeri, aku kangen banget dengan bakso sini. Sana ada sih, tapi gak sesuai dengan lidah aku." Cerita Hilda.
Hilda meraih selembar tisu dan menyerahkannya pada Felix karena melihat mulutnya yang belepotan. "Nih, lap tuh kuah bakso yang nempel."
Setelah mengelap, Felix berdeham untuk mengusir kegugupan. "Ehem." Dia merasa harus berhati-hati jika harus berbicara dengan Hilda. Satu kata saja yang lolos dari mulut tanpa ia saring, mungkin akan membuatnya alasan untuk bunuh diri. Ngeri, bukan?
"E.. Hilda, sebenarnya aku ingin tanya tentang yang kamu ucapkan sewaktu di taman kemarin." Ucap Felix.
Hilda berhenti sejenak dengan aktivitas makan siangnya. Lalu tersenyum manis memandang Felix membuatnya bergidik ngeri. Entah kenapa, Felix selalu merasa Hilda adalah gadis yang penuh misteri.
"Tentang apa?" Tanya Hilda.
__ADS_1
"Tentang cinta yang masih ada di hatimu." Jawab Felix dengan serius.
Hilda terkekeh hingga menampilkan deretan giginya yang putih. "Kenapa? Kamu merasa terbebani?"
"Ya."
"Fel, kalau kamu memang merasa terbebani, kamu bisa mengabaikan apa yang aku ucapkan waktu itu."
"A-aku gak bisa."
"Kenapa?"
Lidah Felix seperti kelu ketika ingin menjawab pertanyaan itu. Pembicaraan ini begitu sensitif dan membuatnya selalu merasa bersalah jika berbicara jujur. Tapi, dia juga tak mau jika permasalahan ini terus berlarut-larut.
"Hilda..Aku tahu kamu masih sama seperti dulu, kepergian mu ke luar negeri pun sama sekali tak merubah jati dirimu. Kamu masih berpenampilan tomboy dan cuek dengan pandangan.."
"Tapi kamu yang berubah, Fel." Hilda memotong perkataan Felix. Matanya berkaca-kaca ketika mengucap kalimat itu.
"Emm, sori. Aku angkat dulu panggilan ini ya, kita lanjutin percakapan kita nanti." Ucap Felix pada Hilda.
Hilda memandangi tubuh Felix yang sudah berjalan menjauh. Ia meremas kedua tangannya, bibirnya bergetar menahan tangis yang ingin keluar dari pelupuk matanya.
Sambil berjalan, Felix mengangkat panggilan yang ternyata dari Asoka. .
"Halo, ada apa?" Tanya Felix.
"Fel, gue udah ada di depan gerbang sekolah lo."
"Hah? Ngapain?" Felix menengok ke arah gerbang, namun tertutupi oleh pohon-pohon besar hingga ia harus pindah tempat agar membuktikan omongan Asoka.
"Gue butuh lo sekarang, cepetan keluar! Kita harus ke rumah sakit."
"Rumah sakit? Siapa yang sakit?" Tanya Felix dengan khawatir.
__ADS_1
"Pokoknya lo keluar dulu."
"Oke, oke. Gue keluar sekarang."
Perasaan Felix menjadi tak karuan, dalam otaknya bertanya-tanya siapa yang sakit. Ala? Kakek?
Setelah mematikan panggilan, Felix bergegas mengambil tas lalu keluar dari kelas.
"Woy! Mau kemana lo?" Teriak Aryo ketika melihat Felix pergi membawa tasnya.
"Gue mau jenguk orang sakit." Jawab Felix sekenanya.
"Ijinin ke guru ya!" Imbuhnya.
Begitu melihat Felix masuk ke dalam mobil dan menutup pintu, Asoka langsung melajukan mobilnya.
"Siapa yang sakit?" Tanya Felix.
"Sera."
"Hah?! Sakit apa? Terus, kenapa aku juga harus ikut-ikutan?" Felix mencerca Asoka dengan banyak pertanyaan.
Asoka menepikan mobilnya ke bahu jalan.
"Gini Fel, sebenarnya gue cuma mau ngajak lo ngobrol. Tapi setelah gue pikir-pikir, kayaknya lo harus nyeritain semua tentang Sera yang lo tahu di depan tante Sarah." Jelas Asoka.
"Bentar deh, bisa gak jelasin satu persatu apa yang sedang terjadi? Puyeng pala gue dengernya. Otak gue gak nyampek."
Asoka menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk memenuhi rongga paru-paru yang mulai terasa sesak. Lalu menceritakan apa yang terjadi pada Sera.
Dengan seksama Felix mendengar semua cerita Asoka. Kepala Felix serasa begitu pening, mengapa gadis-gadis yang berada di dekatnya selalu bermasalah dengan mental dan ingin mengakhiri hidupnya sendiri?
"Oke, gue akan cerita apa yang terjadi pada dia sewaktu SMP nanti di depan tante Sarah." Ucap Felix.
__ADS_1