
Ucapan Steve bagai pecutan untuk Felix agar lebih giat belajar lagi. Ada sedikit perasaan menyesal karena tidak dari dulu dirinya belajar lebih giat.
Bahkan di hari minggu kali ini Felix memilih berkutat di bukunya dibanding bermanja-manja ria dengan sang istri seperti biasa.
Senyum pun terbit di bibir Ala ketika melihat suaminya begitu serius dan fokus berkutat dengan buku belajarnya. Dia jadi teringat kembali pada masa-masa saat dirinya sekolah, hanya buku dan guru privat yang menemani kesehariannya. Baginya tak ada hari libur untuk sekedar mengistirahatkan mata dari belajar.
Kesenangannya pada belajar dan tuntutan keluarga atas dirinyalah yang membuat Ala seperti itu. Meski kehilangan masa muda yang seharusnya menyenangkan tapi Ala tak menyesal karena bisa menikmati hasil indahnya sekarang.
Ala mendekat ke arah suaminya dengan membawa segelas orange juice. "Nih, diminum dulu biar agak fresh."
Felix mendongak dan tersenyum. "Makasih ya."
Setelah meneguk minumannya. Tangannya terulur ke atas untuk meregangkan otot-ototnya yang kaku.
"Mau aku pijitin?" Ujar Ala menawarkan diri.
"Emang bisa?" Tanya Felix tak percaya.
Ala langsung mendekatkan tangannya ke kedua pundak Felix dan memijitnya pelan. "Gimana, enak kan?" Tanya Ala.
Felix memejamkan matanya untuk menikmati pijitan Ala. "Lumayan."
Setelah lima menit memijat, Ala menghentikan aktivitasnya.
"Loh, kok udah?" Tanya Felix.
"Capek." Jawab Ala sekenanya. "Oh iya, kemarin papa ngobrolin apa? Setelah kamu ngobrol sama papa kemarin sampai sekarang kamu kayak mulai murung terus tiba-tiba langsung menyendiri untuk belajar."
Felix meraup mukanya dengan kasar. "Papa bilang kalau aku gagal ke Universitas di Kanada, papa akan memasukkan ku kembali ke Universitas pilihannya, tentu dengan jurusan pilihannya juga."
"Segitunya kamu pengen ke Kanada kah? Di Indonesia kan juga banyak Universitas yang bagus. Gak ada salahnya nanti kamu menuruti permintaan papa."
Felix mengendikkan kedua bahunya. "Entahlah, dari awal masuk SMA aku udah tertarik untuk ke Kanada sampai aku gak ada pilihan lain untuk masuk ke Universitas disini."
Terlihat Ala berpikir sebentar. "Oke, kalau kamu bisa membuktikan padaku kalau kamu layak. Aku akan membantumu agar kamu bisa di terima di Universitas impianmu."
__ADS_1
"Tapi aku kayak mikir-mikir lagi, apa dengan belajar dadakan gini aku beneran bisa diterima?" Wajah Felix terlihat kusut.
"Tenang, aku punya banyak cara untuk membuat kamu diterima disana. Yang penting kamu fokus belajar aja." Ujar Ala menenangkan.
Felix berpikir sejenak dan akhirnya menganggukkan kepalanya. Dia yakin pasti Ala bisa menggunakan koneksinya untuk membantu dirinya diterima di Universitas impiannya.
***
"Kakak ngapain sih pake main ke rumahku segala?" Tanya Sera dengan memanyunkan mulutnya.
Asoka masih dengan santai membolak-balikkan majalah milik Sarah. "Mama kamu yang nyuruh."
"Ha? Ngapain mama nyuruh kakak kesini?"
Asoka menutup majalahnya dan pandangannya fokus pada Sera. "Menurutmu? Kenapa?"
"Ih, kok malah tanya balik sih!" Sera tak mempedulikan Asoka dan kembali fokus pada game online yang berada di handphone nya.
Beberapa hari yang lalu Asoka memang sudah memberitahu Sarah perihal hubungan pura-pura nya dengan Sera. Siapa sangka Sarah sama sekali tak marah dan malah menunjukkan raut senangnya pada Asoka. Dia malah berterima kasih jika semisal Asoka ingin membuat hubungan tersebut menjadi serius. Arnold yang mendengar pun tak kalah senangnya dan membujuk Asoka agar menjadikan hubungannya dengan Sera lebih serius.
Tangannya melipat di depan dada. Meski matanya menatap Sera tapi fokusnya bercabang. Entah apakah dia memang menginginkan hubungan yang serius atau tidak, dia masih belum bisa memutuskan. Yang jelas, dia sudah berusaha menunjukkan akting yang bagus. Salah satunya mengantarkan Sera berangkat ke sekolah jika ada waktu yang senggang. Hal itu sukses membuat berita gempar karena akhirnya mengetahui identitas Sera yang masih duduk di bangku SMA.
Kening Asoka mengernyit ketika sadar bahwa sedari turun dari tangga, Sera sibuk menatap layar handphone. Dia menebak pasti Sera sedang bermain game. "Main apa sih sibuk banget?" Tanya Asoka lalu meraih paksa handphone Sera.
Semenjak sudah tidak ada yang mengganggu Sera, dia mulai kembali berperilaku sesukanya. Salah satunya bermain game online tanpa kenal waktu dan tempat.
"Apaan sih kak, terserah aku dong mau main apa!" Tangan Sera berusaha meraih hape yang di ambil Asoka. "Sini balikin hape aku!!"
Asoka terlalu senang menggoda Sera hingga tiba-tiba wajahnya hampir mencium pipi Sera yang sedang berusaha untuk mengambil hapenya. Hidungnya dapat mencium dengan jelas aroma tubuh milik Sera yang seperti bayi.
Ha? Bayi?
Tanpa terasa Sera sudah berhasil merebut kembali hapenya lalu melanjutkan game online yang sempat terhenti tanpa mempedulikan Asoka yang masih berdiri terpaku atas apa yang barusan terjadi.
"Ehem." Asoka berdeham untuk mengusir degup jantung yang tiba-tiba melaju lebih cepat dari biasanya. Kesadarannya kembali normal lalu mendudukkan pantatnya kembali ke sofa.
__ADS_1
"Kamu tuh harusnya niru Felix." Ujar Asoka tiba-tiba.
"Maksudnya niru yang kayak gimana? Nikah?" Jawab Sera tanpa mengalihkan pandangannya dari game.
"Ish, nikah mulu yang kamu pikir." Asoka menjentikkan jarinya di kening Sera yang sukses membuatnya meringis kesakitan. "Aku dengar dia lagi mati-matian belajar buat masuk ke Universitas di Kanada."
Sesaat mulut Sera melongo dan menatap Asoka sejenak. Lalu mulutnya menyemburkan tawa yang terbahak-bahak.
Asoka menatap heran melihat Sera yang tertawa terbahak-bahak. "Kamu kenapa?"
"Felix belajar?" Sera kembali tertawa hingga mengusap air mata yang muncul di sudut matanya.
"Kenapa? Kamu gak percaya?"
"Ya gak lah, setahu aku Felix itu payah banget soal belajar." Apapun yang dilakukan Felix dulu selalu diketahui oleh Sera. Mengingat dia adalah penggemar nomor satu Felix.
"Emang kamu jago soal belajar?"
Tawa Sera seketika berhenti dan beralih kembali menjadi masam. "Dasar! Merusak suasana."
Kini giliran Asoka yang tertawa melihat perubahan mimik Sera yang kembali masam. "Makanya ngaca dulu sebelum menilai. Lagian aku lihat kayaknya kamu santai banget, padahal sebentar lagi kamu mau UN terus masuk ke Universitas. Kamu gak kepengen kayak Felix, masuk ke sekolah impian?" Tanya Asoka.
Sera mengendikkan bahunya. "Gak. Aku gak mau masuk kuliah."
"Kenapa?"
"Mau jadi baker gak harus masuk kuliah kan?"
"Impianmu jadi baker?"
"Iya. Roti sobek yang tadi kakak makan itu buatan ku."
Satu alis Asoka meninggi. "Yang bener? Bukannya beli?"
Sera memutar kedua bola matanya. "Terserah mau percaya apa nggak."
__ADS_1
Mata Asoka berbinar. "Wah, gak nyangka ya ternyata kamu pinter buat roti." Tangannya meraih kembali roti sobek yang masih setengah dan melahapnya.
"Hmm.. enak juga kalau ntar jadi nikah sama kamu. Bisa setiap hari makan roti enak beginian." Gumam Asoka yang tentu tak didengar oleh Sera yang masih sibuk bermain game.