Suamiku Bocah SMA

Suamiku Bocah SMA
Episode 48


__ADS_3

Berulang kali Felix membujuk istrinya agar mau untuk ke rumah sakit. Felix berpikir mungkin kepala Ala terbentur sesuatu sebelumnya, mengingat kelakuan aneh yang belum pernah di lakukannya.


"Ayolah.. Mungkin aja kepalamu pernah terbentur sesuatu yang padat atau tajam? Kan itu bahaya, La." Bujuknya.


"Gak! Apaan sih, Fel. aku gak kenapa-kenapa kok, jangan ngikutin aku terus!"


Kemanapun Ala pergi, Felix selalu mengekor di belakangnya. Seperti saat ini, ketika Ala sedang mengambil sepotong kue tiramisu di dalam kulkas. Felix berbicara sambil berdiri di belakangnya.


"Habis kamu tuh aneh! Gak biasanya kamu kayak gini."


Tadi keripik singkong, sekarang tiramisu. Fix, bini gue mesti kenapa-napa.


"Yang gak biasa tuh aku apa kamu?" Ala malah berbalik tanya. Tangannya menutup kulkas lalu menaruh piring kecil yang berisi potongan tiramisu ke atas meja.


"Maksudnya?"


"Emang aku selama ini gak tahu, kalau akhir-akhir ini kamu sering melamun? Aku tahu kok kalau kamu sedang ada masalah, tapi gak pernah cerita apa-apa ke aku." Mulut Ala bergetar, rasa penuh tanya yang selama ini hanya ada dalam pikirannya. Kini sudah lega karena dapat mengungkapkannya.


"Al.." Felix mencoba meraih tangan Ala namun ditepis olehnya.


"Kamu pikir aku seneng apa, cuma di jadiin pelampiasan? Hampir setiap malem tubuh kita memang menyatu di ranjang, tapi hati kita nggak, Fel." Kali ini Ala mulai terisak.


Entah mengapa akhir-akhir ini begitu banyak perihal yang membayangi benaknya. Dan itu semua membuat hati dan pikirannya lelah.


Tangan Felix menangkup kedua pipi istrinya. "Kamu ngomong apa sih, La? Aku gak ngerti. Coba kamu ngomong dulu pelan-pelan."


Bulir air mata berhasil lolos dari pelupuk matanya. "Aku juga kepengen, Fel. Kayak orang-orang, yang dalam pernikahannya selalu ada komunikasi, selalu berbagi cerita. Bahkan terkadang mereka ada pillow talk sebelum tidur. Tapi kita belum pernah ngelakuin itu semua."

__ADS_1


Ingatan Ala tentang percakapan dengan asistennya Ria kembali terulang. Ria bercerita bahwa dirinya dengan suami selalu mengutamakan komunikasi, bahkan komunikasi mereka cenderung lancar karena perbedaan usia yang tak terpaut jauh.


Tiba-tiba Ala merasakan iri hati ketika melihat pasangan yang lain begitu berbeda dibanding dirinya. Rata-rata mereka memiliki pasangan yang tak jauh berbeda usianya, atau bahkan sebaya.


Felix tergelak mendengar keluhan Ala. "Yaampun, jadi kamu cemburu? Sini.. duduk dulu."


Felix meraih tangan Ala dan menyuruhnya untuk duduk di kursi meja makan.


"Emm, aku harus mulai dari mana ya.. Yah, intinya aku memang sedang ada beberapa masalah yang belum bisa aku ungkapkan sekarang."


Ala memutar kedua bola matanya. "Tuh, kan.."


"Sshht.. Bentar, dengerin dulu!"


"Yaudah, apa?"


"..Jujur, semenjak itu aku jadi mulai lebih serius dengan pernikahan ini. Yah, meskipun kenyataannya aku memang belum bisa memberikan yang terbaik untukmu." Imbuhnya.


Ala yang mendengar ucapan Felix dengan seksama kembali meneteskan air mata. Namun kali ini ia merasa haru dan lega. Ia pikir, Felix hanyalah ingin bermain-main saja dengan dirinya.


"Maafin aku ya, Fel. Aku, aku gak tahu kenapa akhir-akhir ini sedikit sensitif dan stres. Biasanya, daily life ku itu selalu monoton. Hanya fokus untuk bekerja, tapi semenjak nikah sama kamu.. hari-hari ku yang monoton berubah menjadi berwarna. Kadang merah, biru, kadang juga abu-abu." Tukas Ala.


"Hah? Abu-abu?" Tanya Felix.


"Iya abu-abu, artinya samar. Kayak cintamu padaku, masih samar belum jelas."


Felix kembali tergelak tawa mendengar lontaran kalimat dari istrinya. Ia jadi teringat pada pertanyaan Hilda tentang apakah dia mencintai Ala. Mengapa semua wanita selalu meminta pernyataan cinta?

__ADS_1


"Emang, harus ya.. cowok menyatakan cinta ke cewek setelah memberikan bukti keseriusan dengan menikahinya?" Tanya Felix.


"Ya harus dong, Fel. Dimana-mana kalau emang cinta itu ya di nyatain gak cuma di tumpangin!"


Kali ini bibir Ala mengerucut ke depan membuat Felix yang melihatnya semakin gemas.


"Kamu beberapa hari jadi istriku udah ketularan gemas dariku ya."


"Idihh.. kepedean!"


Setelah di pikir ulang oleh Felix, memang dirinya belum pernah menyatakan cinta pada Ala. Karena dari dulu, selalu para gadis yang duluan menyatakan cinta padanya.


Cinta dari para gadis pun selalu menjadi angin lalu baginya, kecuali pada Hilda. Tapi dengan Hilda pun, Felix tak pernah menyatakannya secara langsung. Dia dan Hilda sama-sama tahu bahwa mereka saling cinta tanpa diungkap lewat kata-kata.


Suara handphone berdering pun terdengar, ternyata yang berbunyi adalah hape Ala yang ia taruh di balik saku celana pendeknya. "Halo, bu?"


".."


Felix hanya melihat tatapan Ala yang juga sedang menatapnya. Sekejap kemudian, Ala mematikan panggilannya.


"Dari ibu ya?" Tanya Felix.


"Iya, ibu tahu aku tadi pulang cepet karena gak enak badan. Besok disuruh kesana dulu sebelum berangkat kerja, katanya ada yang pengen di obrolin."


"Aku gak harus ikut kan?"


"Gak, kamu kan besok mau ke sekolah. Lagian yang disuruh kesana cuma aku." Jawab Ala.

__ADS_1


Terbesit ide dalam benak Felix, bahwa dia harus menyiapkan sesuatu untuk kejutan sang istri. Mungkin, dia akan bertanya pada Aryo tentang kejutan apa yang harus dilakukan untuk Ala.


__ADS_2