Suamiku Bocah SMA

Suamiku Bocah SMA
Episode 36


__ADS_3

Setelah kepulangan keluarga Sera, Arina masih menenangkan putrinya yang masih syok ketika mendengar pernyataan orang tua Sera.


Satu jam sebelum Asoka datang, mereka kedatangan keluarga Sera yang memperkenalkan diri sebagai kawan lama Arina.


Ala tak memandang curiga kepada Felix yang seperti terkejut melihat kedatangan Keluarga Sera. Terlebih gadis yang memperkenalkan dirinya kepada Ala dengan nama Sera juga hanya diam dengan kepala tertunduk lesu.


Namun, saat mama Sera memulai pembicaraan yang sebenarnya barulah Ala merasa syok dan tidak percaya.


Bagaimana mungkin seorang bocah seperti Sera bisa bertindak sembrono dengan alasan yang terdengar konyol? Nyatanya cinta memang bisa membuat buta.


"Sebenarnya itulah tujuan kami kesini, ingin meminta maaf kepada keluarga tuan Heru dan tuan Hiromi. Kami tahu perbuatan yang dilakukan oleh Sera tidak bisa hanya dengan meminta maaf. Namun, saya memohon dengan kebesaran tuan Heru dan tuan Hiromi untuk memaafkan." Tukas Sarah.


"Tolong diterima pemberian dari kami tuan Hiromi." Arnold menyerahkan amplop coklat yang ketika di buka oleh Hiromi berisi lembaran perjanjian bisnis yang akan menguntungkan oleh pihak Hiromi.


"Bisa kita bicarakan ini diluar saja, Arnold?" Tanya Hiromi.


Wajah Arnold berubah menjadi cerah dengan jawaban Hiromi, ia pun mengikuti langkah Hiromi untuk membicarakan bisnis diluar.


Arnold tak akan mungkin melepas investor seperti Hiromi yang sangat membantu bisnis hotelnya. Disaat ia mengetahui perbuatan anaknya yang membuat saham perusahaan Hiromi anjlok, dia langsung bergegas menuju rumah sakit dengan membawa lembaran penting untuk mengetuk pintu maaf dari pihak Hiromi.


Setelah itu, Sarah dan Sera melanjutkan perbincangan dengan Heru dan Arina. Sedangkan Ala izin keluar untuk berbincang berdua dengan Felix.


"Jadi? dia mantan kamu?" Tanya Ala tanpa basa-basi ketika mereka sudah duduk di kursi tunggu.


"Iya. Maaf ya nggak kasih tahu kamu sebelumnya."


"Jadi sebelumnya kamu juga udah tahu?"


Felix mengangguk.


Air mata yang sedari tadi ditahan tumpah meleleh di pipinya.


"Kamu tahu kan, Fel? Gara-gara mantan kamu itu, bukan hanya kamu yang dirugikan? Kakek pun menjadi sakit dan saham perusahaan keluargaku pun ikut anjlok. Tega sekali dia dengan keluargaku."


"Maaf."

__ADS_1


"Kenapa kamu yang meminta maaf? Harusnya perempuan itu yang meminta maaf kepada keluargaku, bahkan daritadi pun hanya orang tuanya saja yang meminta maaf."


Felix tidak menjawab dan memilih mengusap kedua bahu Ala untuk menenangkan istrinya.


Baru setelah itulah Asoka datang.


~


"Kamu pulang dulu aja, La." Ucap Arina dengan khawatir.


"Iya, kalian pulang dulu saja. kemungkinan kakek sudah bisa pulang besok, jadi gak usah nungguin kakek disini." Ujar Heru.


Ala dan Felix pun memutuskan untuk pulang, mengistirahatkan badan dan pikiran mereka yang begitu lelah


Saat Ala sudah membersihkan diri dan bersiap untuk terlelap di kasur tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang menggelitik di telinga kirinya, dengan enggan ia menolehkan kepalanya ke kiri dan membuka sebelah matanya untuk mengintip.


"Fel? Kamu lagi ngapain?"


Terlihat Felix masih menggosok-gosok ujung hidung bangir nya ke telinga Ala.


"Hmm.. i want you, La."


Suaranya berbisik tapi terdengar begitu seksi, membuat jantung Ala berdegup kencang tak karuan.


Ala memutar posisi tubuhnya agar bisa menghadap ke arah Felix. "Let me to sleep, Fel."


Meski hanya dengan cahaya dari lampu tidur yang remang-remang, wajah Felix tetap memukau dengan sorot matanya yang penuh gairah.


Bibir Felix mengerucut ke depan. "Kamu tega biarin juniorku bangun dan gak bisa tidur?"


Sorot matanya berubah menjadi sendu. Ia menuntun tangan Ala agar menyentuh celananya yang berisi benda padat dan keras.


Ala tersentak memegangnya, "Ih, Fel! Kamu masukin kayu ya ke dalam celana mu?"


Mata Felix terbelalak tak percaya. "Becanda mu gak lucu, La."

__ADS_1


Melihat Felix yang cemberut dan membalikkan badan membelakangi Felix, Ala tertawa renyah karena merasa bisa mengerjai suaminya.


"Hihi, maaf deh, Fel."


Felix bergeming.


"Fel! Ngambek ya?" Ala menengok ke arah Felix yang masih membelakanginya. Tangannya mengguncang bahu Felix yang tak terlihat kokoh seperti biasanya.


Tiba-tiba, dengan cepat Felix berbalik dan membalikkan posisi Ala hingga berada di bawah tubuhnya.


Mata mereka saling memandang, hembusan napas dari Felix menyapu pipi Ala yang bersemu merah.


Ciuman mereka lantas terjadi hingga berubah dengan saling memagut yang membuat keduanya semakin memanas.


******* yang menyahut membuat Felix semakin bergairah untuk melanjutkan aksinya.


Rupanya Felix semakin ahli, tak akan dibiarkan dirinya yang masih bocah diremehkan di atas ranjang. Ia akan membuat istrinya puas dan kelelahan akibat aksinya.


Tak ada lagi bibir untuk memprotes karena serangan ciuman yang bertubi-tubi di lancarkan oleh Felix.


Hanya ******* dan suara bersetubuh yang memenuhi pendengaran mereka.


Bulir keringat bercucuran menjadi saksi betapa bergairahnya pergulatan mereka di ranjang.


Seusai pelepasan, Felix berbaring dengan napas yang masih terengah-engah.


"Ala.."


"Ya?"


"Thanks."


"Buat apa?"


"Yah, thanks for anything."

__ADS_1


Ala mengulum senyum di bibirnya, lalu mengecup ringan pipi Felix. Kemudian mereka terlelap dalam ketenangan, segala kekalutan yang berada di otak Felix langsung sirna jika dia melepas gairahnya dengan Ala. Ajaib memang!


__ADS_2