
Dibawah guyuran hujan yang semakin deras, Felix mengendarai motornya tanpa menggunakan jas hujan. Dia abai pada pakaiannya yang sudah basah kuyup, yang ada di pikirannya hanyalah mengejar istrinya yang sedang ngambek.
Beberapa menit kemudian, Felix merasa lega ketika sudah sampai rumah mendapati mobil Ala yang sudah terparkir rapi di halaman rumah. Dia segera melepas helm dan jaket yang basah kuyup. Berjalan melewati pintu belakang agar ruangan depan tak terkena tetesan bajunya yang basah.
Felix menengok ke arah dapur karena memang pintu belakang mengarah pada ruang dapur. "Mbok, Bisa tolong ambilkan handuk?" Titahnya ketika melihat mbok Ijah.
Mbok Ijah terkejut ketika menengok ke asal suara. "Loh, mas Felix kok basah kuyup gini? Tadi gak bawa jas hujan kah?" Raut khawatir tercetak jelas di wajah renta itu. Ketika melihat Felix, ia mengingat pada anak bungsunya yang berada di kampung halaman.
"Gak, mbok." Badan Felix sedikit menggigil.
Mbok Ijah segera mengambil handuk yang masih bersih dan menyerahkannya pada Felix. "mas Felix segera mandi, nanti mbok buatin minuman hangat ya.." Ucap mbok Ijah dengan lembut.
"Iya mbok." Jawab Felix dengan tersenyum hangat.
Beberapa menit kemudian, Felix kembali ke dapur setelah membersihkan dirinya. Mengenakan sweater panjang untuk menghangatkan tubuhnya yang sedari tadi menggigil.
Beberapa kali Felix mengedarkan pandangannya. "Mbok, istriku ada dimana? Kok daritadi saya gak lihat?"
Mbok Ijah yang mendengar langsung mengelap tangannya yang basah dengan handuk kecil yang menggelantung di dekat wastafel, lalu berbalik menatap ke arah Felix. "Apa mas Felix belum tahu? Kalau nona sedang pulang ke rumah tuan Hiromi?"
Kening Felix mengernyit. "Sejak kapan?"
"Saya juga ndak tahu tepatnya kapan, Mas. Tapi tadi pak Andi yang cerita."
"Sekarang pak Andi kemana?"
__ADS_1
"Ada di dalam kamar tamu, sedang istirahat."
***
Suara berisik dari guyuran air hujan di luar rumah membuat perasaan Ala sedikit tenang. Dengan segelas susu hangat yang berada di genggamannya, Ala kembali menyesapnya sambil sesekali memperhatikan aktivitas hujan yang masih melakukan tugas alamnya.
Di dalam kamar kosong tak berpenghuni yang masih terlihat bersih dan rapi, Ala duduk di jendela besar. Tempat favoritnya dulu, ketika ia suntuk dan sedih dengan permasalahan hidup.
Seperti halnya dulu, duduk di jendela besar sambil menatap ke arah luar. Saat ini pikiran dan hatinya harus ia atur, agar tak sedih dan kecewa berlarut-larut. Bagaimanapun, dia harus memikirkan janin yang sudah berkembang baik di dalam perutnya. Stres, pikiran buruk, dan emosi yang tidak baik bukanlah makanan yang sehat untuk janin kecilnya.
Untuk itu, sementara waktu Ala akan berdiam menenangkan diri di rumah keluarganya. Membiarkan akal sehatnya yang berjalan agar tak menyesal di masa depan.
Dibiarkannya juga hape yang terus menerus berdering. Dirinya tadi sudah sempat memberitahu pada Ria untuk tidak jadi bertemu dengannya. Beralasan hujan deras, Ria mengiyakan ucapan bosnya itu.
Sudah hampir satu jam lamanya Ala berada di kamar. Membuat Arina yang baru saja pulang dari kegiatan arisannya mengerutkan keningnya. Dia sudah diberitahu oleh pembantunya, tentang Ala yang tiba-tiba pulang sendiri setelah diantar sopirnya. Namun dia tak mencari siapapun, hanya meminta segelas susu hangat karena dia merasa kedinginan. Lalu berjalan ke atas menuju ke kamarnya.
"Boleh, bu." Suara Ala terdengar lirih dari dalam kamar, tapi Arina mampu menangkap suara tersebut.
Arina berjalan mendekat ke arah Ala yang masih termenung duduk di jendela besar. Lalu mengusap lembut rambut panjang milik putrinya. Ala menoleh menatap ibunya dengan wajah lembut. Meski Ala sedang tersenyum, namun Arina jelas tahu bahwa Ala sedang memiliki suatu masalah.
"Felix mana?" Tentu Arina sudah tahu kalau Ala datang sendiri tanpa suaminya. Ia hanya berpura-pura tak tahu menahu.
"Ada, di rumah." Jawab Ala dengan datar.
"Kenapa gak datang bareng?"
__ADS_1
"Tadi katanya mau ada janji sama temennya." Ucap Ala dengan bohong.
Arina menatap dalam ke wajah Ala. Sedikit ada warna merah di matanya. "Ala.. Kamu gak apa-apa?"
Merasa terkejut dengan pertanyaan ibunya, Ala langsung berusaha menutupinya. Bagaimanapun, dia sudah menikah. Dia tidak ingin kedua orangtuanya mengetahui permasalahan kecilnya dengan Felix secara jelas.
"Aku gak apa-apa kok bu." Berusaha menutupinya dengan senyum.
Jelas Arina tahu bahwa ada yang di sembunyikan putrinya, namun dia tak memusingkan hal tersebut. Yang terpenting ketika ada masalah, anaknya itu lebih memilih untuk pulang ke rumah kedua orang tuanya. Bukan ke tempat yang berbahaya. Itu sudah menjadi hal yang melegakan untuknya.
"Ya sudah, kamu istirahat dulu ya." Pamit Arina. Membiarkan Ala untuk menenangkan pikirannya dulu. Arina yakin, kalau putrinya mengetahui apa yang harus dilakukannya.
Ketika sudah melihat kepergian Arina. Ala menaruh gelas susu yang sudah kosong ke atas meja, lalu mengambil headset bluetooth untuk sekedar mendengarkan musik.
Saat pikirannya terlalu lama fokus mendengarkan musik, tiba-tiba ada sebuah tangan yang melingkar di perutnya. Ala tersentak hingga ia menjerit dengan keras. Namun sedetik kemudian mulutnya dibekap. Ketika menoleh, ternyata itu adalah ulah Felix.
"Ssst, jangan teriak-teriak dong! Nanti dikira aku lagi berbuat KDRT sama kamu." Ucapnya dengan berbisik.
Ala menatap tajam ke arah Felix yang sudah melepaskan bekapannya. "Lagian siapa suruh tiba-tiba dateng main rangkul dari belakang. Bikin orang jantungan aja!"
"Maaf, tadi aku udah ngetuk pintu. Tapi kamu gak nyahut-nyahut. Kirain kamu kenapa-napa, yaudah deh aku langsung nerobos masuk. Lihat kamu dari belakang jadi gak sabar pengen segera meluk. Hehehe.." Ucap Felix dengan cengengesan khasnya.
__________
Hallo readers.. Maaf beberapa kali up nya tidak bisa setiap hari. 😅
__ADS_1
Sudah beberapa hari ini Author sedang sakit, jadi tidak bisa untuk up maksimal Hehehe..
Makasih banget untuk readers yang sudah setia menunggu! Semoga kalian sehat selalu yaa.. Aamiin 😍