
Suara pintu kamar terbuka, menampilkan seorang wanita paruh baya. Hanya mengenakan daster sederhana selutut namun tak sekalipun membuat aura kecantikannya luntur.
"Sera! Bangun! Kenapa kamu masih tidur sih? Gak jalan-jalan atau liburan kemana gitu?" Pekik wanita yang masih terlihat cantik diusianya yang menginjak kepala 5.
Tangannya menarik paksa selimut yang membungkus seluruh tubuh Sera.
"Apa sih, Ma! Sera masih ngantuk!" Tangan Sera kembali menarik selimut tanpa membuka kedua kelopak matanya.
"Kamu sakit, Hah? Kenapa dari awal liburan semester kamu sama sekali gak rewel minta jalan-jalan?" Raut Sarah-mama Sera terlihat khawatir. Lantas ia duduk di tepi kasur tepat di samping Sera.
Sera adalah tipikal anak yang manja, setiap liburan semester ia akan merengek meminta kedua orangtuanya untuk libur kerja dan menemaninya untuk sekedar jalan-jalan atau liburan ke luar negeri beberapa hari.
Namun kali ini mamanya merasa heran melihat putri semata wayangnya hanya bermalas-malasan dari kasur. Dari kemarin terlihat sama sekali tak ada kegiatan yang dilakukanya.
"Badan kamu gak panas kok." Ucapnya setelah mengecek kening Sera.
"Ihh, Sera mau hibernasi mom selama liburan." Protes Sera dengan nada kekanakannya.
"But.. Why?"
Sera memilih diam tak menanggapi pertanyaan mamanya.
"Sarapan dulu deh, Ra. Baru habis itu kamu boleh lanjutin lagi hibernasi nya." Imbuh Sara.
Lagi-lagi Sera tak menjawab dan hanya menggeliat di balik selimutnya.
Sarah menggeleng kepala melihat tingkah baru dari putrinya. Lalu ia memilih beranjak dari tepi kasur dan menutup pintu secara perlahan.
Baru 5 menit lamanya Sera kembali terlelap, suara dering gawai nya berbunyi nyaring di atas nakas.
__ADS_1
Merasa terusik, ia hanya mematikan panggilan tanpa melihat dengan benar siapa yang menghubunginya. Lalu kembali melanjutkan hibernasi panjangnya.
Satu kali, dua kali, panggilan tersebut menjerit terus menerus tiada henti. Membuat Sera beranjak kesal karena terganggu. Tangannya meraih asal handphone dan langsung menerima panggilan.
"Apa lagi sih, Yan? Aku masih ngantuk nih, mau lanjut tidur!"
Beberapa jam sebelumnya, Aryan selalu menghubunginya untuk membicarakan perihal ulahnya yang menguak pernikahan Felix ke media.
"Siapa tuh?" Bukan Suara Aryan yang terdengar di telinga Sera. Aryan memiliki suara yang ringan dan khas, sedang ini bersuara berat dan terdengar.. Sexy?
Mata Sera terbelalak. Ia menatap layar handphone, ia salah sangka mengira yang menghubunginya adalah Aryan namun ternyata nomor yang tak dikenal.
"Anda siapa?"
"Aku pria tampan yang berada di depan rumahmu."
Sera segera beranjak dan menuju jendela kamar, cepat ia menyibak gorden dan membuka jendelanya.
Matanya menyipit mengamati kaca jendela mobil yang terbuka, ternyata sosok pria yang menangkap basah dirinya saat pesta pernikahan Felix datang menemuinya. Ya, itu Asoka. Sedang melambaikan tangan dengan senyum angkuhnya.
****!
"Ngapain om ada di depan rumahku? Om stalker?" Tuduh Sera.
"Hey! Kamu lagi ngomongin dirimu sendiri?"
"Hah." Sera menghembuskan napasnya kasar.
"Bukannya kemarin sudah aku kasih handphone ku? Apa lagi yang om mau?" Tanya Sera.
__ADS_1
"Yakin kalau hanya handphone ini aja yang kamu pakai di hari itu?" Tangannya menunjukkan handphone yang ia sita ke arah Sera yang masih berdiri di depan jendela.
Asoka sebenarnya sudah merasa aneh dengan Sera yang dengan mudahnya memberi barang bukti tanpa ada perlawanan.
Deg! "Iya.. itu aja!" Sera merasa gelisah.
"Kalau om gak segera pergi dari rumahku, aku akan suruh satpam untuk mengusir!" Pekiknya hingga membuat Asoka menjauhkan handphone dari telinganya
"Usir aja. Akan aku pastikan bukan hanya satpam yang kehilangan pekerjaan, tapi kedua orang tuamu juga." Ucap Asoka dengan menatap tajam ke arah Sera dari balik jendela mobil.
Sera membalas tatapan Asoka dengan tak kalah tajamnya. "Mau om apa, sih?!"
"Pertama, jangan panggil aku om karena aku bukan om mu. Panggil aku kak, abang, atau mas. Pilih salah satu dari itu!"
Asoka merasa risih dengan panggilan om, serasa dia begitu tua jika dipanggil dengan sebutan itu.
"Kedua, turun sekarang dan ikut aku untuk ngopi!" Titah Asoka.
Sera merapatkan giginya, tangannya memegang erat gawai nya. Ia tak suka diperlakukan seperti bawahan oleh pria asing yang baru dikenalnya.
"Tunggu disitu dan jangan buat keributan!" Ucap Sera.
"Tergantung seberapa lama aku harus menunggumu. Kalau lebih dari 15 menit, aku akan mengacau di tempat satpam. Kalau lebih dari 30 menit, aku akan mengacau sampai di ruang tamu. Kalau.."
"Iya, iya! Bawel banget jadi om-om!"
Kalau bukan karena adiknya, tak sudi dirinya menangani seorang bocah seperti Sera. Namun justru tipe gadis gila seperti Sera inilah hanya Asoka yang paling tahu menahu.
Sepanjang karirnya menjadi artis sinetron, bukan hanya bocah macam Sera yang terobsesi padanya tapi juga emak-emak yang sudah bersuami terkadang begitu terobsesi dengannya bahkan pernah menerornya dengan menelepon terus menerus.
__ADS_1
Jika di laporkan polisi, mereka akan dengan mudahnya bebas. Lalu mengulang kembali perbuatan gila mereka, atau bahkan melakukan tindakan ekstrim dengan menuduh Asoka memerkosanya dll. Karir Asoka yang kala itu baru saja melejit hampir dibuat anjlok karenanya.
Namun jika obsesi mereka sudah patah, hilang sudah mereka dari kehidupan Asoka. Hal itu yang akan di lakukan saat ini, mematahkan obsesi Sera tentang Felix yang tidak ingin bahagia dengan wanita lain.