
Selesai dengan urusan Sera, Felix izin pamit untuk pulang.
"Biar gue anterin, Fel." Ucap Asoka.
"Iya."
Saat berdiri di dalam lift, keduanya saling diam tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
Felix hanya berpikir ingin segera pulang. Setelah menikahi Ala, entah mengapa pikirannya selalu tertuju padanya. Padahal dulu dia selalu menghabiskan waktu di luar bersama teman-temannya. Tapi sekarang, tak bisa dipungkiri bahwa pikirannya selalu terikat pada wanita itu.
Bayangan senyum dan muka cemberut yang membuatnya gemas selalu muncul dalam benaknya. Tanpa disadari, Felix mengulum senyum yang ternyata dipergoki oleh Asoka.
"Mikirin apa sampai senyum-senyum sendiri kayak gitu?" Tanya Asoka mengagetkan Felix.
"Gak apa-apa." Jawabnya sambil keluar dari lift.
Setelah memasuki mobil dan menancapkan gas, Asoka kembali membuka suara.
"Kenapa waktu itu lo bela Sera?" Tanya Asoka.
"Lo tanya kenapa? Coba lo bayangin deh kalau waktu itu lo yang ada di sisi gue, masak iya lo mau diem aja?"
Asoka diam sejenak. Kalau dia bertanya kepada dirinya yang sekarang, mungkin dia tak akan ragu menjawab tidak. Tapi kalau Asoka yang dulu? Jelas dia ragu untuk menjawab kata 'Tidak.' Dia dulu begitu pasif tentang komunikasi dengan orang lain.
Didikan dari Heru dan kedua orangtuanya yang selalu berambisi, membuatnya tak sempat untuk memikirkan kehidupan orang lain.
"Jujur gue salut sih sama lo, kalau itu gue yang dulu. Belum tentu gue berani untuk speak up membela kaum yang lemah." Jawab Asoka.
Persepsi Asoka tentang cara berpikir Felix yang notabene masih anak SMA itu pasti masih labil dan jauh dari kata dewasa nyatanya hancur begitu mendengar rentetan peristiwa yang diceritakan langsung olehnya.
Mungkin tindakan Felix sembrono saat itu, karena kita tidak akan pernah tahu sifat seseorang itu akan seperti apa. Tapi beruntung, akibat dari sifat sembrono itu dia mau untuk maju dan membela kaum yang lemah tanpa berpikir lebih panjang. Jika dia terlambat, bisa jadi akan ada nyawa yang hilang dan sasaran bullying akan ganti dengan yang baru.
Rumah yang amat dirindukan Felix sudah terlihat, diliriknya jam tangan yang melingkar masih menunjukkan pukul 4 sore. Masih ada waktu sekitar 1 jam lagi untuk Ala pulang dari kantor.
__ADS_1
"Gak mampir dulu?" Tanya Felix.
"Gak, Ala belum pulang kan pasti? Gue langsung gas pulang aja." Jawab Asoka.
Felix mengangguk dan berjalan menjauh dari mobil. Namun langkahnya terhenti saat Asoka berteriak memanggil dirinya.
"Woy bentar, kesini dulu!" Teriak Asoka.
"Ada apa?" Ucap Felix ketika kembali ke sisi mobil Asoka.
"Gue baru inget, gue cuma pengen nyampein aja. Gue tadi sempet liat lo ngobrol bareng cewek.."
"Oh, itu teman aku sih." Felix memotong perkataan Asoka karena khawatir.
"Gue gak peduli dia temen lo atau bukan, yang jelas. Gue cuma wanti-wanti lo aja, jangan sampai lo kelihatan deket sama cewek manapun. Termasuk tadi, main suap-suapan aja! Ala tuh pencemburu berat tahu gak!"
Gila sih! Itu mata manusia apa mata elang? Bisa-bisanya ngeliat sedetail itu dari jarak yang gak deket!
"Terus, kenapa waktu pas sama Sera dia kelihatan gak cemburu?" Tanya Felix.
Mata Felix mengikuti arah mobil Asoka yang sudah menjauh dari tempatnya berdiri. Lalu berbalik badan untuk memasuki rumah, namun keningnya mengernyit mendapati mobil pak Andi yang terparkir rapi di halaman rumah.
Seharusnya Ala akan pulang lebih dari jam 5 sore, itupun kalau tidak lembur. Apalagi sekarang dia sudah tidak lagi bekerja di rumah.
Langkahnya semakin dipercepat untuk mencari tahu apakah istrinya memang sudah pulang.
Dan ternyata memang benar, dia melihat Ala yang tengah duduk santai di ruang tengah sambil menyesap minuman dalam gelasnya.
"Loh, kok udah pulang?" Tanya Felix.
"Lagi gak enak badan, makanya cepetan pulang?" Jawab Ala, ia kembali menyesap racikan minuman yang di buat oleh pembantunya. Terbuat dari madu yang dicampur dengan jahe dan potongan buah lemon.
"Kamu demam?" Tangan Felix mengecek kening Ala. "Nggak panas."
__ADS_1
"Aku gak demam, cuma mual-mual." Jawab Ala.
"Udah periksa ke dokter?"
Ala menggeleng. "Gak, paling cuma masuk angin. Udah sana ganti baju! Baumu asem.."
Felix mencium ketiaknya. "Gak bau, kok. Masih bau parfum."
Namun Ala tetap menjepit hidung dengan jarinya. "Yang bisa nyium kan orang lain, kalau kamu sendiri mana bisa!"
"Masak sih?"
"Iya!! Buruan sana mandi sama ganti baju!" Pekik Ala karena Felix tak segera pergi. Kembali, Ala mual-mual membuat Felix panik.
"Kamu gak apa-apa?"
Tangan Ala menahan tubuh Felix agar tak mendekat sambil menutup hidungnya dengan telapak tangan satunya. "Gak, udah sana pergi! Aku gak kuat nyium bau badan kamu!"
Dengan ragu Felix pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, sikap yang ditunjukkan oleh Ala benar-benar aneh.
Padahal dia jarang sekali memiliki bau badan. Kalaupun Ala tak suka dengan bau parfumnya, harusnya dari dulu ia tak suka karena parfum itu sudah ia gunakan sejak lama.
Setelah membersihkan diri, Felix mencari Ala untuk mengetahui keadaannya. Ala masih duduk santai di ruang tengah, kali ini sambil membawa cemilan di tangan kirinya.
Pemandangan yang begitu aneh di mata Felix, setahunya Ala itu sosok yang pekerja keras. Dimana ada Ala, disitu ada laptop untuk mengerjakan pekerjaannya. Hanya saat-saat tertentu saja Ala akan melepas pandangannya dari laptop.
Tapi kali ini? Dia duduk di sofa itu sambil menonton televisi selama lebih dari satu jam? Atau bahkan mungkin lebih lama dari itu? Entahlah, yang jelas Felix merasa Ala yang duduk disitu benar-benar berbeda dari biasanya.
"La, udah enakan?" Tanya Felix sambil mendudukkan pantatnya di samping Ala. Tangannya mencoba meraih cemilan yang di pegang oleh Ala.
"Eits, kalau mau.. ambil sendiri sana di dapur." Ala begitu sensitif. Cemilan yang menurut Felix sepele, barang sedikit pun tak mau untuk dibagi.
Felix semakin tak habis pikir dengan tingkah anehnya. Apalagi cemilan yang di makan oleh Ala adalah keripik singkong yang mana hampir Felix tak pernah melihat Ala memakannya.
__ADS_1
Meski baru mengenal beberapa minggu dan hidup bersama selama beberapa hari, tapi Felix tahu kebiasaan Ala seperti apa. Ala sangat menyokong gaya hidup sehat dan jarang bermalas-malasan.
"La, kita ke rumah sakit yuk!" Ajak Felix tiba-tiba.