
"Halo? La? Kamu masih disitu kan?" Fara berucap dengan nada kekhawatiran.
"Eh! Iya ma, Ala masih disini. Kakek.. Kakek gimana kondisinya?"
"Mama belum tahu lebih jelasnya, tadi ibumu cuma menyampaikan kalau kakek mu sampai di rawat di rumah sakit."
Tangannya reflek menutup mulutnya yang bergetar, bulir air mata sudah menetes deras ke pipinya.
"Ka-kalau gitu Ala sama Felix akan segera pulang, Ma."
"Iya! Lebih baik kalian pulang dulu!"
"Iya, Ma."
Setelah mematikan panggilan, seketika tubuhnya merosot ke lantai. Hatinya pedih jika harus mendengar berita tentang kakeknya yang terjatuh sakit. Kegembiraan yang baru dirasakannya seolah hilang tak berbekas berganti menjadi kesedihan yang mendalam.
Baginya, Heru adalah pengganti ayah yang sering sibuk bekerja. Kakek dan neneknya selalu ada disaat dia bersedih atau ketika kesepian.
Ketika neneknya meninggal, dia menangis dan berkabung selama berhari-hari, ia menangis seolah ia kehilangan separuh dunianya. Kalau bukan karena Heru yang menghibur, entah akan seberapa lama rasa sedihnya bisa berkurang.
"Ala, apa kamu pernah mendengar seorang pemuka agama yang sholeh pernah mengatakan mayat seseorang akan diberatkan di alam barzahnya kalau kematiannya ditangisi oleh keluarganya?"
Ala yang kala itu masih mengurung diri di kamar hanya menggeleng lemah mendengar pertanyaan Heru. Berhari-hari tiada apapun yang masuk ke dalam tubuhnya, barang seteguk air pun ia menolak untuk meminum.
Bibir Heri mengulum senyum. "Kalau kamu memang sayang dengan nenekmu, ikhlaskan dia! Biar nenekmu bisa ringan menjalani kehidupan selanjutnya di alam barzah dan akhiratnya nanti."
Kalimat Heru membuat Ala semakin meratapi kematian neneknya. Namun bisa dipastikan, ratapan itu menjadi ratapan terakhir untuk kematian neneknya lalu memulai kembali kehidupan baru tanpa neneknya secara perlahan.
Ala menghapus bulir air matanya, kembali pada kenyataan dan harus bersiap untuk segera pulang.
__ADS_1
"Fel! Bangun!" Tangan Ala mengguncang bahu Felix.
Felix menggeliat dan hanya membuka matanya sedikit karena memang masih sangat mengantuk.
"Kenapa?" Suaranya lirih bertanya pada Ala.
"Ayo kita pulang, Fel." Bibir Ala kembali bergetar saat berucap.
Saat mendengar suara Ala yang sedikit aneh, Felix membuka lebar kedua matanya. "Kamu kenapa?"
"Kakek, kakek sakit, Fel. Kita harus segera pulang!"
"Sakit apa?"
"Belum tahu, tadi handphone mu bergetar terus aku lihat ternyata dari mama. Mama bilang pernikahan kita terungkap luas ke media, terus kakek jadi drop di rumah sakit."
"Apa??!"
"Cepetan mandi, Fel! Kita harus segera bersiap untuk pulang!" Desak Ala.
"Sekarang?"
"Ya iyalah!" Pekik Ala.
***
Sudah ketiga kalinya Ala menghembuskan napas panjang nya karena jam masih menunjukkan pukul 1 siang, sedang tiket keberangkatan menunjukkan pukul 1 lebih lima belas menit.
Kaki kanannya menghentak kecil ke lantai, kuku tangan yang semula mulus kini menjadi sedikit kasar akibat gigitan kecil yang di perbuat nya.
__ADS_1
Diabaikannya handphone yang terus bergetar akibat panggilan terus menerus. Pikirannya hanya satu, yaitu pulang.
Sedang di sampingnya, ada Felix yang duduk melamun setelah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Sepanjang perjalanan menuju bandara Incheon, ia menyempatkan diri untuk membuka kabar berita di media sosial.
Yang ada dibenaknya saat ini adalah tidak akan ada lagi ketenangan untuknya ketika memulai hari di sekolah nanti.
Headline news yang sekilas tadi ia baca menuliskan namanya secara jelas. Bahkan berita tersebut dibumbui dengan cerita yang tak jelas sumbernya, seperti awal mula Felix dan Ala bertemu, menikah dimana, dll.
Bahkan ada satu kata komentar yang membuatnya naik pitam, bertuliskan 'PEDOFIL!'
Brengsek! Gue bukan anak kecil! Ia terus mengumpat dalam hatinya jika mengingat kata tersebut. Ia yakin jika komentar itu ditujukan untuk istrinya.
Kepalanya menoleh ke samping, matanya berpapasan dengan mata istrinya.
"Kamu gak apa-apa?" Wajah gelisah yang ditampakkan Ala membuat Felix meluncurkan pertanyaan itu begitu saja.
"Hah?" Ala melongo mendengar pertanyaan Felix yang tiba-tiba.
"Ka..mu..gak.. apa..apa?" Ucap Felix sambil mengisyaratkan dengan gerakan tangan dan mulutnya secara perlahan.
"Ih! Kamu pikir aku tuli apa?!" Pekik Ala tak terima.
"Lah? Terus?"
"Aku denger! Cuma gak tahu maksud pertanyaanmu itu apa!"
"Masak gitu aja gak tahu??"
__ADS_1
Mereka terus lanjut berdebat bahkan ketika sudah sampai di dalam pesawat.