
"Kakak bilang kalau kita gak akan menikah?! Tapi kenapa kenyataannya terbalik??" Rona merah terpampang jelas di wajah gadis yang sedang duduk di depan Asoka. Bukan karena sedang malu ataupun tersipu, tapi menahan amarah yang sedari tadi ingin diluapkannya. Begitu ada waktu yang tepat, dirinya langsung mencercanya dengan sedikit mengatur volume suaranya.
Asoka yang sudah menduga akan mendapat semprotan dari Sera pun menutup mata sebentar untuk menenangkan diri. Sungguh ia pun tak kalah terkejutnya ketika mendengar ucapan kakeknya ketika mereka berdua akhirnya bisa berkunjung.
Tanpa basa-basi, Heru mengungkapkan keinginannya untuk menikahkan Asoka dengan Sera. Penolakan Asoka sudah ia lontarkan, namun hanya berujung pada diamnya Heru. Asoka berada di ambang kebingungan, antara memilih menuruti namun mendapat pengakuan atau menolak namun mendapat kebencian.
"Udah, kamu tenang aja. Toh, itu cuma rencana aja.. Belum diseriusin." Ucap Asoka setelah tenang.
Setelah memutuskan untuk mengajak Sera mengunjungi kakeknya, ia harus memastikan tiada kata lo-gue lagi dalam percakapan mereka berdua. Asoka harus meyakinkan kakeknya bahwa dirinya memang ada keterlibatan perasaan dengan Sera. Namun tak ia sangka bahwa kebohongan itu akan berbuntut panjang.
Sera memutar kedua bola matanya. "Yakin kalau itu cuma berakhir rencana semata? Yang aku lihat, kakek mu itu orang yang penuh ambisi. Kalau dia punya keinginan, pasti bagaimanapun caranya akan ia kejar sampai dapat." Ucap Sera setengah berbisik. Bagaimanapun mereka masih berada di berada di rumah Heru, membicarakan sang empu rumah selagi tidak ada kehadirannya di tengah mereka tentu bukan suatu hal yang baik.
Asoka sontak terkejut mendengar pernyataan Sera. Ia tak pernah menyangka kalau Sera cepat tanggap tentang sifat Heru. Ia kira, gadis di depannya itu hanya tahu tentang cara menggerutu.
"Kalau beneran, yaudah tinggal di laksanain aja kan?" Jawabnya dengan enteng.
"Ih, enak aja. Perbedaan usia kita itu jauh, apalagi menikah itu hal yang serius! Bukan cita-cita ku juga menikah dengan pria yang sama sekali gak aku cintai." Tolak Sera secara mentah-mentah. Penolakan itu membuat seolah-olah cinta Asoka bertepuk sebelah tangan.
Berbicara tentang cinta. Asoka begitu sibuk dalam mengejar karir, hingga tak sedikitpun ia sempatkan hatinya untuk mencicipi apa itu yang namanya cinta. Hanya pernah beberapa kali berkencan dengan wanita. Itupun karena untuk menunjang karirnya, tak lebih.
Sedang Sera hanyalah gadis remaja yang masih berproses dalam mencari jati dirinya, bukan heran jika yang ada di benaknya menikah itu adalah hanyalah tentang dua orang yang saling mencintai. Nyatanya menikah tidak sesederhana itu, Asoka tahu itu. Dan dia hanya sedang menggoda Sera saja.
"Emang siapa bilang aku mau nikahi kamu karena cinta?" Asoka berbalik tanya dengan menaikkan dagunya. Baginya mengajak debat dengan gadis di depannya itu adalah suatu hal yang menarik hatinya.
__ADS_1
Sera merasa tersinggung dengan pernyataan Asoka. "Terus? Bukannya karena kakak udah mulai jatuh cinta denganku lalu menyetujui permintaan kakek?" Goda Sera dengan senyum manisnya.
Asoka terkekeh geli mendengarnya. Ia tahu bahwa Sera hanya ingin balik menggodanya. "Ini otak pikirannya cinta mulu." Ucapnya dengan menyentil dahi Sera.
Sera meringis mendapat sentilan yang tiba-tiba. Mengelus pelan dahinya dan bersiap untuk kembali melayangkan protesnya. Namun segera ia urungkan karena melihat Arina mendatangi keduanya.
"Soka.. Tadi ibu dengar kalau kakek menginginkan kamu menikah dengan Sera?" Tanya Arina dengan lembut. Tiada rasa khawatir sedikitpun dalam benaknya, meski dalam hati ia pun ingin mengatakan ketidaksetujuannya terhadap permintaan sang ayah.
"Iya, bu."
"Kalian gak usah khawatir, bisa ibu pastikan kalau kakek gak meminta kamu untuk menikahi Sera dalam waktu yang dekat."
"Kenapa tante bisa seyakin itu?" Sahut Sera.
Sera mengangguk membenarkan, meskipun dia tidak terlalu tahu menahu persoalan bisnis antara papanya dengan keluarga Kusuma. Tapi bisa ia pastikan kalau kedua orang tuanya memang tidak ada ikatan balas budi.
"Tunggu.. jadi Felix menikah karena kedua orang tuanya ada ikatan balas budi dengan kakek?" Tanya Sera dengan terkejut.
Asoka mendengus. "Baru tahu?"
Sera tak menjawab dan hanya menatap kosong ke arah lain.
"Kalau emang begitu ya baguslah bu.. aku gak perlu nikahi gadis yang masih mentah kayak dia." Celetuk Asoka yang kemudian mendapatkan tatapan tajam dari Sera.
__ADS_1
"Kamu jangan senang dulu, kakek mu gak akan menyerah untuk membuatmu menikah meskipun bukan dengan Sera. Ibu yakin, kakek mu sebenarnya sudah tahu mengenai kebohongan hubungan kalian berdua." Tukas Arina dengan tersenyum.
Mata Sera terbelalak, begitupun dengan Asoka. "Kok tante tahu?"
"Kalian kira kami orang bodoh yang gak mencari tahu terlebih dahulu? Kakek mu sengaja berpura-pura tak tahu karena ingin mengikatmu dengan pernikahan Soka.." Jawab Arina dengan menatap Asoka.
Kening Asoka mengernyit. "Jadi maksud ibu kakek memang udah dari awal punya rencana untuk menikahkan ku?"
Arina membalas dengan anggukan. "Tapi kakek gak menyangka kalau gadis yang akan kamu bawa ternyata Sera."
Dalam benak Sera masih berpikir keras. Tak menyangka kalau dalam keluarga ini, pernikahan pun ditentukan oleh yang paling berkuasa. Ini sungguh bertentangan dengan dirinya yang tidak suka di ikat dengan aturan. Hidupnya harus dia sendiri yang menjalani, kedua orang tuanya pun selalu memberikan apa yang dia mau. Hampir tak pernah mengekang atau memberi aturan. Dan itu membuatnya tiba-tiba merasa bersyukur.
Keheningan menyelimuti diantara mereka bertiga. Arina meneliti masing-masing ekspresi yang ditampakkan oleh putranya dan Sera. Dirinya pun juga tak rela jika putranya harus berakhir menikah karena permintaan Heru. Ia ingin putranya menikah dengan tambatan hatinya, pilihannya hatinya sendiri. Cukup putrinya saja yang sudah menjadi korban.
"Ibu harap kalian tidak usah terlalu memusingkan apa yang diucapkan kakek. Sebisa mungkin ibu akan membujuk kakek agar membatalkan rencana pernikahan kalian. Bagaimanapun Sera adalah seorang wanita yang masih sekolah. Dia harus mendapatkan pendidikannya sebelum terkekang tali pernikahan.." Lalu pandangannya beralih pada putranya.
".. dan kamu Soka, ibu harap kamu bisa menikah dengan seorang wanita pilihan hatimu sendiri." Imbuhnya.
"Tapi bu, sebenarnya aku khawatir. Kalau aku menolak permintaan kakek, aku akan di benci kakek lagi." Ujar Soka.
"Jadi ini alasanmu tiba-tiba menuruti perintah kakek?" Tanya Arina.
Asoka menampakkan senyum menawannya. "Iya, aku ingin kembali berhubungan baik dengan kakek seperti dulu." Meski bibirnya mengulum senyum, tapi matanya menatap sendu ke arah ibunya.
__ADS_1
Sera yang mendengar percakapan keduanya hanya mengernyit. Dia memilih lebih baik diam karena tak mengerti apa yang sedang dibicarakan.