Suamiku Bocah SMA

Suamiku Bocah SMA
Episode 49


__ADS_3

Tak biasanya pagi ini Ala mematikan kembali alarm hape yang berdering, lalu menarik kembali selimutnya untuk menutupi seluruh tubuhnya yang naked.


Sedang lelaki yang berada di sampingnya pun masih terlelap tanpa menghiraukan suara alarm yang berdering sudah dimatikan.


Keduanya melanjutkan mengarungi mimpi, tanpa disadari bahwa waktu terus bertambah hingga di alarm yang tadinya dimatikan kembali berbunyi terus menerus.


Kali ini Felix yang merasa terganggu dengan suara itu, lalu menggeliat dan mengucek matanya. Otaknya yang masih belum mencerna suasana dengan baik hanya acuh ketika mematikan alarm hape yang sudah menunjukkan pukul 06:55.


Saat ingin memejamkan kembali matanya yang mengantuk, tiba-tiba otaknya sudah mampu mencerna dan membuat matanya terbelalak.


"Ala!" Pekiknya membuat Ala terkejut.


"Hah? Apa? Kenapa?" Mata Ala terbelalak memerah karena rasa kantuk yang dipaksakan untuk bangun.


"Coba deh kamu liat sekarang jam berapa!" Ucap Felix.


Ala mengecek hapenya yang ia jadikan untuk alarm. "Masih jam 6 kok."


"Jam 6 lebih 55 menit, Ala!!" Teriak Felix sambil sedikit berlari menuju kamar mandi.


Otak Ala masih mencerna ucapan Felix. Ketika jaringan dalam otaknya sudah menyambung, dia langsung bergegas menyusul Felix ke kamar mandi.


"Feliiiix!! Mandi bareng!!"


***


Setelah tragedi bangun telat yang terjadi di pagi tadi, kini Ala sudah berada di rumah kakek dan kedua orang tuanya.


Arina yang memandangi putrinya sedang terbengong di ruang tengah akhirnya mendatangi dan ikut bergabung duduk di sampingnya.


"Kamu kenapa gak ke rumah sakit aja sih, La? Atau gak, kamu kan bisa di cek dulu sama Dani." Ucap Arina.


"Emang Dani ada di rumah, bu?" Ala menengok ke kanan kiri mencari Dani si perawat Heru.

__ADS_1


"Ya gak ada sih, tadi lagi nemenin ayah. Katanya ayah mau main golf gitu sama teman lama." Jawab Arina.


Ala menganggukkan kepalanya. "Aku kayaknya gak sakit parah sih, bu. Rasanya gak enak badan aja, terus mual tapi cuma pas waktu tertentu. Tapi yang bikin aneh tuh ngelakuin apa-apa rasanya badan cepet capek gitu. Apalagi kalau di rumah bawaannya pengen rebahan mulu."


Mata Arina berbinar mendengar cerita Ala. "Jangan-jangan kamu hamil, La."


"Hah? Masak sih bu? Ta-tapi kan aku sama Felix baru nikah lebih dari satu bulan. Masak udah.." Tangannya membuat isyarat gerakan membulat di depan perutnya.


"Ya bisa dong, kamu udah telat haid belum?" Tanya Arina.


Ala mengingat-ingat jadwal bulanannya. Seingatnya, seharusnya jadwal bulanan itu kurang lebih seminggu yang lalu. "Iya, bu. Udah telat seminggu."


"Nah, kan.. Mending kamu beli alat testpack buat ngecek."


"Iyadeh nanti. Ala mau brunch dulu."


"Emang tadi belum sarapan?"


"Udah, tapi cuma makan sandwich. Masih laper.."


~


Sedang di sisi lain, Felix menyenderkan kepalanya di atas meja kantin sambil memegangi perutnya yang kosong. Aryo datang sambil membawa dua piring berisi ketoprak yang membuat cacing di dalam perut Felix bergemuruh karena mencium aroma ketoprak yang khas.


"Wah, aromanya bikin ngiler." Ujar Felix. Lalu dia langsung melahap makanan itu setelah Aryo menyerahkannya.


"Lo kayak udah gak makan setahun aja, Fel."


"Laper banget gue, tadi gak sempet sarapan juga. Telat bangun."


"Gila sih lo.. Pengantin muda bangun telat mulu, sepanas itu yah malam-malam kalian?" Tanya Aryo dengan penasaran. Ia menggeser ketopraknya ke samping, memilih mendengarkan cerita Felix yang lebih menggoda.


"Yah gitu deh.. Kalau gue cerita lebih detail, ntar elo kepengen lagi. Kasihan gue ntar lo gak ada pelampiasannya. Paling cuma ada sabun." Celetuk Felix.

__ADS_1


"Pake yang asli lebih enak daripada pake sabun." Imbuh Felix dengan berbisik.


"Ah sialan lo! Ngejek gue ya!!"


Aryo dan Felix tertawa paling keras di antara pengunjung kantin yang lain. Keduanya memang terkadang menyelipkan pembicaraan sesuatu yang berbau dewasa.


"Eh yo, lo ada ide buat ngasih kejutan ke cewek gitu gak?" Tanya Felix ketika sudah menyelesaikan ketopraknya.


"Emang bini lo mau ultah?"


"Ya gak sih, cuma.. kemarin dia ngambek gitu gara-gara gak pernah aku nyatain cinta kayak pas orang-orang pacaran."


"Ini nih alasan kenapa gue gak terlalu suka pacaran. Ribet ngurusin cewek, Fel!"


"Lo sih belum pernah ngerasain jatuh cintrong! Kalau dah pernah, beuh bisa gila lo dibuatnya."


"Iya sih, emang kalau belum ngerasain sendiri terus denger cerita dari orang tuh kayak terlalu mengada-ada gitu." Jawab Aryo.


"Lagian lo udah tahu sendiri kan alasan gue pacaran dari dulu karena apa? Karena mereka para cewek lah yang nembak gue duluan." Tanya Felix.


"Terus kalau sama Hilda?"


"Emang gue belum pernah cerita ya tentang Hilda? Kita dulu emang saling cinta, tapi gak pernah pake kata-kata."


Aryo menganggukkan kepalanya mengerti. Tentu Aryo sangat mengetahui seluk beluk gaya pacaran Felix karena sudah berteman dengannya begitu lama. Banyak para cewek yang selalu mengincar Felix karena ketampanannya.


Sebenarnya Aryo juga berwajah tampan, tapi karena dia selalu bersanding dengan Felix yang paling bersinar. Membuatnya kalah terang, jadi orang hanya selalu tertarik dengan Felix dan mengabaikan Aryo.


Tapi Aryo tak masalah, Felix adalah kawan yang paling mengerti dirinya yang seorang introvert. Dirinya tak membutuhkan seorang gadis untuk saat ini, karena ia berpegang teguh untuk tidak mempunyai mantan selama hidupnya.


"Terus, kenapa lo malah tanya ke gue? Lo kan juga tahu kalau gue tuh jomblo dari lahir?"


Jawaban Aryo membuat Felix menepuk jidatnya yang licin. "Bego! Iya juga ya, ngapain gue tanya ke elo yang jomblo. Bego banget sih gue.."

__ADS_1


"Tapi gak apa-apa sih, gue bisa bantu lo kok. Gini-gini gue sebenernya pria yang romantis tahu."


Felix menyipitkan kedua matanya. "Yakin?"


__ADS_2