Suamiku Bocah SMA

Suamiku Bocah SMA
Episode 61


__ADS_3

Tak ada yang sepenuhnya mengerti tentang pertikaian batin yang dialami oleh Felix. Remaja berusia 18 tahun itu memang selalu dikelilingi oleh orang yang menyayanginya. Tapi tetap masalah hidup akan silih berganti datang di kehidupannya. Salah satunya adalah kebebasan. Terikat pernikahan dengan anak konglomerat tak semata-mata hidup selalu mulus bahagia.


Dirinya harus selalu menekan ego dan bersabar sebagai suami. Menjadi suami tentu adalah gelar berharga yang akan ia sandang selamanya. Sejujurnya, tak mudah bagi Felix untuk menjalani pernikahan di usia yang begitu muda. Tapi untuk keluarganya, apapun akan ia lakukan.


Sepanjang perjalanan menuju sekolah, dia selalu memperhatikan beberapa anak jalanan yang terlihat hidupnya lebih keras dibanding dirinya. Hal itulah yang selalu menjadi motivasi diri, bahwa dia harus lebih banyak bersyukur tentang apa yang dia miliki.


Seperti biasa, sesampainya di sekolah dia langsung mencari Aryo. Hanya dia seseorang yang sekira Felix bisa di ajak bertukar pandangan dan ide. Sifat dan cara berpikir yang begitu berbeda, justru membuat keduanya akrab.


"Apaan sih lo, Fel. Main nyeret aja kayak mau ngajak gue ke KUA." Celetuk Aryo saat tangannya ditarik oleh Felix.


Felix mengabaikan candaan Aryo dan segera mendudukkan pantatnya di salah satu kursi kosong. Mereka saat ini berada di kantin sekolah yang mana masih sepi dari pengunjung. "Gue ada hal penting buat di omongin." Jawab Felix.


Aryo mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kantin. Benar-benar masih sepi. "Gak bisa nanti aja? Udah mau masuk kelas nih.."


"Gak. Gue maunya sekarang, kalau nunggu ntar takut jadi lupa."


"Yaudah buruan apa yang mau di obrolin?" Akhirnya Aryo pasrah dan ikut duduk di kursi sebrang Felix.


"Lo udah nentuin mau masuk ke Universitas mana?" Tanya Felix.


Aryo memutar kedua bola matanya. Dia kira Felix akan membicarakan hal yang serius dengannya. "Udah. Gue mau yang deket aja ke UI."


"Jadi ambil kedokteran?" Felix sudah mengetahui hal itu sejak dulu, mengingat persahabatan mereka yang sudah terjalin lama. Begitupun Aryo yang juga mengetahui tentang keinginan Felix.

__ADS_1


Aryo menganggukkan kepalanya. "Kalau lo? Jadi ke Kanada?"


Felix menghela napas. "Nah ini yang bikin gue bingung. Lo tahu kan kalau gue udah nikah? Mana bini gue lagi hamil lagi."


"Apa?! Hamil? Gila.. tok cer bener." Suara Aryo terdengar menggema di seluruh ruangan.


"Sstt, jangan pake teriak-teriak ngomongnya!" Meski dalam ruangan hanya ada mereka berdua, tetap saja Felix takut jika ada yang mendengar percakapan mereka.


"Bentar lagi jadi papa muda dong."


"Maka dari itu, Yo. Masak gue harus ninggalin bini gue? Tapi disisi lain, gue juga gak mau melepas kesempatan untuk kuliah ke luar negeri. Tau sendiri dulu papa gue yang ngelarang sekarang udah ngasih ijin. Gue jadi bingung.."


Aryo terlihat memijit pelipisnya. Ia sedikit gemas dengan cara berpikir sahabatnya itu. "Kenapa emangnya kalau ninggalin bini? Kan cuma sementara gak selamanya. Kalaupun ada apa-apa ya lo tinggal pulang aja. Beres. Secara bini lo kan tajir melintir. Gue kira, gak akan ada masalah yang berarti kalau lo ke luar negeri."


"Ya bisa lah. Oon banget sih lo.. Hidup udah susah ngapain dibuat susah?"


"Lo sih enak, belum nikah. Gak usah mikir ini itu kayak gue."


"Emang lo mikir apaan? Perasaan biaya hidup udah ada yang nanggung, setelah nikah juga kerjanya cuma ***-*** doang sama bini. Inget! Lo sekarang juga udah punya kebebasan bisa milih sekolah ke luar negeri. Apanya yang mau dipikirin lagi? Sebenarnya hidup lo gak susah-susah amat dibanding orang lain. Masih banyak orang yang hidupnya lebih susah, Fel! Lo nya aja yang kebanyakan mikir." Jelas Aryo panjang lebar.


Felix melapangkan hatinya untuk menerima kritik pedas yang dilontarkan oleh Aryo. Meski dirinya sedikit tak suka dengan beberapa kata Aryo, namun tak bisa dipungkiri bahwa hampir semua ucapannya adalah kebenaran. Felix sendiri yang membuat segalanya menjadi ribet dan susah.


"Jadi, menurut lo.. Mending gue kejar impian gue ke Kanada aja?"

__ADS_1


"Ya iyalah.. Gue yakin kalau bini lo juga pengennya lo mikirin kuliah yang bener. Kalau emang lo pengennya ke Kanada yaudah tinggal berangkat. Persoalan bini, mending kalian obrolin berdua enaknya kayak gimana. Gak mungkin kan kalau ngobrolin soal itu sama gue juga?"


***


Persis apa yang dikatakan oleh Aryo di kantin tadi pagi, kini saat sudah bertatap muka kembali dengan Ala di malam harinya. Ala membicarakan kembali persoalan Felix yang ingin kuliah ke Kanada.


"Apa lagi yang mau kamu pertimbangkan?" Tanya Ala ketika tak kunjung mendapat respon Felix.


"Kamu gak sedih aku tinggal ke Kanada?"


Ala yang mendengar malah tergelak tawa. "Kenapa sedih? Kan kamu kuliah gak selamanya. Lagian aku bisa kok sewaktu-waktu ngunjungin kamu, atau kamu yang pulang ke sini setiap berapa bulan sekali."


"Terus kalau kehamilan kamu makin membesar, terus gak ada aku di sisimu gimana?" Tangan Felix mengusap perut Ala yang masih kempis.


"Ya gak gimana-gimana lah, kan aku di sini gak sendiri. Ada banyak orang yang akan menemaniku di sini. Tenanglah, Fel. Aku udah siap dan mikirin hal itu matang-matang. Semua akan baik-baik saja. Kamu tinggal mikirin masa depanmu. Itulah yang terpenting untuk sekarang." Jelas Ala sambil mengelus pipi Felix dengan lembut. Sorot matanya yang lembut menenangkan hati Felix yang sedari kemarin resah dan gelisah.


"Jadi, kamu juga udah siap untuk pertempuran lagi malam ini?" Tanya Felix dengan senyum nakalnya.


"Apa?! Kok jadi mengarah kesitu sih?" Protes Ala. Pasalnya mereka tadi masih berbicara hal tentang masa depan. Tapi mengapa sekarang Felix berbicara persoalan ranjang?


"Hatiku yang gelisah udah tenang karena mendengar kata-kata mu, sekarang adikku yang dibawah masih gelisah kalau belum mendengar suara desahanmu."


"Ish, mesum banget sih."

__ADS_1


Keduanya saling tergelak tawa, kemudian saling memagut dan mendamba. Terbesit oleh kata-kata Aryo dalam benak Felix. Hidupnya sudah enak dengan kerjaannya yang '***-***' dengan sang istri. Dan itu membuatnya lebih bersyukur atas takdir hidup yaitu menikah di usia yang begitu muda.


__ADS_2