
Kesadaran Sera kembali setelah hampir tiga hari lamanya tak sadarkan diri membuat Sarah gembira dan segera memeluk erat tubuh putrinya.
Dia menangis hingga tubuhnya terguncang, sedang Sera hanya menatap kosong ke arah lain.
"Kamu udah gak apa-apa, Kan?" Tanya Sarah setelah melepas pelukan eratnya.
Namun Sera hanya diam tak menjawab pertanyaan ibunya. Wajahnya masih pucat, tiada keceriaan yang sering ditampakkan di depan kedua orang tuanya.
Sarah yang melihat kondisi putrinya kembali merasakan pilu, namun segera ia usap bekas air mata yang mengalir. Pertama-tama, dia sendiri harus kuat agar bisa memberikan suntikan semangat pada putrinya.
"Kamu.. laper gak? Mau mama belikan sesuatu?" Tanya Sarah.
"Aku dimana?" Akhirnya Sera bersuara dengan lirih. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
"Kamu sedang dirawat di rumah sakit, Sayang. Tiga hari yang lalu.."
Sarah seperti enggan untuk meneruskan kalimatnya.
"..Kamu kehilangan banyak darah."
Sera tersenyum kecut mengingat kembali perbuatan mengakhiri hidupnya. "Kenapa aku gak mati aja.. Apa bahkan Tuhan juga gak mau ketemu sama aku yang hina ini?"
"Sera!!" Bentak Sarah.
"Ma, aku capek hidup! Kenapa gak ada yang sayang sama aku, Ma??!!" Sera menjerit dengan histeris. Mengeluarkan keluhan yang selama ini terpendam dalam hatinya.
Sontak membuat Sarah dengan cepat memeluk tubuh yang sedang rapuh itu. Menenangkan jiwanya yang sedang guncang. Sekuat tenaga Sarah membekap tubuh itu agar tak terus menyakiti diri sendiri.
Sera menangis tersedu-sedu dalam pelukan ibunya. Dalam ruangan yang luas itu, hanya terdengar suara tangis mereka yang panjang tanpa adanya percakapan.
Hampir 10 menit lamanya mereka berpelukan. Lalu Sarah melepas pelukannya, dan menatap dalam wajah putrinya. Merapikan rambut panjang Sera dan mengambil ikatan rambut yang berada di atas meja untuk mengikat rambut Sera.
Wajah Sera sedikit terlihat lebih rapi meski masih pucat. Lalu Sarah mengulurkan segelas air putih. "Minumlah.."
__ADS_1
Namun Sera masih bergeming, tangannya sama sekali tak beranjak untuk mengambil minuman itu.
Sarah menghembuskan napas panjangnya. Dan duduk di tepi ranjang pasien. Matanya menatap ke arah jendela besar, menampilkan pemandangan langit oranye begitu indahnya.
"Ketika kamu sedang menyerah dengan kehidupanmu, apa kamu.. sama sekali gak pernah terbesit tentang mama dan papa?" Tanya Sarah.
Tubuh Sera menegang mendengar pertanyaan ibunya. Seketika terlintas dalam memori Sera tentang mama dan papa nya. Hampir kedua orang tuanya itu selalu berusaha ada untuknya. Meski Arnold dan Sarah selalu sibuk bekerja, dia selalu menyisihkan waktu untuk membersamai Sera.
Kepala Sera menunduk ke bawah, menatap kedua tangannya yang sedang memilin baju khusus pasien.
"Sera.. mama tahu kalau dulu kamu pernah mengalami hal yang gak mengenakkan. Maafin mama karena mama baru mengetahuinya sekarang."
"Mama gak salah kok.." Jawab Sera dengan lirih.
".. Ini salah Sera karena terlalu lemah."
"Gak, Sera! Mulai sekarang kamu harus menanamkan hal-hal positif dari dalam hatimu. Kamu cantik, kamu kuat, dan kamu bisa!" Tegas Sarah.
"Ma, apa mama gak marah dengan sikapku yang selalu mengecewakan?" Tanya Sera dengan berhati-hati.
"Orang tua mana yang gak kecewa melihat anaknya berusaha menghabisi nyawanya sendiri? Tapi seberapapun kecewanya orang tua, dia akan tetap berada disisi anaknya, menyayanginya. Karena apa? Ya karena mereka anak-anaknya." Jawab Sarah.
"Ma, aku haus."
Sarah tersenyum lega dan langsung mengambilkan segelas air putih untuk putrinya. Sera pun langsung menenggak minuman itu hingga tandas.
Meski masih ada sisa kesedihan dalam hati Sera, namun muncul keinginan untuk terus hidup demi kedua orangtuanya. Kewarasannya dalam berpikir muncul kembali setelah mendengar nasihat dari mamanya.
Setelah meminum air putih itu, dia juga bertekad untuk menemukan kembali tujuan hidupnya.
Setelah beberapa hari dirawat insentif di rumah sakit untuk kepulihannya. Akhirnya dokter mengijinkan Sera untuk pulang setelah dirasa tubuhnya sudah bisa digunakan untuk beraktivitas.
Asoka yang mendengar kabar itu langsung bergegas menuju ke rumah sakit. Dia harus segera melancarkan aksinya.
__ADS_1
Sesampainya di sana, Sera masih duduk di tepi ranjang pasien. Dia sudah bersiap-siap untuk segera pulang sambil menunggu mamanya selesai mengurus pengambilan obat di apotek rumah sakit.
"Udah gak apa-apa?" Tanya Asoka membuat Sera terkejut karena kedatangan yang tiba-tiba. Tanpa salam dan tanpa basa-basi.
"Ngapain kak Asoka kesini?" Setelah sekian lama, akhirnya Sera memanggil Asoka dengan sebutan 'Kak'.
"Gak suka gue dateng kesini?"
"Gak." Jawab Sera dengan datar.
Asoka menghembuskan napasnya panjang. Dia harus bersabar menghadapi gadis remaja di depannya.
"Ada hal penting yang ingin gue obrolin."
"Tentang apa? Skandal cinta?"
"Yah, itu salah satunya. Tapi gue gak mungkin bicarain hal itu disini, gue masih belum cerita apa-apa ke tante Sarah."
Sedetik kemudian, Sarah datang sambil membawa sebungkus plastik berisi obat. "Loh, Asoka. Kapan dateng?"
"Baru aja, Tante. Sera biar saya aja yang nganterin pulang. Sekalian mau ajak jalan-jalan sebentar, boleh kan tante?" Tanya Asoka.
"Boleh, tapi jangan lama-lama. Sera masih perlu waktu istirahat yang banyak."
"Siap."
Sera yang mendengar hanya diam dan ikut saja atas perintah Asoka untuk mengikuti langkahnya dan masuk ke dalam mobil.
Ketika di dalam mobil, Sera hanya diam dan menatap ke luar melalui kaca mobil. Keheningan begitu terasa waktu itu. Sampai akhirnya, Asoka membelokkan arah dan masuk ke kawasan resto ala Jepang.
Alasan Asoka memilih ke resto Jepang, karena Sera yang tak bisa makan makanan junk food. Ditambah, dia juga menyukai resto tersebut karena pelanggan dapat memilih tempat di dalam ruangan atau duduk di depan chef yang sedang atraksi ketika pelanggan datang sendiri.
Sejenak Sera terpukau dengan suasana dan tatanan yang begitu kental ala Jepang. Mungkin, dia akan menambahkan list ke dalam jajaran resto favoritnya.
__ADS_1