Suamiku Bocah SMA

Suamiku Bocah SMA
Episode 60


__ADS_3

Ketika jam dinding sudah menunjukkan pukul 1 dini hari, mata Felix sama sekali belum merasakan kantuk. Sudah sedari jam 8 malam dia duduk di kursi sambil menatap layar laptopnya. Memang ujian nasional yang akan dijalaninya akan segera datang, tapi bukan karena itu dia menatap layar laptop untuk belajar. Dia sedang meyakinkan diri tentang tempat yang akan ia pijak untuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi. Ya, Universitas.


Masih merasa ragu tentang pilihan yang sudah lama ia idam-idamkan jauh sebelum bertemu dengan Ala. Butuh berjam-jam lamanya ia mencari informasi tempat lain, Universitas cadangan yang lain. Namun kembali lagi, hatinya masih terpaut pada Universitas pilihan sebelumnya.


Ditambah papanya sudah berjanji untuk tidak mencampuri urusannya tentang masuk ke Universitas mana. Tapi dalam hati Felix masih ada keresahan yang belum bisa diungkapnya pada Ala.


Sejenak dia menyenderkan punggung pada kursi. Sudah berhari-hari yang lalu, masalahnya dengan Hilda sudah selesai teratasi. Dalam rentang beberapa hari itu juga, Ala selalu menyelipkan ceramah selama berjam-jam ditengah quality time mereka. Setengah ceramahnya ia ingat, dan setengahnya lagi ia buang ke dalam sampah karena memang setengahnya itu hanyalah omelan belaka.


Felix tersenyum kecil jika mengingat kembali ceramah yang diberikan oleh istrinya. Seolah sedikit mengalihkan perhatiannya pada keresahan tentang masa depan.


"Makanya, kalau memang gak cinta tuh jangan di kasih perhatian lebih. Giliran di kejar aja bingung, bilangnya gak mau.. gak cinta. Kalau dah gitu siapa yang susah? Diri sendiri kan?"


Itu hanyalah salah satu kalimat yang dilontarkan oleh Ala. Dan kalimat itulah yang paling ia ingat. Memang benar, tanpa dia sadari terkadang dirinya memberi perhatian kepada para gadis yang membuat mereka mengira mereka masih memiliki harapan untuk menempati posisi dalam hati Felix.


Nyatanya, memang Felix mempunyai sifat yang seperti itu. Dia baik pada orang yang bersikap baik padanya. Tapi bukan berarti itu karena cinta.


Mulut Felix menguap, matanya mulai terasa berat. Pertanda kantuk mulai menyerang. Lalu dirinya menatap ke arah istrinya yang sudah dari tadi tertidur pulas. Dia beranjak dari tempatnya duduk, memutuskan untuk menemani sang istri mengarungi mimpi. Biarlah perihal masa depan ia pikirkan esok hari. Ia tak ingin pikirannya terlalu terpaku pada hal itu.


***


Alarm hape sudah berdering, Felix menggeliat dibalik selimutnya. Tangannya mengusap-usap tempat yang berada di sebelahnya. Matanya terbelalak karena tangannya tak menemukan sosok yang ia cari. Ia terkejut karena tak biasanya sang istri sudah terbangun sebelum alarm berbunyi. Lalu Felix mematikan alarm yang masih berdering. Beranjak dari kasurnya dan membersihkan diri.

__ADS_1


Seperti biasa, Felix sudah siap dengan seragam sekolahnya. Saat dirinya sudah menuju ke meja makan, pandangannya menangkap sang istri yang sudah lengkap dengan setelan kerja dan tengah menyantap sarapan.


Felix menghampiri pelan dan duduk di kursi sebelah Ala. "Pagi cantik." Sapa Felix dengan senyum sumringahnya. Felix begitu yakin bila senyum yang ditampilkannya sudah menawan.


Tapi mengapa Ala hanya melirik dan tak acuh pada sikap manisnya?


"Are you okay?" Tanya Felix dengan khawatir.


Ala meletakkan kembali sendoknya. "Fel, kamu menyembunyikan sesuatu lagi dari ku kan?"


Kedua alis Felix saling bertaut. Dia benar-benar tak mengerti apa yang sedang disembunyikannya. Tapi sedetik kemudian dia teringat akan Universitas. "Tunggu! Jangan bilang kamu ngungkit soal Universitas."


"Memang itu." Jawab Ala setelah meneguk air putihnya.


Ala membersihkan mulutnya dengan mengusap selembar tisu. Pandangannya bertemu dengan Felix. "Kalau aku gak lihat layar laptop yang dari semalem gak kamu matiin, mungkin aku gak akan mengungkit tentang hal ini. Sebelum menikah, aku dan papa mu udah saling membuat janji untuk tidak mencampuri urusanmu soal Universitas."


"Kapan? Kenapa aku gak tahu?" Tanya Felix kembali. Dirinya benar-benar tak tahu soal itu.


"Kamu tidak usah tahu itu kapan, yang jelas.. papa kamu bilang bahwa beliau menjanjikan dirimu soal kebebasan memilih Universitas jika kamu bersedia menikah denganku."


Felix menelan saliva nya. Felix tak menyangka jika papanya mengungkapkan perjanjian tersebut kepada Ala. Hal itu benar-benar membuatnya malu.

__ADS_1


"Terus papa bilang apa lagi?"


"Beliau bilang, sudah lama kamu ingin kuliah di luar negeri mengambil jurusan sport science sesuai apa yang kamu suka. Sedang papa mu menginginkan kamu untuk mengambil jurusan bisnis dan manajemen. Dan setelah perjanjian tersebut, tentu papa mu tidak bisa memaksamu lagi untuk mengambil jurusan keinginan papa." Jelas Ala.


Ala menghela napasnya setelah melihat raut wajah Felix yang terlihat begitu susah dan kembali berucap. "Intinya papa mu menginginkan aku untuk ikhlas jika kamu nantinya memilih kuliah ke luar negeri."


Pandangan Felix jatuh ke bawah. Dulu dia memang begitu menginginkan untuk kuliah di luar negeri. Tepatnya di Kanada. Meski dirinya tahu bahwa dia lemah di akademik, namun bagaimanapun dia harus meneruskan pendidikannya di Universitas. Dan mengambil jurusan olahraga yang mana sesuai hobinya.


"Tapi aku masih mempertimbangkan itu kok." Ucap Felix.


"Kenapa masih dipertimbangkan lagi? Kamu harus menentukan itu secepat mungkin. Karena waktu kamu gak banyak, Fel! Kuliah di luar negeri juga membutuhkan tes kelayakan." Jelas Ala.


"Yah, kalau gak diterima tinggal cari Universitas dalam negeri aja kan? Ha ha ha.." Felix mencoba tertawa untuk memecah suasana walau terdengar garing.


"Kamu jangan menganggap enteng. Ini perihal masa depan, jangan main-main! Kalau kamu emang kepengen kuliah di luar negeri, aku bisa kok bantu kamu." Suara Ala terlihat berapi-api untuk meyakinkan Felix.


Felix terdiam sejenak. Tangannya menyelipkan rambut Ala ke belakang telinga. "Ini bukan soal mudah atau nggak nya masuk Universitas ke luar negeri. Aku yang dulu mungkin gak akan ragu untuk segera menyiapkan diri, tapi kalau sekarang? Itu adalah hal yang berat."


Kening Ala mengernyit. "Apanya yang berat?"


Felix menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Hmm.. Udah jam setengah 7, aku berangkat sekolah dulu. Nanti kita bahas lagi soal itu."

__ADS_1


Batin Ala menahan tawa. Jika pasangan lain, lelakinya akan pamit untuk berangkat kerja. Tapi, suaminya pamit untuk berangkat ke sekolah. Ah, Ala tak tahu harus berekspresi seperti apa.


__ADS_2