Suamiku Bocah SMA

Suamiku Bocah SMA
Tamat


__ADS_3

Harapan Felix menjadi kenyataan saat dirinya sudah mengajukan formulir pendaftaran dan beberapa dokumen penting yang di perlukan melalui online dengan panduan guru privatnya. Selang 7 minggu setelahnya Felix mendapatkan Offer of admission letter ( Surat penawaran penerimaan). Betapa girangnya Felix saat menerima surat tersebut yang berarti dirinya di terima oleh Universitas of Toronto.


"Ciee yang lagi happy." Goda Ala saat melihat raut Felix yang sepanjang hari tersenyum dan ceria.


"Hehe, iya dong." Felix melangkahkan kakinya mendekati Ala. "Thanks ya, La. Ini semua berkat kamu.."


Senyum Ala terbit di bibirnya. "Kamu harusnya berterima kasih ke dirimu sendiri."


Felix meraih tubuh Ala dan memeluknya erat. Membenamkan wajahnya di leher Ala hingga membuat Ala terkekeh karena merasa geli. "Geli Fel.."


"Ssst, biarkan aku melakukannya sejenak. Karena cepat atau lambat, kita gak akan bisa leluasa lagi seperti ini." Ucapnya dengan lirih.


Ala menuruti perintah suaminya. Setelah dipikirkan lagi, beberapa bulan lagi dia akan kembali menjalani keseharian sendiri. Menjalani kehamilannya sendiri tanpa sang suami disisinya. Tapi sekali lagi Ala akan menenangkan kekhawatirannya sendiri, sebisa mungkin ia akan bersikap dewasa di depan Felix agar dia tak khawatir untuk melangkah lebih maju mengejar impiannya yang masih panjang untuk diraihnya.


Ala membalas pelukan Felix tak kalah eratnya. Dia menikmati setiap usapan yang di lakukan Felix di punggungnya yang perlahan turun meremas pantatnya.


Felix mendongakkan kepalanya dan berbisik di telinga Ala. "By the way.. ukuran pantat mu semakin hari semakin membesar ya." Celetuk Felix dengan senyum nakalnya.


Mata Ala terbelalak mendengar celetukan Felix yang terdengar senonoh di telinganya. Dia masih belum terbiasa dengan kata-kata vulgar yang sebelumnya begitu asing. Lalu dia melepas pelukannya dan menatap tajam ke arah Felix. "Dasar mesum!"


Tentu saja Felix terkekeh menatap ekspresi yang diberikan istrinya. "Ya kan suami istri, mesum mah gak apa-apa."


Ala mendecakkan lidahnya dan menyilang kan tangan di depan dada. "Kalau kamu ke Kanada nanti, apa kamu juga bakalan kayak gitu ke cewek lain?"


Felix mengendikkan kedua bahunya. "Entah."


Dengan kesal Ala berbalik ingin meninggalkan Felix, namun tubuhnya diraih oleh Felix dan memeluknya dari belakang. "Becanda doang.. kenapa gampang ngambek, sih? Cemburu ya?"


"Udah tahu cemburu, kenapa masih tanya?"


"Kalau kamu cemburuan gini, kenapa kamu malah dukung aku sekolah ke Kanada? Dan gak bujuk aku sekolah di deket sini aja?"


Ala menggelengkan kepalanya. "Aku gak se egois itu, Fel. Masa depan kamu kan masih panjang, kamu harus meraih apa yang memang kamu impikan. Jangan hanya karena sudah menikah kamu jadi memilih untuk memendam mimpi."


Mata Felix berbinar. "Aku bersyukur deh punya istri tua kayak kamu.. eh maksudnya istri yang dewasa kayak kamu."


Ala mencubit tangan Felix yang masih melingkar di perutnya dengan keras hingga membuat Felix meringis kesakitan dan melepaskan pelukannya.


"Yah, aku pun juga bersyukur punya suami bocah kayak kamu. Usil dan tengil."


"Tapi ganteng kan?"

__ADS_1


"Idih narsis!"


Setelah itu mereka berdua tertawa lepas hanya dengan candaan kecil. Mereka menikmati saat-saat hal kecil yang mungkin akan mereka rindukan di kala jarak memisahkan kebersamaan mereka.


***


6 bulan kemudian.


Terlihat Felix sekeluarga tengah menunggu di bandara terminal 3 untuk mengantar kepergiaan Felix ke Kanada. Mereka rela, datang menemani Felix sampai ke bandara tengah malam mengingat jam keberangkatan Felix di jam 2 pagi.


"Papa mama bisa pulang dulu aja, biar Ala dan yang lain menemani Felix sampai berangkat nanti." Ucap Ala pada keluarganya.


"Gak apa-apa, sayang. Mama masih ingin menemani Felix sampai dia masuk ke gate nya." Jawab Fara masih dengan suara serak serta mata yang sembab karena air mata yang dari tadi tak henti-hentinya. Dia hanya merasa haru biru. Anak semata wayangnya kini benar-benar sudah beranjak dewasa. Sudah menikah dan bahkan melanjutkan kuliah di luar negeri adalah suatu kebanggaan tersendiri untuknya.


Ala hanya tersenyum dan membiarkan mereka menunggu. Selain mama dan papa mertuanya, terlihat ayah dan ibunya juga mengantar keberangkatan Felix sedang duduk di kursi tunggu. Dan di tak jauh dari tempat duduk mereka, terdapat Asoka dan Sera yang turut ikut mengantar Felix. Mereka berdua sesekali tertawa lepas sambil menatap layar handphone.


Tunggu! Sejak kapan mereka jadi begitu dekat?


Ala menyipitkan matanya menatap kedekatan mereka berdua dengan curiga. Namun sesaat kemudian dia melonggarkan kecurigaannya saat melihat wajah Asoka yang lebih sumringah dan lebih hidup di banding dulu.


Mengabaikan hubungan keduanya, dia menatap ke arah suaminya yang sedang berbincang hangat dengan kakeknya.


"Kakek harus janji ya.. setelah Felix selesai kuliah, kakek harus semakin sehat." Ucap Felix pada Heru.


Felix menatap Heru dengan perasaan penuh haru. "Makasih ya kek, Felix akan selalu ingat pesan kakek. Felix juga jadi merasa sangat senang karena mendapat perlakuan yang begitu baik di keluarga kakek."


Melihat sikap Heru, Felix menjadi teringat dengan Aryo yang kemarin juga sempat bertemu dengannya di rumah. Saling menyampaikan uneg-uneg sebelum mereka berpisah karena jarak dan kesibukan masing-masing. Sesuai impian Aryo, dirinya juga berhasil diterima di UI mengambil jurusan kedokteran gigi mengikuti profesi ayahnya saat ini.


"Jangan terlalu baik sama cewek, Fel. Inget pengalaman kemarin.. kalau terlalu baik sama cewek tuh yang ada malah bikin hidup lo kacau bin ribet!"


Pesan yang di sampaikan Aryo nyatanya tak kalah jauh yang di sampaikan oleh Asoka. Kakak iparnya itu terus mewanti-wanti dia agar tak selingkuh dengan bule mengingat jiwa mudanya yang masih menggelora.


"Awas aja kalau lo berani selingkuh, gue pastiin kepala sama badan lo udah gak bakalan nyatu lagi pas lo pulang!"


Ancaman dari Asoka sukses membuat sekujur badannya bergidik ngeri. Berbeda dengan sang istri yang justru tak mewanti-wanti berlebihan. Pesan Ala hanya ingin dirinya fokus belajar agar cepat menyelesaikan mata kuliahnya.


Hmm.. padahal gue cuma berangkat ke luar negeri buat belajar. Itupun sesekali gue bisa pulang. Tapi kenapa berasa kayak mau pergi perang?


Felix menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis.


"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri? Lagi bayangin apa?" Tanya Ala.

__ADS_1


"Gak apa-apa, lagi bayangin kamu mandi." Jawab Felix dengan senyum kudanya.


Satu pukulan ringan mendarat di punggung Felix membuatnya berpura-pura meringis kesakitan.


"Mesum banget sih tuh otak!"


Felix kembali terkekeh geli. Tentu ia akan merindukan hal sederhana seperti ini. Dengan gerakan cepat Felix meraih kepala Ala dan mengecup bibirnya yang dipoles lipstik merah muda.


Pipi Ala bersemu merah. "Fel.. Ini tempat umum. Malu.."


"Mereka gak akan memperhatikan kita kok."


Sekali lagi Felix meraih kepala Ala dan mencium bibir sang istri dengan lembut dan dalam.


Keluarga mereka yang melihat pemandangan manis yang tersaji di depan mereka pun hanya bisa tersenyum dan ikut bahagia.


Sedang dua sejoli yang sedari tadi asyik bercanda ria hanya bisa berdeham dan mengalihkan pemandangan yang membuat pipi mereka bersemu merah.


.


.


.


.


.


___________


.


.


.


Halo readers.. Saya sebagai author 'Suamiku bocah SMA' mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya pada kalian yang sudah meluangkan waktu untuk membaca karya saya yang masih jauhh dari kata sempurna.


Tanpa kalian, novel yang masih recehan ini tak ada apa-apa nya..


O iya.. Bagi yang tidak suka dengan endingnya, saya minta maaf yang sebesar-besarnya *Bungkuk 90 derajat*. Karena ini adalah novel pertama saya, jadi dari awal saya sudah berniat membuat cerita ini dengan konflik yang ringan dan bab yang tidak panjang.

__ADS_1


Untuk kedepannya, saya pastikan untuk membuat cerita yang lebih menarik dan lebih tersusun lagi kerangka ceritanya. Jadi, nantikan karya selanjutnya yah..


Sekali lagi, terima kasih dan minta maaf untuk kalian semua para pembaca 😊😍


__ADS_2