
Tangan kiri Felix masih sibuk memegang gawai nya, sedang tangan kanannya ia gunakan untuk memegang milk ice cream yang baru saja ia beli di minimarket terdekat.
Mood nya sedang tidak baik karena ketika bangun di siang hari tadi, ia mendapati Ala bepergian sendiri tanpanya. Meninggalnya sendiri di hotel dengan sarapan pagi yang sudah dingin di meja.
Apalagi hari sebentar lagi akan terlihat gelap, namun batang hidung Ala tak juga nampak di pandangannya. Sengaja ia tak membalas segala pesan yang dikirim oleh Ala, tak juga menanyakan kabar atau ia sedang berada di mana.
Saat tangannya masih sibuk scroll sosial medianya, pop up pesan dari Ala muncul. Segera ia membuka pesan tersebut. Betapa kagetnya ia melihat foto Ala dengan minuman botol berwarna hijau tua, ia sangat hapal benda apa yang di beli oleh Ala itu. Itu adalah soju, minuman beralkohol khas Korea dari fermentasi beras dengan kadar alkohol yang cukup tinggi.
"Kamu ada di minimarket mana?" Akhirnya Felix membalas pesan Ala. Ia khawatir jika Ala tak tahu minuman tersebut dan akhirnya mabuk di tengah jalan, ia yakin jika Ala belum pernah meminum minuman alkohol sebelumya.
Satu menit, dua menit, tiga menit. Felix memeriksa lagi aplikasi chat nya, namun pesannya masih belum terbaca. Akhirnya dengan enggan ia memutuskan keluar hotel mencari Ala dengan harapan ia berada di minimarket yang dekat dengan hotel.
Hari sudah senja, udara di Jeju semakin dingin karena memang sudah memasuki musim gugur. Ketika sudah sampai di luar, Felix merapatkan kembali bomber jacket nya dan sedikit berlari agar cepat menemukan Ala.
Tujuan Felix adalah minimarket yang baru saja ia kunjungi ketika membeli es krim, pandangannya menyipit ketika sudah sampai di seberang minimarket. Tatapannya tertuju pada seorang gadis yang tak terlihat wajahnya karena kepala yang di tempelkan di atas meja, hanya terlihat rambut panjang yang tergerai, namun Felix yakin kalau itu adalah Ala. Segera ia menghampiri dan berteriak, "Ala!".
__ADS_1
Ala tak menjawab, Felix melihat wajah Ala yang seperti tertidur, ia yakin kalau istrinya itu sudah mabuk. Ketika ia akan meraih bahu Ala, seorang pramuniaga minimarket datang menanyainya dengan bahasa korea.
"Nuguseyo? dangsin-eun geunyeoleul algo?" Tanya Pramuniaga itu.
Mulut Felix hanya melongo mendengarnya, hanya sedikit kata dari bahasa Korea yang ia ketahui. "Sorry, can you speak english?" Tanya Felix.
"Ah, emm. You.. Know.. Her?" Pramuniaga tersebut bertanya dengan terbata-bata karena tidak lancar berbahasa Inggris.
"Oh, yes. She is my wife, wait! I can proof it!" Felix memberikan bukti berupa foto saat dirinya menikah dengan Ala yang terpampang di handphone nya.
"La! Ala!" Felix mengguncang bahu Ala.
Sedetik kemudian Ala bangun dan menunjukkan wajah mabuknya. "Eh! Ada orang ganteng!" Ala tersenyum seperti orang gila dan menunjuk Felix dengan jari telunjuknya.
Felix menepuk jidatnya yang mulus. "Tuh kan! Kamu udah mabuk! Ayo kita pulang!" Tangan Felix meraih tangan Ala untuk menyeretnya pulang namun segera di tepis oleh Ala.
__ADS_1
"Gak mau! Ih, lepasin!" Pekik Ala.
Beberapa orang yang lewat sesekali menengok ke arah mereka berdua, membuat Felix menunduk malu dan merapatkan topi yang ia kenakan. "Duh gak usah rewel! Ayo pulang, La!" Desak Felix.
Tangan Ala terus berusaha menepis tangan Felix, dengan cepat Felix menggendong Ala seperti menggendong karung beras.
"Aaakk! Turunin aku!!" Teriak Ala sambil memukul punggung Felix.
Felix sudah mengubur dalam rasa malunya, bahkan beberapa orang sempat berhenti dan menanyainya sehingga ia bertambah kesal karena terus menjawab pertanyaan mereka.
Dengan pelan Felix menurunkan Ala yang sedari tadi meronta meminta untuk diturunkan. "Gila! Badanmu kecil tapi tenaga mu gede juga ya!" Keluh Felix sambil mengatur napasnya yang terengah-engah.
"Hahaha!" Ala yang mabuk tertawa terbahak-bahak. "Felix!! lucu banget sih kamu!!" Tangan Ala meraih pipi Felix dengan kedua tangannya.
Lalu ia dengan santai mengecup bibir Felix, membuat telinga Felix memerah karena malu.
__ADS_1