
Kali ini tujuan Asoka menuju ke rumah sakit. Membuka hape dan mencari jalan melalui maps.
Dalam benak Asoka, sejujurnya jika Sera sakit karena terlalu stres memikirkan berita yang sudah tersebar. Asoka akan merasa biasa saja, bagaimanapun apa yang sedang dialami Sera tak sebanding dengan apa yang sudah dialami Ala akibat ulahnya.
Kerugian besar perusahaan, sakitnya Heru, dan kesusahan yang dialami Ala ketika berita merebak.
Tapi Sera? Wajah pun tak ditampakkan di kamera, hanya wajah Asoka saja yang muncul di laman berita.
"Gitu aja udah tumbang!" Gumam Asoka.
Ketika sudah terlihat bangunan megah rumah sakit dari kejauhan, Asoka semakin melajukan mobilnya.
Setelah Asoka memastikan kembali nama Sera yang memang terdaftar di rumah sakit sebagai pasien di lobby rumah sakit. Dia bergegas menuju ke lantai 17 ruang anggrek, seperti apa yang sudah disampaikan oleh satpam rumah.
Dengan pelan Asoka membuka pintu ruangan ketika sudah sampai. Terlihat di matanya Sera tengah terbaring lemah dengan kedua mata masih menutup rapat. Wajah dan bibirnya pun begitu pucat.
Tangan kanannya terpasang infus dan tangan satunya dibalut oleh perban yang tebal.
"Asoka.. Ternyata benar apa yang dikatakan Rudi?" Sarah muncul dari balik pintu kamar mandi yang terletak di pojok ruangan.
"I-iya, Tante." Tangannya menggaruk tengkuk yang sebenarnya tidak gatal.
"Ada apa kamu mencari Sera? Setahu tante, permasalahan yang kemarin kan sudah selesai?" Tanya Sarah.
"Saya kesini hanya ingin menjenguk Sera, Tante. Sebenarnya ada hal mendesak yang ingin saya sampaikan padanya."
"Hal mendesak apa?"
__ADS_1
Asoka berpikir sejenak, apakah masalahnya dengan Sera harus ia ceritakan pada Sarah? Namun lambat laun Sarah juga pasti akan mengetahui berita yang menyangkut tentang putrinya.
"Emm, sebenarnya gini tante.."
"Sebentar, ayo duduk dulu." Sarah menyuruh Asoka untuk duduk di sofa. Lalu membuka kulkas kecil dan mengambil dua botol teh dingin beserta cemilan ringan.
"Minum dingin gak apa-apa kan?" Tanya Sarah kembali.
"Gak apa-apa, Tante. Terima kasih."
"Nah, silahkan dilanjutkan."
Asoka pun menceritakan hal yang sebenarnya terjadi, tentang berita skandal yang sedang hangat diperbincangkan. Tapi tak menceritakan tentang Heru yang ingin bertemu.
Sarah tercengang. Ia tak menyangka putrinya menyembunyikan masalah yang begitu serius darinya.
"Jadi karena itu.."
"Ah, ini.. sebenarnya Sera sakit karena sudah berhari-hari mengurung diri di dalam kamar. Gak mau makan dan minum, sampai akhirnya tante sama om membuka paksa pintu kamarnya.."
"..Terus tante terkejut karena Sera sudah tergeletak di lantai dengan tangan luka penuh darah. Dia sepertinya ingin membunuh dirinya sendiri dengan menyayat pergelangan tangannya. Untungnya sayatan itu gak terlalu dalam. Jadi dia masih bisa diselamatkan."
Bulir air mata menetes dari pelupuk mata Sarah, hatinya hancur jika mengingat kembali luka yang berada di pergelangan tangan Sera.
Asoka hanya mampu menenangkan Sarah dengan mengelus pelan lengan Sarah.
"Yang sabar, Tante." Asoka sendiri tak menyangka kalau Sera bisa melakukan hal senekat itu.
__ADS_1
Ah, dia memang selalu nekat sih. Asoka teringat ulah Sera yang kelewat nekat ketika menyebarkan berita pernikahan.
"Emm, tapi.. apa sebelumnya Sera pernah melakukan hal seperti itu sebelumnya?" Tanya Asoka penasaran. Dia merasa mungkin Sera pernah melakukan hal-hal nekat yang lainnya hingga ia tak ragu untuk menyayat pergelangan tangannya sendiri.
"Maksudnya?"
"Maksud saya apa mungkin sebelumnya Sera pernah menyakiti dirinya sendiri? Seperti sekarang?"
Pertanyaan Asoka membuat Sarah langsung tersadar. Dirinya kehilangan kebersamaan dengan Sera ketika Sera beranjak remaja.
Kedua tangannya saling meremas di depan dada dan bibirnya bergetar. Sarah semakin tergugu. Dia berpikir mungkin saja Sera pernah melakukan hal-hal seperti ini sebelumnya. Namun mungkin dia yang tidak mengetahuinya.
Meskipun Asoka mengerutkan keningnya, namun sebisa mungkin ia tahan untuk tidak bertanya. Ia akan membiarkan Sarah tenang terlebih dahulu.
Lalu Sarah teringat, mungkin ada sesuatu yang disembunyikan Sera dalam handphonenya.
Dia beranjak dari tempat duduknya, lalu segera menelepon pembantu rumah untuk membawa handphone Sera ke rumah sakit.
"Maaf Asoka, tante tiba-tiba merasa tertampar setelah mendengar pertanyaanmu. Dulu ketika Sera SMP, tante sedang sibuk-sibuknya bekerja hingga tiada waktu untuk membersamai Sera. Jadi tante ingin mencari tahu terlebih dahulu, mungkin saja selama waktu itu ada permasalahan yang disembunyikannya dari tante." Tukas Sarah panjang lebar.
Asoka mengangguk kepalanya mengerti. Dia jadi paham mengapa terkadang Sera bisa begitu obsesi terhadap Felix. Mungkin memang ada sesuatu yang terjadi. Dia harus bertanya pada Felix tentang masa lalu Sera.
"Emm, kalau begitu saya pamit dulu saja tante. Masih ada pekerjaan yang harus saya lakukan." Ucap Asoka.
"Baiklah, terima kasih ya sudah menjenguk Sera." Tangan Sarah meraih tangan Asoka dan menatapnya dengan wajah terharu.
"Iya, Tante. Saya gak ngelakuin apa-apa kok."
__ADS_1
Setelah berpamitan diri, Asoka segera mencari keberadaan Felix untuk mewawancarai nya. Kini dia mulai penasaran dengan segala hal tentang Sera, kakeknya terlanjur memintanya untuk bertemu berdua dengan Sera.
Jadi apapun itu akan ia lakukan semata-mata karena ingin memperbaiki hubungan Heru dengannya.