Suamiku Bocah SMA

Suamiku Bocah SMA
Episode 37


__ADS_3

Pagi yang cerah untuk kedua pasangan yang berbeda usia itu. Mereka memulai hari dengan jogging bersama memutari kompleks perumahan dengan mengenakan masker.


"Fel, udahan yuk!" Ucap Ala. Napasnya terengah-engah, sudah kelima kalinya mereka memutari kompleks.


"Bentar dong! Satu putaran lagi.."


"Daritadi kamu udah bilang satu putaran terus! Aku udah risih nih, badanku lengket kena keringet!" Protes Ala.


"Hmm, yaudah deh."


Felix sebenarnya enggan untuk berhenti karena tubuhnya sama sekali belum merasa lelah, baru kali ini ia merasa jogging pagi begitu menyenangkan.


Dia membuntuti Ala di belakangnya, sambil mengedarkan pandangan. Untungnya di kawasan kompleks ini tak begitu ramai orang yang keluar rumah.


Berita tentang mereka masih terus bermunculan, ia dan Ala sudah sepakat untuk tidak memberi klarifikasi atau apapun itu. Mereka yakin berita itu akan turun pamornya dan digantikan oleh berita viral yang lain.


Ditambah sebelum berangkat jogging, Ala mendapat kabar bahwa Heru sudah bersiap untuk pulang jam 9 pagi nanti. Sehingga membuat Ala lebih tenang untuk olahraga pagi.


Sampai di halaman rumah, Ala meregangkan otot-otot nya sebentar dan diikuti oleh Felix.


Jika Ala meregangkan tangannya, Felix juga mengikutinya. Jika Ala meregangkan kakinya, pun Felix ikut juga.


"Kamu cocok lho, kalau jadi instruktur senam." Celetuk Felix.


Ala hanya memutar bola matanya enggan menanggapi candaan Felix.


Felix mencebik mulutnya. "Kalau diajak ngobrol suami tuh di jawab dong!"

__ADS_1


"Kalau ngobrol tuh yang berbobot sedikit dong!" Balas Ala sambil berlalu meninggalkan Felix.


"Dasar nenek lampir!"


"Apa?!"


"Eh enggak! Itu ada nenek-nenek tadi lewat."


Ala kembali masuk rumah dan menuju ke dapurnya. Hari ini tidak ada pembantu yang bekerja, sengaja ia liburkan karena beberapa hari kemarin ia menginap di rumah orangtuanya.


Setelah mencuci tangannya di wastafel, dia membuka kulkas. Mengamati kulkasnya yang melompong hanya ada beberapa bahan makanan yang tersisa.


"Hmm, mau masak apa ya?" Gumam Ala.


"Emang kamu bisa masak?" Tanya Felix.


Ala mengeluarkan beberapa butir telur. Ia tampak berpikir beberapa menit, lalu ia sudah memutuskan untuk memasak scrumbled egg.


Empat butir telur ia pecahkan ke dalam mangkok besar dan di beri garam serta lada, sedikit ia menambahkan krimer sehat multifungsi.


Lalu ia menuangkan adonan ke dalam fry pan. Seharusnya dengan cepat Ala mengaduk adonan sebentar dan segera mematikan kompornya.


Namun karena ia tak berpengalaman memasak, ia lupa dan malah menjadikan telur tersebut seperti telur dadar yang hancur.


Ternyata praktek tidak semudah teorinya, beberapa kali ia mengamati pembantu yang sering membuatkan sarapan untuknya terlihat begitu mudah di matanya.


"Hahaha, apaan tuh! Kok hancur?" Tawa Felix yang berada di belakang Ala.

__ADS_1


"Ih, gak tau! Tadinya pengen buat scrambled egg malah jadi telur dadar!" Ucap Ala dengan nada kesal.


"Oh!! Scrambled egg? Harusnya tadi kamu yang cepet aduk adonannya pas di wajan. Kalau kelamaan ya jadi gini."


"Gak tahu! Udah gak mood!"


"Mulai deh ngambek lagi! Udah sana biar aku aja yang masak, kamu buatin kopi aja!"


"Emang bisa?"


"Bisa! Udah sana!" Felix mendorong pelan tubuh Ala agar menjauh dari kompor.


Dengan cepat dia membuatkan scrambled egg dan toast sekaligus, lalu membuka kulkas mengambil beberapa sosis lalu memasaknya. Menaruh semuanya di piring dan menatanya.


Sarapan sudah siap dan tersaji rapi di meja makan, begitupun kopi yang sudah di buatkan oleh Ala.


"Wah, ternyata kamu beneran bisa ya?"


Felix tersenyum bangga. "Iya dong! Dulu aku beberapa kali ikut pelatihan masak sewaktu SMP. Terus kadang-kadang latihan masak sendiri deh di rumah."


"Oh ya?"


Ala menyendok sarapan yang dibuat suaminya, saat mengunyah dan menelannya. Matanya berbinar, "Wah!! Enak, Fel.. Kamu bisa buka resto deh kalau masakan mu enak kayak gini."


"Haha, kamu persis kayak Aryo pas aku suruh nyobain masakan ku."


"Aryo? Siapa Aryo?"

__ADS_1


"Oh iya!! Aryo!!" Tiba-tiba Felix teringat pada Aryo yang dari kemarin terus-menerus menghubunginya dan belum ia tanggapi.


__ADS_2