
Apa-apaan ini?
Ini bukan sekedar prasangka saja. Namun, sebuah kenyataan yang telah menamparku. Jangan tanyakan lagi bagaimana rasanya?
Tubuhku rasanya telah porak poranda menjadi kepingan-Kepingan yang hancur lebur. Ya Tuhan! Aku benar-benar tidak sanggup.
Jadi benar? Suara itu, poto itu ...? Semua adalah benar.
Selama ini, aku masih terus berusaha menganggap semua yang aku pikirkan itu adalah suatu kesalahan. Menyuruh otakku agar berpikir bahwa semua ada prasangka tanpa bukti nyata.
Namun, pemandangan di hadapan ini tak bisa kuelakkan. Kenyataan jika Alina sedang menangis dalam pelukan Bang David. Nahasnya, lelaki itupun membalas pelukan tersebut.
Mereka berdua bagaikan sepasang kekasih yang tengah berbagi kesedihan. Hubungan yang kandas karena orang ketiga. Sialnya, orang itu tak lain adalah aku.
Mataku terasa panas, tapi air mata tak lagi mau keluar. Mungkin karena telah terlalu lelah menangis. Mungkin juga karena hati telah terlalu kecewa.
Aku sebagai istri bahkan tak mampu mengisi dalam hati suamiku sendiri. Tidakkah lelaki itu merasakan betapa aku sangat mencintainya? Sangat.
Ya ... dan, cinta ini pula yang telah menghancurkan segala rasa yang kupunya. Vl
Cinta ini pula yang telah menyiksaku dalam penjara bernama pernikahan.
Cinta ini pula yang telah merenggut harga diriku. Harga diri seorang istri yang mencintai suaminya, dan suaminya malah mencintai wanita lain.
Aku bagaikan seonggok daging uang tak berharga. Seolah tak memiliki hati yang bertakhta perasaan dalam dada.
Lantas, semua ini menjadi salahku. Salahku yang telah mencintainya sebesar ini. Salahku yang telah bahagia saat dia melamarku.
Aku memukul dada yang terasa sesak. Di dalam sini seolah terhimpit batu yang sangat besar. Sakit sekali ....
Buru-buru aku berbalik, kembali ke ranjang. Aku hanya ingin merebahkan diri. Kubiarkan pintu kamar terbuka. Tak sanggup rasanya untuk menutupnya kembali.
Setelah sampai ranjang, aku segera berbaring. Menghadap dinding. Ingin memejamkan mata, tapi tak juga mampu terpejam.
Menghela napas panjang, mencoba mengurai sesak yang semakin merajai dada.
Ya Tuhan! Tolong, jangan sekarang. Kasihan ibu.
Lagi ... aku memukuli dada, berharap sesak itu bisa berkurang. Nyatanya ... sakit ini begitu menyiksa.
"Aku sangat mencintai Abang ...."
"Seharusnya ... aku yang jadi istri Abang, bukan Kak Anna."
"Abang ... aku cinta Abang ...."
"Aku cinta Abang ...."
"Pernikahan kalian hanya sebuah kesalahan. Semua gara-gara ibu. Ibu telah salah paham."
"Ayo Bang, kita jelaskan semuanya sekarang."
__ADS_1
Cukup. Ku mohon!
Aku menutup kepala dengan wajah, berharap semua kata-kata yang Alina yang terngiang di telinga segera menghilang.
Apa salahku?
Apa salahku?
Kenapa cintaku sebesar ini?
Kenapa aku harus terjebak dalam semua ini?
"Pernikahan ini hanya sebuah kesalahan." Suara bang David enam bulan lalu kembali terngiang di telinga.
Kepalaku rasanya sakit sekali. Aku tidak bisa menahan rasa sakit ini.
"Aarrrrggghhh!!!"
Aku menjerit di balik bantal, sekuatnya.
"Anna ... Anna ... apa yang terjadi?" Suara ibu terdengar panik. Tangannya menggoyang-goyang tubuhku.
Menarik bantal yang membenamkan kepalaku dengan sekuat tenaga.
"Anna ... kenapa begini, Nak?" Ibu menangis. Membangunkanku agar duduk. Tangan lembutnya merapikan rambut yang berantakan, kemudian mengelus wajahku.
Aku masih memejamkan mata, air mata sialan ini terus mengalir tanpa bisa kutahan.
Ibu mengusap air mataku dengan lembut. Sayangnya, perlakuan ibu malah semakin membuatku rapuh.
Aku menangis sesunggukan. Lalu, ibu membenamkan kepala dalam rengkuhannya. Mengalirkan rasa hangat yang semakin membuatku menangis.
"Ibu, Anna kenapa?" Pertanyaan bang David semakin memperparah keadaan hatiku.
Tolong, pergilah Bang ... aku sedang tak ingin melihatmu.
Langkah kakinya terdengar mendekat. Kemudian kurasakan ranjang bergoyang, dia duduk di tepi ranjang.
Tangannya mengelus kepalaku.
"Biar saya saja, Bu ...." pintanya pelan pada Ibu.
Ibu mengangguk. Kemudian melepaskan rengkuhannya. Namun, aku semakin mempererat pelukanku seiring tangan ibu yang mulai memberi jarak pada tubuhku.
Aku menggeleng keras. Air mataku ini terus mengalir deras.
"Enggak, Bu ... tolong ... jangan ...." Aku meminta padanya seperti anak kecil.
"Anna, ada apa?" Bang David bertanya dengan nada yang sangat lembut.
"Bu, jangan ... Bu ... tolong ... Bu ...." Aku tak menghiraukan lelaki itu. Aku semakin mempererat pelukan pada ibu di pinggangnya. Menggeleng sekuat yang aku bisa.
__ADS_1
"Bu, tolong suruh keluar orang ini, Bu ... tolong. Aku enggak kuat ... Bu ... tolong ...."
"Anna ...."
"Anna ...."
Suara ibu dan bang David hampir bersamaan memanggil namaku. Demi apapun juga. Aku sedang tak ingin melihatnya.
Selanjutnya, terdengar suara langkah kaki mendekat. Aku yakin itu Alina.
"Bu tolong, aku ingin istirahat. Suruh mereka berdua keluar ... Bu ...."
"Kakak ...." Alina menghambur memeluk ibu. Tangannya meraih mengelus kepalaku.
"Ibu, Kakak ... kenapa Bu ...? Apa yang terjadi?" Alina menangis.
"Tolong ... Bu ... suruh mereka keluar. Aku mau istirahat."
"Nak David, Alina ... kalian keluar dulu ya. Biarkan Anna istirahat. Nanti kalau ada apa-apa, ibu akan segera mengabari kalian."
"Tapi Bu ..." Ali mencoba untuk menolak.
"Keluarlah dulu." Suara ibu dingin.
Terdengar helaan napas berat dari bang David. Lelaki itu tidak lagi bersuara, kemudian keluar disusul Alina yang ikut keluar.
"Sekarang istirahatlah ... mereka telah keluar. Hanya kita berdua dalam kamar ini." Aku membenarkan posisi tidur.
Ibu menyelimuti tubuhku lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya terus membelai kepalaku. Sedangkan aku membenamkan kepala pada bagian tubuh ibu yang bisa ku raih. Mencari posisi ternyaman untukku istirahat.
Kenyataan yang baru kusadari benar-benar telah membuat segalanya menjadi kacau.
Akhirnya, aku bisa memejamkan mata. Entah berapa lama aku terlelap.
Saat terbangun, tampak bang David tidur di sofa dalam keadaan duduk.
Mataku fokus memperhatikan lelaki itu. Kepalanya bersandar pada dinding, kakinya lurus di dengan tangan bersedekap di dada.
Aku melihat sekeliling, kemana ibu dan Alina. Lalu, mataku kembali terpaku pada tubuh tinggi di sofa itu.
Memperhatikannya tanpa kedip. Kemudian berandai-andai, kalau saja lelaki itu mencintaiku. Mungkin pernikahan kami akan sangat bahagia. Tidak akan ada yang tersakiti, tidak akan ada sandiwara dan tidak akan ada penyesalan.
Semua pasti akan bahagia. Rasa yang entah kapan akan tercipta dalam dada.
Mata itu akhirnya terbuka, hingga kami saling berpandangan lama.
Namun, di detik berikutnya. Lelaki itu telah berdiri di hadapanku. Menangkup kedua pipiku, dan ... kurasakan kelembutan yang memabukkan di sana.
Napasku memburu dengan degup jantung yang berdentam hebat.
Untuk pertama kalinya lelaki itu menciumku
__ADS_1